Kasus Mesuji, Bima, Aceh, bagian skenario besar

Selasa, 03 Januari 2012 - 10:51 WIB
Kasus Mesuji, Bima,...
Kasus Mesuji, Bima, Aceh, bagian skenario besar
A A A
Sindonews.com - Kasus Mesuji, Bima, dan yang terbaru penembakan warga sipil di Aceh diduga merupakan bagian dari skenario besar. Jika keadaan ini dibiarkan, para aktor intelektualnya makin leluasa menjalankan misi dan akan terus meluas.

Tim Monitoring Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan Kontras (kontras) Aceh, Ahmad Iqbal kepada Sindonews Selasa (3/1/2012) mengakui dugaan tersebut.

Dia mengatakan, aksi kekerasan itu memang bukan semata-mata bercorak kriminal murni. Serangkaian insiden kekerasan yang terjadi dalam dua hari ini memiliki pola yang sama.

"Terutama jika dilihat dari korban tindak kekerasan yang berasal dari etnis tertentu, bisa diasumsikan pelaku ingin menebar ketakutan secara khusus pada etnis tersebut sekaligus memicu bangkitnya kebencian antar etnis," kata Ahmad.

Bahkan menurutnya, sejumlah lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) seperti Kontras Aceh, LBH Banda Aceh, Koalisi NGO HAM Aceh dan Gerakan Anti Korupsi (Gerak) Aceh, telah mendesak polisi untuk segera mengusut dan menangkap para pelaku penembakan.

Ahmad mengatakan, jika polisi gagal mengungkap dengan tidak mau memberi tahu dalang aksi penembakan itu, maka aksi kekerasan bersenjata berikutnya akan terjadi dan sangat mengancam keamanan di Indonesia.

"Jika skenario ini berhasil diwujudkan oleh pelaku maka tidak hanya di Aceh yang terganggu, tapi keamanan nasional juga terancam, dan meluas," ucapnya.

Menurutnya situasi politik dan keamanan Indonesia berada dalam situasi yang genting. Sejauh ini Pemerintah masih lamban menyelesaikan kasus-kasus kekerasan seperti Mesuji, Bima dan yang terbaru di Aceh.

"Tiga runtutan kejadian besar tersebut, membuat pemerintahan kehilangan konsentrasi, karena semua kekuatan politik masih bergerak untuk kepentingan masing-masing," ungkap Ahmad.

Pada situasi ini pelaku kekerasan bersenjata tentu semakin leluasa menjalankan misinya dan dikhawatirkan akan terus meluas. Kekerasan yang meluas dan sistemik tidak semata-mata dapat dilawan dengan penegakan hukum.

"Kekerasan semacam itu, harus direspons secara komprehensif dalam kerangka resolusi konflik yang membutuhkan konsentrasi semua pihak, baik pemerintah pusat dan daerah maupun rakyat," ujarnya. (wbs)
()
Berita Terkini
Rapat Satgas PKH di...
Rapat Satgas PKH di Kemenhan, Panglima TNI hingga Jaksa Agung Hadir, Kapolri Tak Terlihat
Gus Lilur: Rekonsiliasi...
Gus Lilur: Rekonsiliasi Nasional Harus Diawali Kebenaran dan Penegakan Hukum
Sidang Praperadilan...
Sidang Praperadilan ke-2 Hari Ini, Roy Suryo Siap Dengarkan Jawaban Polda Metro Jaya
Eks Jampidsus Febrie...
Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Tersangka, Gerindra Dorong Evaluasi Total Sistem Pengawas Internal Kejaksaan
Ungkap Asal Usul Ide...
Ungkap Asal Usul Ide KDMP, Prabowo: Agar Rakyat Tak Terjerat Lintah Darat
Sahroni: Komisi III...
Sahroni: Komisi III Awasi Langsung Penggeledahan Kasus Febrie sebagai Bentuk Transparansi Hukum
Infografis
Jadwal Babak 32 Besar...
Jadwal Babak 32 Besar Piala Dunia 2026, Argentina Ditantang Cape Verde
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved