Video Bima versi polisi & Komnas HAM disoal
Kamis, 05 Januari 2012 - 14:08 WIB
Video Bima versi polisi & Komnas HAM disoal
A
A
A
Sindonews.com - Video kerusuhan versi polisi dan Komisi Nasional Hak Azasi Manusia (Komnas HAM) yang terjadi di Pelabuhan Sape, Bima, Nusa Tenggara Berat (NTB) diperdebatkan. Pasalnya, video masing-masing pihak saling bertolak belakang dan memiliki sudut pandang yang berbeda.
Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Djoko Suyanto mengatakan, masing-masing rekaman video memiliki keakuratan masing-masing. Sebab, video diambil saat terjadi bentrok yang menewaskan tiga orang dan ada wawancara dengan sejumlah korban dan saksi.
"Video dari kepolisian juga ada, video dari temen-temen Komnas HAM di lapangan juga ada. Pokoknya keduanya akan bertemu," ujarnya di HUT ke-5 Bakorkam, Gedung Graha Marinir, Kwitang, Jakarta Pusat, Kamis (5/1/2012).
Untuk itu, pihaknya akan mempertemukan kedua pihak untuk membicarakan kebenaran dalam video tersebut. "Kita sinkronkan antara video milik polisi dan Komnas HAM. Kita cari solusi yang terbaik," tambahnya.
Joko berharap, dalam pertemuan itu dapat diketahui pihak mana yang lebih dahulu melakukan serangan dan memulai terjadinya bentrok berdarah. Berdasarkan data Komnas HAM, sebanyak 30 orang lebih mengalami luka tembak, tiga dia ntaranya tewas tertembus peluru tajam, sembilan orang menjadi korban kekerasan, dan 10 orang berasal dari anak-anak.
Wakil Ketua Komnas HAM yang juga ketua tim penyidik kasus kerusuhan Bima, Ridha Saleh mengatakan, berdasarkan hasil investigasi di beberapa titik pemantauan dan penyelidikan, ditemukan pelanggaran HAM berat oleh petugas kepolisian saat membubarkan aksi warga.
"Sudah ada 30 korban luka tembak, 9 korban kekerasan, serta 10 korban anak-anak. Itu data yang kami dapatkan dari rumah-rumah warga dan juga rumah sakit. Tapi itu belum termasuk yang di dalam penjara, karena kami dibatasi oleh pihak kepolisian untuk meminta data," terangnya. (san)
Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Djoko Suyanto mengatakan, masing-masing rekaman video memiliki keakuratan masing-masing. Sebab, video diambil saat terjadi bentrok yang menewaskan tiga orang dan ada wawancara dengan sejumlah korban dan saksi.
"Video dari kepolisian juga ada, video dari temen-temen Komnas HAM di lapangan juga ada. Pokoknya keduanya akan bertemu," ujarnya di HUT ke-5 Bakorkam, Gedung Graha Marinir, Kwitang, Jakarta Pusat, Kamis (5/1/2012).
Untuk itu, pihaknya akan mempertemukan kedua pihak untuk membicarakan kebenaran dalam video tersebut. "Kita sinkronkan antara video milik polisi dan Komnas HAM. Kita cari solusi yang terbaik," tambahnya.
Joko berharap, dalam pertemuan itu dapat diketahui pihak mana yang lebih dahulu melakukan serangan dan memulai terjadinya bentrok berdarah. Berdasarkan data Komnas HAM, sebanyak 30 orang lebih mengalami luka tembak, tiga dia ntaranya tewas tertembus peluru tajam, sembilan orang menjadi korban kekerasan, dan 10 orang berasal dari anak-anak.
Wakil Ketua Komnas HAM yang juga ketua tim penyidik kasus kerusuhan Bima, Ridha Saleh mengatakan, berdasarkan hasil investigasi di beberapa titik pemantauan dan penyelidikan, ditemukan pelanggaran HAM berat oleh petugas kepolisian saat membubarkan aksi warga.
"Sudah ada 30 korban luka tembak, 9 korban kekerasan, serta 10 korban anak-anak. Itu data yang kami dapatkan dari rumah-rumah warga dan juga rumah sakit. Tapi itu belum termasuk yang di dalam penjara, karena kami dibatasi oleh pihak kepolisian untuk meminta data," terangnya. (san)
()