Versi RISSC, Jokowi Peringkat 13 Muslim Berpengaruh di Dunia

Sabtu, 05 Oktober 2019 - 07:49 WIB
Versi RISSC, Jokowi...
Versi RISSC, Jokowi Peringkat 13 Muslim Berpengaruh di Dunia
A A A
JAKARTA - Pamor dan kontribusi Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali diakui di level internasional. Jokowi tahun ini kembali masuk daftar Muslim Paling Berpengaruh di Dunia versi The Royal Islamic Strategic Studies Centre (RISSC). Jokowi berada di urutan ke-13, naik tiga peringkat dari setahun sebelumnya.

Tokoh Indonesia lainnya yang masuk Muslim Paling Berpengaruh di Dunia pada 2019 ialah KH Said Aqil Siradj. Said berada di urutan ke-19 dan merupakan sekolom tokoh di luar politisi yang masuk 25 besar. Pengaruhnya amat luas karena dia merupakan ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang memiliki 40 juta anggota.

“Dengan adanya serangan oposisi yang meragukan pendiriannya terhadap Islam, Jokowi menunjuk Ma’ruf Amin (rais aam PBNU) sebagai wakil presiden. Jokowi pun terpilih menjadi presiden untuk kedua kali pada Pilpres April 2019 dengan perolehan suara 55,5%,” ungkap RISSC.

Prestasi yang dicatatkan Jokowi ini memang istimewa sebab Jokowi merupakan presiden pertama Indonesia yang bukan berasal dari kalangan elite militer atau politik. Dia lahir dari keluarga sederhana di Jawa Tengah. Ayahnya menjalankan bisnis furnitur yang terkadang tidak mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi tetap berjuang demi menyekolahkan Jokowi hingga lulus kuliah.

Jokowi sempat bekerja selama tiga tahun di perusahaan kehutanan di Aceh. Dia terpilih menjadi wali kota Solo pada 2005, gubernur Jakarta pada 2012, dan presiden Republik Indonesia pada 2014. RISSC menyatakan Jokowi sukses menjaga reputasinya sebagai seorang politikus yang bersih. “Jokowi juga dikenal sebagai pejabat pemerintah yang membudayakan blusukan, yakni mengunjungi, melihat, dan mendengar langsung keluhan warga,” ungkap RISSC.

Selain memperkuat hubungan secara personal, hal tersebut juga membuatnya mampu menyelesaikan keprihatinan dan keluhan warga. Sementara itu, RISSC menyatakan KH Said Aqil Siradj masuk Muslim Paling Berpengaruh lantaran dia saat ini memimpin organisasi muslim independen terbesar di Indonesia dan salah satu organisasi Islam paling berpengaruh di dunia.

“Dia membawahi jutaan orang melalui jaringan NU yang tersebar berbagai wilayah dengan lima struktur, dari pengurus pusat hingga pengurus ranting,” tambah RISSC. RISCC juga menyebut NU memiliki kontribusi yang besar dalam bidang sosial, pendidikan, kesehatan, dan kemiskinan. Seperti pendahulunya, Said menjadikan NU sebagai organisasi untuk mendukung terciptanya negara yang moderat.

NU juga mendukung kebijakan pemerintah seperti aturan antikorupsi, reformasi sosial, anti-SARA, HAM. Jokowi dan Said bukanlah satu-satunya tokoh Indonesia yang masuk daftar Muslim Paling Berpengaruh di Dunia, mengingat RISCC merilis 500 nama. Namun, kedua tokoh Indonesia itu memiliki pengaruh yang besar dan luas seperti tokoh-tokoh muslim dunia yang lain, baik yang menjadi politisi maupun kepala organisasi.

Tokoh Indonesia lain yang masuk daftar ialah Habib Lutfhi (ketua Forum Sufi Internasional), Muhammad Din Syamsudin, KH Achmad Mustofa Bisri (Gus Mus), Ahmad Syafii Maarif, Anis Matta, Letjen Jenderal Prabowo Subianto, Megawati Soekarnoputri, Miftahul Achyar (rais aam PBNU), KH Ma’ruf Amin, Haedar Nasir (ketua umum PP Muhammadiyah), KH Yahya Cholil Staquf (katib aam PBNU), dan Abdullah Gymnastiar.

Kemudian KH Quraish Shihab, Haidar Bagir, Sri Mulyani Indrawati, Tri Mumpuni, Asma Nadia, Helvy Tiana Rosa, Hajjah Maria Ulfah, dan Goenawan Mohamad. Semuanya dinilai memiliki pengaruh besar. Namun, di luar 50 besar, daftar itu diurutkan berdasarkan kategori, benua, negara, dan nama tokoh. Jumlah populasi muslim di dunia mencapai 1,93 miliar atau 1/4 dari total populasi dunia.

Selain menjadi warga negara di negaranya masing-masing, muslim juga beranggapan seluruh umat Islam di dunia sebagai saudara. “Pengaruh didefinisikan sebagai orang yang memiliki kekuasaan, baik secara budaya, ideologi, keuangan, ataupun politik, untuk memberikan perubahan dan dampak yang signifikan terhadap muslim di dunia,” ungkap RISSC. “Perlu dicatat dampak di sini dapat positif atau negatif tergantung sudut pandang,” tambah RISSC.

Namun, RISSC mengakui tantangan terbesar dalam publikasi seperti ini ialah ketidakpastian dalam mengukur pengaruh. Pasalnya, pengaruh terkadang dapat diukur melalui cara kuantitatif seperti jumlah pengikut, buku, penjualan, tapi juga terkadang harus diukur lewat kualitatif seperti dampak dalam jangka panjang.
(don)
Berita Terkait
Presiden Jokowi Terima...
Presiden Jokowi Terima Kunjungan Presiden Filipina
Presiden Jokowi Tinjau...
Presiden Jokowi Tinjau Vaksin di Papua Barat
Presiden Hadiri Muktamar...
Presiden Hadiri Muktamar Rabithan Melayu-Banjar
3.048 Personel Gabungan...
3.048 Personel Gabungan TNI dan Polri Dikerahkan untuk Pengamanan Kunjungan Presiden ke Papua
Coretan Dinding Adili...
Coretan Dinding 'Adili Jokowi' di Sudut Kota Jakarta
Coretan Dinding Adili...
Coretan Dinding Adili Jokowi Kembali Hebohkan Sudut Kota Jakarta
Berita Terkini
Hadiri Suroboyo 10K,...
Hadiri Suroboyo 10K, Wali Kota Agustina Siap Tampilkan Grand Finale Terbaik The Ultimate 10K Series 2026
Kapolri Respons Usulan...
Kapolri Respons Usulan Pigai soal Sipil Duduki Jabatan Utama Polri: Sudah Ada Ruang Resiprokal
Nahdlatul Ulama: Pesantren...
Nahdlatul Ulama: Pesantren dan Kedaulatan Masyarakat Sipil
Presiden KSPI: Said...
Presiden KSPI: Said Iqbal Akan Dilantik Jadi Penasihat Presiden Bidang Ketenagakerjaan
Berkas Sudah P21, Pakar:...
Berkas Sudah P21, Pakar: Tinggal Tunggu Penyidik Serahkan Roy Suryo dkk ke JPU
Cerita Prabowo tentang...
Cerita Prabowo tentang 2 Angka Keberuntungan di Hidupnya: 8 dan 13 Selalu Muncul
Infografis
Daftar Lengkap Skuad...
Daftar Lengkap Skuad Timnas Jerman di Piala Dunia 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved