Mahfud tak punya modal untuk nyapres
Jum'at, 30 Desember 2011 - 15:21 WIB
Mahfud tak punya modal untuk nyapres
A
A
A
Sindonews.com - Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD disebut-sebut sebagai calon presiden dari PPP. Meskipun pencapresan Mafud dinilai sebagai upaya PPP meningkatkan popularitas partai, namun nama Mafud terus mengerucut.
Ketua Bidang Komunikasi DPP PPP Arwani Thomafi, mengakui Mahfud terpilih sebagai capres yang diunggulkan PPP di luar kader partai. Tawaran untuk dicalonkan itu sendiri sudah disampaikan PPP kepada Mafud. Namun oleh pria asal Sampang Madura itu, belum dijawab.
"Saya belum jawab ya atau tidak," kata Mahfud ketika dihubungi Sindonews, Jumat (30/12/2011).
Belum ada kepastian jawaban dari dirinya, karena ada beberapa alasan. Pertama, Mahfud merasa tak punya modal, baik modal politik maupun modal materiil untuk pencapresan. Selain dua hal itu, ada yang lebih penting lagi. Kata pria 54 tahun itu, saat ini dirinya masih menjabat sebagai hakim yang dilarang masuk dunia politik praktis.
"Alasan berikutnya, yang diumumkan oleh PPP maupun parpol-parpol lain itu kan masih berupa simulasi awal. Maka dari itu jawaban pasti dari saya ya nanti-nanti saja, tepatnya setelah saya berhenti jadi MK yaitu 2013," kata Mafud.
Mafud mengaku tak takut dirinya kehilangan momentum baik itu. Karena memang dirinya tak pernah mencari momentum ataupun menjaga momentum untuk pencapresan.
Semua yang menyangkut dirinya, menurut mantan menkumham masa pemerintahan Megawati dan menhan zaman Gusdus itu dibiarkan seperti air mengalir dan berjalan secara ada adanya.
Lebih lanjut dikatakan Mahfud, pencapresan kepada tokoh siapapun adalah sah. Jadi, tak boleh ada pihak manapun melarang parpol memunculkan nama-nama orang yang akan dicalonkan. Semua nama bisa dikerucutkan pada pemilu 2014.
"Semakin banyak alternatif yang bisa dipilih, semakin banyak nama semakin bagus bagi perkembangan dunia politik kita," kata Mahfud.
Pada prinsipnya, pencapresan itu membuat Mahfud merasa terhormat. "Saya merasa terhormat teman-teman menyebut saya sebagai salah seorang yang masuk dalam radar PPP untuk capres atau cawapres," kata Mafud.
Meski dirinya di luar partai, namun Mahfud cukup dekat. Menjelang reformasi 1998 lalu dia pernah gabung dalam tim ahli GBHN dari PPP. (lin)
Ketua Bidang Komunikasi DPP PPP Arwani Thomafi, mengakui Mahfud terpilih sebagai capres yang diunggulkan PPP di luar kader partai. Tawaran untuk dicalonkan itu sendiri sudah disampaikan PPP kepada Mafud. Namun oleh pria asal Sampang Madura itu, belum dijawab.
"Saya belum jawab ya atau tidak," kata Mahfud ketika dihubungi Sindonews, Jumat (30/12/2011).
Belum ada kepastian jawaban dari dirinya, karena ada beberapa alasan. Pertama, Mahfud merasa tak punya modal, baik modal politik maupun modal materiil untuk pencapresan. Selain dua hal itu, ada yang lebih penting lagi. Kata pria 54 tahun itu, saat ini dirinya masih menjabat sebagai hakim yang dilarang masuk dunia politik praktis.
"Alasan berikutnya, yang diumumkan oleh PPP maupun parpol-parpol lain itu kan masih berupa simulasi awal. Maka dari itu jawaban pasti dari saya ya nanti-nanti saja, tepatnya setelah saya berhenti jadi MK yaitu 2013," kata Mafud.
Mafud mengaku tak takut dirinya kehilangan momentum baik itu. Karena memang dirinya tak pernah mencari momentum ataupun menjaga momentum untuk pencapresan.
Semua yang menyangkut dirinya, menurut mantan menkumham masa pemerintahan Megawati dan menhan zaman Gusdus itu dibiarkan seperti air mengalir dan berjalan secara ada adanya.
Lebih lanjut dikatakan Mahfud, pencapresan kepada tokoh siapapun adalah sah. Jadi, tak boleh ada pihak manapun melarang parpol memunculkan nama-nama orang yang akan dicalonkan. Semua nama bisa dikerucutkan pada pemilu 2014.
"Semakin banyak alternatif yang bisa dipilih, semakin banyak nama semakin bagus bagi perkembangan dunia politik kita," kata Mahfud.
Pada prinsipnya, pencapresan itu membuat Mahfud merasa terhormat. "Saya merasa terhormat teman-teman menyebut saya sebagai salah seorang yang masuk dalam radar PPP untuk capres atau cawapres," kata Mafud.
Meski dirinya di luar partai, namun Mahfud cukup dekat. Menjelang reformasi 1998 lalu dia pernah gabung dalam tim ahli GBHN dari PPP. (lin)
()