Pemerintah Evakuasi Ratusan WNI dari Kapal World Dream di Hong Kong

Selasa, 25 Februari 2020 - 04:39 WIB
Pemerintah Evakuasi...
Pemerintah Evakuasi Ratusan WNI dari Kapal World Dream di Hong Kong
A A A
JAKARTA - Pemerintah memutuskan segera melakukan evakuasi tahap kedua bagi warga negara Indonesia (WNI) terdampak virus korona Wuhan (Covid) 2019. Dalam evakuasi kali ini pemerintah akan mengevakuasi 188 WNI dari Kapal Pesiar World Dream yang berbasis di Hong Kong.

Rencananya mereka akan dijemput dengan Kapal Republik Indonesia (KRI) dr Soeharso 99 milik TNI Angkatan Laut (AL). Kapal ini merupakan kapal bantu rumah sakit yang dilengkapi dengan sejumlah fasilitas kesehatan seperti kamar rawat, kamar ICU, kamar operasi, hingga alat rontgen. Kapal dengan panjang 122 meter, lebar 22 meter, dan draf 4,9 meter tersebut juga dilengkapi helipad yang bisa menampung dua heli Super Puma.
“Sementara yang kita putuskan untuk mengevakuasi anak buah kapal dari World Dream. Kapal Soeharso sudah melaut. Nanti kemudian dipindahkan, tetapi Kapal Soeharso akan diobservasi sesuai dengan prosedur yang ditetapkan TNI AL,” kata Menteri Koordinator (Menko) Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Effendi seusai mengikuti rapat terbatas yang dipimpin Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta kemarin.

Muhadjir menjelaskan, para WNI tersebut akan menjalani observasi sesuai prosedur yang ditetapkan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO). Pemerintah telah memilih satu pulau tidak berpenghuni sebagai lokasi observasi. Pulau tersebut adalah Pulau Sebaru, Kepulauan Seribu.
“Lokasi sudah diterapkan dan disiapkan yaitu di kepulauan. Ada pulau yang tidak berpenghuni, di Sebaru. Pokoknya ada tempat yang kita anggap aman. Karena ada pulau yang tidak ada penghuninya, kita tinggal pakai saja,” jelasnya.

Dia mengatakan, pemerintah secara bertahap akan memikirkan opsi evakuasi bagi para WNI di luar negeri yang terdampak Covid 2019. Hanya, saat ini pemerintah fokus untuk memulangkan WNI dari Kapal Pesiar Dream World karena pertimbangan kedekatan lokasi penjemputan dan kepastian kondisi WNI.

Sedangkan WNI di Kapal Pesiar Diamond Princess masih menunggu kajian lebih lanjut karena saat ini mereka masih dalam observasi dari otoritas Pemerintah Jepang. “Nanti kita tangani satu persatu. Yang sekarang ini yang sudah mengapung-ngapung harus segera kita tangani dan selesaikan. Kalau sekarang, kan masih ada Pemerintah Jepang. Dan, sekarang masih negosiasi dengan Pemerintah Jepang. Bagaimana supaya warga negara di sana bisa ditangani,” jelasnya.

Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan Agus Putranto membeberkan alasan pemerintah melakukan evakuasi warga negara Indonesia (WNI) yang berada di Kapal Pesiar Dream World menggunakan kapal. Seperti diketahui, pemerintah memutuskan untuk mengevakuasi WNI tersebut dengan Kapal Soeharso. “Mudah-mudahan semuanya bisa melalui masa karantina dengan baik, dengan sehat, makanya kita gunakan kapal. Supaya ndak menimbulkan. Kalau ada sesuatu yang baru, tidak mengenai yang darat dulu,” katanya di lokasi yang sama.

Dia mengatakan, pemerintah mengambil langkah secara hati-hati sehingga tidak menimbulkan dampak buruk bagi keselamatan bangsa Indonesia. “Jadi, pertimbangan medis itu harus sangat dipertimbangkan dengan baik. Tidak boleh emosional. Harus satu demi satu, demi keselamatan seluruh bangsa dan negara karena kita masih dalam zona green zone,” ungkapnya.

Terawan mengakui keputusan untuk mengevakuasi WNI di Kapal Pesiar Dream World lebih dulu karena lokasi yang cukup dekat. Risikonya pun dinilai masih paling kecil. “Kita baru konsentrasi semua untuk yang World Dream karena itu yang sudah paling dekat. Kita atur supaya dia dapat sarana karantina yang baik. Dan, ini kan yang risikonya paling kecil. Selalu kita ambil yang risikonya paling kecil,” katanya.

Dia mengungkapkan, WNI yang di Kapal Diamond Princess telah dinyatakan positif terjangkit Covid 2019. Ada sembilan WNI yang saat ini sedang dirawat oleh otoritas Jepang. “Saya terangkan nih, WNI yang kena kan juga dirawat oleh Pemerintah Jepang yang sembilan orang itu,” katanya.

Kondisi tersebut, kata Terawan, membuat pemerintah sangat berhati-hati dalam menangani WNI dari Kapal Pesiar Diamond Princess. Dia tidak ingin proses evakuasi yang terburu-buru dari Diamond Princess akan memunculkan episentrum baru penyebaran Covid 2019 di Tanah Air. “Ya tergantung. Kalau mereka ngasih, ya segera kita proses. Sama dengan kita yang terus bernegosiasi dengan Jepang mengenai upaya, teknik yang paling baik untuk bisa mengeluarkan mereka. Jadi ini nego terus, tapi kita nego harus dengan cara jangan semaunya sendiri. Kalau cara semau sendiri, bisa membentuk episentrum baru,” ungkapnya.

Menurutnya, jika terlalu terburu-buru melakukan observasi, bisa membahayakan masyarakat Indonesia lainnya. Dia menegaskan bahwa Indonesia mengikuti kaidah-kaidah yang sudah ditetapkan Badan Kesehatan Dunia. “Contoh sekarang, apa negara yang keburu-buru ngambil. Coba, Australia itu kan dari negatif jadi positif kan. Kita mau seperti itu? Amerika sama juga kan? Masak mau ngikutin yang seperti itu? Kita hati-hati,” tegasnya.

Terkait kabar WN Jepang yang terjangkit Covid 2019 setelah mengunjungi Indonesia, Terawan mengaku menunggu data dari Jepang. Terutama data berkaitan dengan letak epidemiologi. “Apa benar dia udah kesini, di mananya, di sana diperiksa setelah berapa hari. Terus sakitnya apa. Itu harus detail. Kalau hanya berita pernah, kan di Malaysia juga pernah gitu, Korea juga gitu. Jadi, kita harus terus hati-hati dalam menyikapinya karena data itu penting. Saya sebagai menkes sangat berpatokan dengan data,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Doni Monardo menegaskan, pihaknya siap membantu jika dilakukan evakuasi WNI di Kapal Pesiar Diamond Princess di Jepang maupun di Kapal Pesiar World Dream. “Ada dua rencana baik itu di World Dream dan Diamond Princess. Secara detail penjelasannya bukan dari BNPB. Tapi, dari Kementerian Kesehatan dan BNPB telah melakukan kesiapan-kesiapan sesuai nanti arahan teknis karena ini sangat tergantung dari masukan Kemenkes,” kata Doni di Graha BNPB, Jakarta, kemarin.

Namun, Doni masih enggan menjelaskan teknis evakuasi WNI yang masih ada di dua kapal tersebut akibat virus korona. Dia menegaskan pihaknya siap jika diminta untuk membantu evakuasi. “Ya, pokoknya kita siapa saja. Nanti gini. Semua informasi harus satu pintu. Tunggu, bersabar, tunggu arahan dari Bapak Menteri Kesehatan,” tegasnya.

Lebih jauh Doni berharap Indonesia bisa menemukan obat virus korona yang telah menewaskan ribuan orang. “Mudah-mudahan kita menjadi bagian dari pihak yang bisa menemukan sejumlah serum sejumlah obat yang dapat mengatasi penyakit-penyakit yang permanen antara lain sekarang ini virus korona. Siapa tahu,” katanya.

Hingga saat ini Indonesia menjadi satu di antara negara yang belum terdeteksi virus korona. Doni mengatakan, ada kemungkinan bahwa warga Indonesia tahan terhadap virus korona karena sering konsumsi jamu tradisional. “Karena hari ini masyarakat Indonesia dianggap lebih tahan dibandingkan warga negara lainnya dalam mengatasi virus korona. Apakah mungkin karena kita sering minum jamu? Atau, mungkin karena kita sudah kebal dari dulu karena sudah sering kena batuk pilek? Jadi, begitu ada virus dikit aja, virusnya mental,” kata Doni.

Italia Isolasi 20 Kota

Kasus virus korona semakin mewabah di Italia di mana terdapat 219 kasus. "Lima orang yang terinfeksi virus korona meninggal dunia, satu orang berhasil sembuh," kata Angelo Borreli, kepala perlindungan sipil Italia, dilansir CNN.

Wabah virus korona di Italia mengakibatkan kekhawatiran negara-negara Eropa lainnya. Pemerintah Austria mengkaji upaya untuk menutup perbatasan dengan Italia jika diperlukan. Pemerintah Italia juga telah mengisolasi lebih dari dua puluh kota di kawasan Lombardy.

Sementara itu, Korea Selatan (Korsel) merupakan negara di mana jumlah kasus virus korona terbesar di dunia setelah China. Jumlah total pengidap virus korona mencapai 830 orang dan delapan orang meninggal dunia. Sebanyak 7.700 tentara dikarantina setelah 11 prajurit dilaporkan terinfeksi virus korona. Kluster virus korona terbesar berkaitan dengan rumah sakit dan sekte keagamaan di Daegu.

Di Iran, 12 orang yang terinfeksi virus korona dilaporkan meninggal dan 61 warga terinfeksi virus mematikan tersebut. Hal itu ditegaskan Deputi Menteri Kesehatan Iran Haj Harirchi kemarin. Sebagian besar kasus virus korona berasal di Qom, kota suci umat muslim Syiah sekitar 75 km selatan Teheran. (Dita Angga/Binti Mufarida/Andika H Mustaqim)
(ysw)
Berita Terkait
Mutasi Baru Virus Corona
Mutasi Baru Virus Corona
Waspada Virus Corona...
Waspada Virus Corona Varian Baru
E484K, Varian Anyar...
E484K, Varian Anyar Virus Corona
Sulit Ekonomi karena...
Sulit Ekonomi karena Corona, Ayah Jual Ponsel Rusak untuk Beli Beras
PSBB di Beberapa Daerah,...
PSBB di Beberapa Daerah, Tak Gentarkan Warga Beraktivitas di Luar Rumah
Dampak Corona, Satu...
Dampak Corona, Satu Keluarga di Serang Banten Kelaparan
Berita Terkini
Mahfud MD Soroti Pengalihan...
Mahfud MD Soroti Pengalihan Penyidikan Febrie Adriansyah ke Kejaksaan: Banyak yang Terkecoh
Febrie Adriansyah Dicegah...
Febrie Adriansyah Dicegah ke Luar Negeri
Baleg DPR Sangkal Kabar...
Baleg DPR Sangkal Kabar RUU Perampasan Aset Dicoret dari Prolegnas Prioritas 2026
Saatnya Koperasi Naik...
Saatnya Koperasi Naik Kelas
Momen Kapolri dan Jaksa...
Momen Kapolri dan Jaksa Agung Foto Bareng Menko Polkam, Panglima TNI, serta Kepala BIN
Prabowo: Yang Merasa...
Prabowo: Yang Merasa Indonesia Suram, Silakan kalau Mau Cari Negara Lain
Infografis
Pemerintah Tetapkan...
Pemerintah Tetapkan 25 Hari Libur dan Cuti Bersama di Tahun 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved