Tank Leopard tak sesuai tantangan

Selasa, 24 Januari 2012 - 08:47 WIB
Tank Leopard tak sesuai...
Tank Leopard tak sesuai tantangan
A A A
Sindonews.com – Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menilai pembelian Tank Leopard yang direncanakan pemerintah tidak sejalan dengan program pembangunan industri tank dalam negeri.

Sebaliknya, pemerintah disarankan untuk lebih memerhatikan kondisi pertahanan di laut yang selama ini kerap terjadi pelanggaran oleh negara lain. Wakil Ketua Komisi I DPR Tubagus Hasanuddin menuturkan, berdasarkan informasi intelijen disebutkan bahwa dalam waktu 10-15 tahun Indonesia tidak akan menghadapi agresi militer.

”Ancaman paling mungkin itu ketegangan di perbatasan dan penyelundupan di laut,” tuturnya kemarin.

Sekalipun diprediksi ada ketegangan di perbatasan, dia menilai dalam jangka pendek ini TNI Angkatan Darat cukup ditingkatkan kekuatannya di perbatasan. ”Bukan dengan tank,tapi patroli seperti menggunakan Anoa (Panser 6x6 produksi PT Pindad),”ujarnya.

Meski demikian, dia sependapat bahwa perlu ada penguatan alutsista di TNI AD, seperti penambahan tank. Namun, hal itu tidak mendesak untuk dilakukan sekarang, apalagi dengan membeli heavy tank jenis Leopard bekas dari Belanda yang dianggap sudah tidak sesuai dengan teori dalam perang modern.

Menurut dia, alasan Belanda hendak menjual tank tersebut tidak semata-mata krisis keuangan yang melanda Eropa.

”Belanda sendiri sudah memandang tidak efektif menggunakan tank bongsor (Leopard), di samping alasan keuangan karena biaya pemeliharaannya berat. Bahkan pabriknya Leopard sendiri sekarang lebih mengembangkan tank medium, bukan heavy tank lagi. Teori baru itu bukan lagi senjata yang besar, tapi bagaimana peluru bisa menembus tank segede apa pun,” ungkapnya.

Anggota Komisi I DPR dari Fraksi PKS,Al Muzzamil Yusuf memperkuat argumen tersebut.
Menurut Muzzamil,DPR tidak mempersoalkan penguatan alutsista TNI asalkan pembelian itu sesuai dengan rencana strategis Kemhan dan visi kemandirian teknologi domestik, terutama industri strategis.

”Sehingga ke depan tidak lagi konsumen yang tergantung dengan pihak luar,tapi menjadi produsen alutsista yang mandiri,” ujarnya.

Kalaupun harus impor, lanjutnya, harus dipastikan adanya kesepakatan transfer teknologi dari negara penjual. Selain itu, jaminan keleluasaan dalam pemakaian serta ketersediaan suku cadang juga harus ada.

”Broker pengadaan alutsista dari luar negeri harus diputus karena mereka menyebabkan anggaran menjadi besar dan berpeluang terjadinya tindak pidana korupsi,” tuturnya.

Muzzamil menilai tidak relevan alasan Kemhan dan TNI AD bahwa pembelian Leopard, karena menyesuaikan dengan negara-negara lain yang juga memakai tank tempur utama.

”Saya khawatir kita terjebak dengan gengsi bukan karena alasan riil dan kajian ilmiah yang matang. Pemerintah harus memahami kebutuhan medan tempur Indonesia,” sebutnya.

Sementara itu, pihak Kemhan mengungkapkan telah menyiapkan sejumlah alternatif lain untuk pembelian tank tempur utama (MBT) apabila rencana mendatangkan Leopard 2A6 dari Belanda kandas. Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pertahanan Brigjen TNI Hartind Asrin menuturkan, yang dibutuhkan TNI Angkatan Darat (user) adalah MBT dan usulan yang disampaikan user adalah jenis Leopard.

Tetapi jika usulan itu terpaksa gagal dipenuhi karena tak mendapat persetujuan parlemen kedua negara, maka besar kemungkinan dialihkan ke MBT jenis lain.
()
Berita Terkini
Kejagung Lelang 90 Unit...
Kejagung Lelang 90 Unit Apartemen di Jaksel Milik Terpidana Benny Tjokro
Perkuat Kolaborasi,...
Perkuat Kolaborasi, Google Siap Dukung Revisi UU Hak Cipta
Gus Yaqut Segera Disidang...
Gus Yaqut Segera Disidang terkait Kasus Korupsi Kuota Haji
Kritik Baru terhadap...
Kritik Baru terhadap Putusan Arbitrase Laut China Selatan: Perspektif Realisme
Penyidik Polri Datangi...
Penyidik Polri Datangi Gedung Pidsus Kejagung, Bawa Koper Besar
DPR Targetkan RUU Perampasan...
DPR Targetkan RUU Perampasan Aset Rampung Dibahas dan Disahkan Tahun Ini
Infografis
Kapuspen TNI Tegaskan...
Kapuspen TNI Tegaskan Tak Ada Personel Datangi Polda Metro Jaya
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved