Batan Dukung Dunia Medis lewat Pengembangan Radioisotop

Kamis, 23 Januari 2020 - 09:37 WIB
Batan Dukung Dunia Medis...
Batan Dukung Dunia Medis lewat Pengembangan Radioisotop
A A A
JAKARTA - Pemerintah sedang menyiapkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024.

Dalam RPJMN tersebut, Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) ditugaskan menjadi koordinator tiga Prioritas Riset Nasional (PRN), yakni terkait Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN), radioisotop dan radiofarmaka, dan Sistem Pemantau Radiasi Lingkungan untuk Keselamatan dan Keamanan (SPRKK).

Kepala Batan, Anhar Riza Antariksawan menjelaskan, Batan sudah melakukan pembahasan mengenai radioisotop dan radiofarmaka dengan Kementerian Kesehatan.

Pembahasan mengenai hal itu merupakan tindak lanjut dari pembicaraan dengan Wakil Presiden KH Ma'ruf Amin pada 10 Januari lalu.

“Sebelumnya kami telah bertemu dengan Wapres yang hasilnya meminta Batan meningkatkan kerja sama dengan kementerian dan lembaga,” katanya.

Pada pertemuan ini, Anhar menyampaikan capaian Batan di bidang kesehatan, khususnya terkait produksi radioisotop dan radiofarmaka. Selama ini Batan telah memproduksi radiositop dan radiofarmaka bekerja sama dengan pihak Badan Usaha Milik Negara (BUMN) seperti PT Inuki dan Kimia Farma.

Menurut Anhar, 96% kebutuhan radioisotop dan radiofarmaka di Indonesia dipasok oleh luar negari, sedangkan sisanya 4% yang diproduksi di dalam negeri.

“Pemanfaatan radioisotop dan radiofarmaka di dalam negeri relatif sedikit bila dibandingkan dengan luar negeri. Jumlah rumah sakit yang memiliki fasilitas kedokteran nuklir pun juga terbatas,” ungkapnya.

Oleh karena itu, Batan mengembangkan produk radioisotop dan radiofarmaka yang digunakan untuk mendiagnosa penyakit melakui sistem radiasi. “Kita membuat prototipe, setelah ini untuk izin edar nantinya akan ada Kimia Farma, kami melakukan kerja sama dengan mereka,” tuturnya.

Dia menjelaskan, Batan hanya melakukan riset dan penelitian dengan menggandeng pihak lain seperti LIPI dan beberapa perguruan tinggi. Nantinya akan dihasilkan obat untuk diagnosis dan terapi. Salah satu yang dihasilkan adalah Tecnisium 99N (TC99N), radioisotop yang dibutuhkan untuk mendiagnosa suatu penyakit.

Dengan diprosuksinya TC99N ini maka pihaknya berharap Kementerian Kesehatan tidak lagi melakukan impor obat-obatan jenis ini karena sudah bisa diproduksi di dalam negeri.

“Batan tidak akan bisa bekerja sendiri di bidang kesehatan tanpa bantuan dari kementerian atau lembaga lain yang terkait. Salah satu contohnya, bekerja sama dengan Balitbangkes untuk melakukan proses pengurusan izin edar penggunaan alat kesehatan,” katanya.
(dam)
Berita Terkait
Kapan RI Mencicipi Energi...
Kapan RI Mencicipi Energi Nuklir? Ini Jawabannya
Menilik Potensi Tenaga...
Menilik Potensi Tenaga Nuklir RI, PLTN Bisa Beroperasi hingga 80 Tahun
Mahalnya Pembangunan...
Mahalnya Pembangunan Reaktor Nuklir, Ini Perkiraan Biayanya
Pentagon Diam-diam Kembangkan...
Pentagon Diam-diam Kembangkan Reaktor Nuklir Portabel Mini
Arab Saudi Dorong Penggunaan...
Arab Saudi Dorong Penggunaan Energi Nuklir Secara Damai
Badan Nuklir UEA Izinkan...
Badan Nuklir UEA Izinkan Operasional Unit Kedua PLTN Barakah
Berita Terkini
Mendagri Tito: Pelibatan...
Mendagri Tito: Pelibatan Sektor Swasta Akan Optimalkan Realisasi Program Perumahan Rakyat
KPK Tahan 3 Tersangka...
KPK Tahan 3 Tersangka Kasus Suap Dana Hibah Pokmas Jawa Timur
Mendagri Apresiasi 10...
Mendagri Apresiasi 10 Calon Wisudawan Terbaik IPDN Angkatan XXXIII dari Beragam Latar Belakang
Apresiasi Penunjukan...
Apresiasi Penunjukan Sudaryono sebagai Kepala BGN, Amos Simanjuntak: Pilihan Tepat
Perludem Usulkan MMP,...
Perludem Usulkan MMP, Partai Perindo Sebut Jadi Alternatif Solutif Reformasi Pemilu
Kepala BGN Sudaryono:...
Kepala BGN Sudaryono: Kami Bukan Superman, Siap Terima Masukan
Infografis
Jadwal Semifinal Piala...
Jadwal Semifinal Piala Dunia 2026: Duel Penentu Final
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved