Pengamat: Partai Islam Telah Terjebak dalam Oligarki dan Kartelisasi Politik

Kamis, 19 Desember 2019 - 08:24 WIB
Pengamat: Partai Islam...
Pengamat: Partai Islam Telah Terjebak dalam Oligarki dan Kartelisasi Politik
A A A
JAKARTA - Peneliti Politik dari UIN Jakarta, Ali Munhanif menganggap perjalanan partai politik Islam di Indonesia sebenarnya cukup baik dan eksistensi mereka masih diperhitungkan di belantika perpolitikan Indonesia, jika berkaca dari perolehan suara yang ada saat ini.

Ali mengatakan cara partai Islam bertahan di tengah menguatnya politik elektoral adalah dengan mengubah warna mereka yang awalnya mencirikan diri sebagai partai berideologi Islam menjadi sekuler. Menurutnya, fenonema ini bisa dilihat dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

"PKB juga begitu, PKB saat ini kita lihat sebagai partai dengan perolehan suara sangat bagus, Ketua PKB nya itu-itu saja terus Muhaimin, tetapi orang-orang yang dipromosikan untuk menduduki jabatan di kabinet selalu saja berbeda," ujar Ali di Jakarta, Kamis (19/12/2019).

Menurut Ali, yang terjadi adalah bahwa ada semacam sekelompok elite yang memang mendominasi arah kebijakan partai meskipun di saat yang sama sumber daya manusia mereka bisa dipromosikan ke jalur yang bisa diterima oleh masyarakat.

"Di situ saya bisa percaya bahwa, pertanyaannya adalah sebagai partai agama partai politik Islam dibentuk oleh konflik ideologis yang kuat saat itu, tetapi juga dibentuk oleh struktur sosial dan persepsi budaya masyarakat yang menjadi tulang punggung partai," jelasnya.

Dalam kondisi yang demikian, lanjut Ali, bagaimana cara partai Islam mampu bertahan dan menancapkan eksistensi mereka? Tak berlebihan, menurutnya, partai Islam telah terjebak dalam oligarki politik atau bahkan 'memaklumi' kartelisasi politik.

Dekan FISlP UIN Jakarta ini menjelaskan sejak 2004, meski partai Islam disebut kalah bertarung, setidaknya kader-kader mereka masih bisa duduk di kabinet maupun jabatan-jabatan politik di lembaga tinggi negara.

"Sebenarnya kartelisasi di kalangan partai Islam itu tidak begitu mengemuka dibandingkan partai lainnya yang sejak awal sudah leading misalnya Golkar dan PDIP, mengapa kartelisasi dan oligarki menjadi pilihan cerdas untuk survival partai dan pimpinannya, itu karena dia menjadi gula bagi semut."

"Orang yang ingin mempertahankan kekuasaan finansialnya akan mendekat pada partai besar begitu juga sebaliknya. Di Golkar banyak para oligarki yang survive di Orde Baru mendekat ke Golkar dan terus menjadi tulang punggung untuk pembiayaan, untuk nasional dan daerah, tapi partai Islam siapa yang mau mendekat," tandas Ali.
(whb)
Berita Terkait
Partai Masyumi Resmi...
Partai Masyumi Resmi Kembali Dideklarasikan Dalam HUT ke-73
Suharso Monoarfa Terpilih...
Suharso Monoarfa Terpilih Jadi Ketua Umum PPP Secara Aklamasi
Partai Perindo Tegaskan...
Partai Perindo Tegaskan Politik sebagai Pengabdian, Bukan Perebutan Kekuasaan
Rakernas Perdana di...
Rakernas Perdana di Surabaya, Partai Mahasiswa Indonesia Berkomitmen Tingkatkan Partisipasi Politik Anak Muda
Jadi Caleg Butuh Uang...
Jadi Caleg Butuh Uang Banyak, Prabu Revolusi: Banyak Persepsi yang Salah soal Calon Legislatif
Aiman Witjaksono dan...
Aiman Witjaksono dan Prabu Revolusi Blak-Blakan soal Alasan Terjun ke Politik
Berita Terkini
Kasus Muara Enim, Eks...
Kasus Muara Enim, Eks Penyidik KPK: WTP Penting Bagi Pemda, Malah Jadi Ajang Negosiasi
Peduli Lingkungan, Aliansi...
Peduli Lingkungan, Aliansi Lintas Agama-Kementerian LH Serukan Tobat Ekologis Nasional
Diseminasi Eksaminasi...
Diseminasi Eksaminasi Ungkap Dugaan Kekeliruan Penegakan Hukum dalam Kasus Eks Dirut Indofarma
Mahasiswa Soroti Pemborosan...
Mahasiswa Soroti Pemborosan APBN, Qodari: Prabowo Berhasil Hemat Rp300 Triliun
Polri Gelar Nobar Piala...
Polri Gelar Nobar Piala Dunia 2026, Pakar Hukum: Mendekatkan Polisi dengan Masyarakat
Ditahan KPK, Asrul Azis...
Ditahan KPK, Asrul Azis Tersangka Baru Kasus Kuota Haji Ajukan Praperadilan ke PN Jaksel
Infografis
Trade Misinvoicing dan...
Trade Misinvoicing dan Upaya Penguatan Integritas Perdagangan Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved