Jokowi Pilih Berhati-hati Evakuasi WNI dari Kapal Pesiar Diamond Princes
Kamis, 27 Februari 2020 - 10:37 WIB
Jokowi Pilih Berhati-hati Evakuasi WNI dari Kapal Pesiar Diamond Princes
A
A
A
JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali menegaskan bahwa pemerintah berhati-hati dalam melakukan evakuasi terhadap warga negara Indonesia (WNI) yang berada di Kapal Pesiar Diamond Princess. Apalagi saat ini virus corona tidak lagi hanya di Wuhan, China, tapi juga telah menyebar ke negara lain seperti Korea, Iran, Jepang, Italia.
“Semuanya keputusan harus hati-hati. Tidak boleh tergesa-gesa. Kita memiliki 267 juta penduduk Indonesia yang juga harus dihitung dan dikalkulasi semuanya. Hati-hati. Saya selalu berpesan kepada menko, kepada menteri, hati-hati memutuskan. Hati-hati, berhitung dalam menyelesaikan ini. Tidak bisa kita didesak-desak. Tidak bisa kita tergesa-gesa. Endak. Harus tepat. Seperti di Natuna yang kemarin,” katanya di Jakarta Convention Center (JCC) kemarin.
Di sisi lain pemerintah juga masih melakukan negosiasi dengan Pemerintah Jepang mengenai hal ini. Terlebih lagi saat ini pemerintah masih melakukan evakuasi terhadap 188 WNI yang ada di kapal pesiar World Dream. Seperti diketahui pemerintah melakukan evakuasi terhadap WNI tersebut menggunakan Kapal Suharso.
"Ini juga masih negosiasi dengan Pemerintah Jepang. Ini saja (evakuasi WNI dari World Dream) belum sampai di Pulau Sebaru sehingga kalau sudah sampai ditata, kita menyiapkan yang ini lagi. Tidak semudah itu diplomasi dan negosiasi. Tidak segampang itu. Tapi kita akan secepatnya menyelesaikan ini," paparnya.
Jokowi mengaku sudah melakukan rapat beberapa kali untuk membahas proses evakuasi ini. Dia mengatakan bahwa memang pemerintah memutuskan untuk mengevakuasi WNI yang berada di World Dream terlebih dahulu.
"Kemudian diputuskan terlebih dahulu yang ada di World Dream. Jumlahnya lebih banyak, yaitu 188. Yang itu juga yang berada di dekat kita sehingga saya perintahkan untuk ini diselesaikan dulu. Segera dijemput pakai KRI Suharso," tuturnya.
Dia juga mengungkapkan dalam memilih lokasi observasi pemerintah mempertimbangkan beberapa hal. Mulai dari kapasitas hingga fasilitas. "Akhirnya diputuskan di Pulau Sebaru di Kepulauan Seribu karena kesiapannya lebih baik," ujarnya.
Mantan Gubernur DKI Jakarta itu menambahkan bahwa ada dua opsi dalam melakukan evakuasi WNI di Jepang, yakni menggunakan jalur laut atau udara. Di sisi lain lokasi untuk observasi juga belum diputuskan.
"Ada dua laut maupun pesawat. Ada risiko dan hitungan-hitungannya. Pulaunya di mana juga belum. Jangan dianggap mudah," sebutnya. (Dita Angga)
“Semuanya keputusan harus hati-hati. Tidak boleh tergesa-gesa. Kita memiliki 267 juta penduduk Indonesia yang juga harus dihitung dan dikalkulasi semuanya. Hati-hati. Saya selalu berpesan kepada menko, kepada menteri, hati-hati memutuskan. Hati-hati, berhitung dalam menyelesaikan ini. Tidak bisa kita didesak-desak. Tidak bisa kita tergesa-gesa. Endak. Harus tepat. Seperti di Natuna yang kemarin,” katanya di Jakarta Convention Center (JCC) kemarin.
Di sisi lain pemerintah juga masih melakukan negosiasi dengan Pemerintah Jepang mengenai hal ini. Terlebih lagi saat ini pemerintah masih melakukan evakuasi terhadap 188 WNI yang ada di kapal pesiar World Dream. Seperti diketahui pemerintah melakukan evakuasi terhadap WNI tersebut menggunakan Kapal Suharso.
"Ini juga masih negosiasi dengan Pemerintah Jepang. Ini saja (evakuasi WNI dari World Dream) belum sampai di Pulau Sebaru sehingga kalau sudah sampai ditata, kita menyiapkan yang ini lagi. Tidak semudah itu diplomasi dan negosiasi. Tidak segampang itu. Tapi kita akan secepatnya menyelesaikan ini," paparnya.
Jokowi mengaku sudah melakukan rapat beberapa kali untuk membahas proses evakuasi ini. Dia mengatakan bahwa memang pemerintah memutuskan untuk mengevakuasi WNI yang berada di World Dream terlebih dahulu.
"Kemudian diputuskan terlebih dahulu yang ada di World Dream. Jumlahnya lebih banyak, yaitu 188. Yang itu juga yang berada di dekat kita sehingga saya perintahkan untuk ini diselesaikan dulu. Segera dijemput pakai KRI Suharso," tuturnya.
Dia juga mengungkapkan dalam memilih lokasi observasi pemerintah mempertimbangkan beberapa hal. Mulai dari kapasitas hingga fasilitas. "Akhirnya diputuskan di Pulau Sebaru di Kepulauan Seribu karena kesiapannya lebih baik," ujarnya.
Mantan Gubernur DKI Jakarta itu menambahkan bahwa ada dua opsi dalam melakukan evakuasi WNI di Jepang, yakni menggunakan jalur laut atau udara. Di sisi lain lokasi untuk observasi juga belum diputuskan.
"Ada dua laut maupun pesawat. Ada risiko dan hitungan-hitungannya. Pulaunya di mana juga belum. Jangan dianggap mudah," sebutnya. (Dita Angga)
(ysw)