Konflik Makin Tajam, Golkar Berpotensi Kembali Pecah Jadi Dua Kubu
Selasa, 26 November 2019 - 10:44 WIB
Konflik Makin Tajam, Golkar Berpotensi Kembali Pecah Jadi Dua Kubu
A
A
A
JAKARTA - Partai Golkar dinilai berpotensi terbelah menjadi dua kubu, Airlangga Hartarto dan Bambang Soesatyo (Bamsoet). Sehingga, konflik di internal Partai Golkar pada tahun 2014 lalu antara kubu Aburizal Bakrie (Ical) dengan Agung Laksono bisa terulang.
Direktur Indostrategi Arif Nurul Imam mengatakan, konflik di Partai Golkar memang relatif lebih sering terjadi. Karena menurut dia, tidak ada figur tokoh kuat di partai berlambang pohon beringin itu.
(Baca juga: Munas Golkar Tandingan Sebaiknya Jangan Dianggap Remeh)
Dia menambahkan, setiap faksi memiliki kekuatan yang hampir berimbang termasuk kubu Bamsoet dan Airlangga Hartanto untuk kasus hari ini.
"Mengenai potensi Golkar terbelah tentu sangat mungkin jika melihat anatomi politik Golkar dan track record Golkar selama ini. Artinya, jika sama-sama ngotot dan gagal melakukan sharing politics, potensi terpecah sangat besar," kata Arif kepada SINDOnews, Selasa (26/11/2019).
Lebih lanjut dia mengatakan, hal tersebut karena figur Bamsoet dan Airlangga sama-sama pemimpin gerbong politik dan merasa sama-sama dekat dengan penguasa alias presiden.
Diketahui, pada tahun 2014 lalu, Partai Golkar terpecah dua kubu. Awalnya, Ical terpilih kembali menjadi ketua umum Partai Golkar pada Munas IX di Bali, 29 November-3 Desember 2014.
Kubu Agung Laksono tidak mengakui Munas tersebut dan membuat Munas tandingan yang digelar di Ancol, Jakarta. Dari Munas Ancol Jakarta itu, Agung Laksono ditetapkan sebagai ketua umum Golkar.
Direktur Indostrategi Arif Nurul Imam mengatakan, konflik di Partai Golkar memang relatif lebih sering terjadi. Karena menurut dia, tidak ada figur tokoh kuat di partai berlambang pohon beringin itu.
(Baca juga: Munas Golkar Tandingan Sebaiknya Jangan Dianggap Remeh)
Dia menambahkan, setiap faksi memiliki kekuatan yang hampir berimbang termasuk kubu Bamsoet dan Airlangga Hartanto untuk kasus hari ini.
"Mengenai potensi Golkar terbelah tentu sangat mungkin jika melihat anatomi politik Golkar dan track record Golkar selama ini. Artinya, jika sama-sama ngotot dan gagal melakukan sharing politics, potensi terpecah sangat besar," kata Arif kepada SINDOnews, Selasa (26/11/2019).
Lebih lanjut dia mengatakan, hal tersebut karena figur Bamsoet dan Airlangga sama-sama pemimpin gerbong politik dan merasa sama-sama dekat dengan penguasa alias presiden.
Diketahui, pada tahun 2014 lalu, Partai Golkar terpecah dua kubu. Awalnya, Ical terpilih kembali menjadi ketua umum Partai Golkar pada Munas IX di Bali, 29 November-3 Desember 2014.
Kubu Agung Laksono tidak mengakui Munas tersebut dan membuat Munas tandingan yang digelar di Ancol, Jakarta. Dari Munas Ancol Jakarta itu, Agung Laksono ditetapkan sebagai ketua umum Golkar.
(maf)