Jimly: Tokoh Masyarakat Jangan Membuat Panas Situasi di Papua

Jum'at, 30 Agustus 2019 - 20:32 WIB
Jimly: Tokoh Masyarakat...
Jimly: Tokoh Masyarakat Jangan Membuat Panas Situasi di Papua
A A A
JAKARTA - Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) terpilih yang juga mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Jimly Asshiddiqie berharap tokoh-tokoh masyarakat di Papua mulai dari gubernur sampai ke jajaran pejabat yang bersentuhan langsung dengan masyarakat agar berusaha untuk menenangkan warga yang tersulut emosi akibat sentimen rasial.

”Jangan ikut memanas-manasin karena ini kan sentiman rasial yang sudah lama,” tutur Jimly di Jakarta, Jumat (30/8/2019).

Jimly juga berpesan bahwa sentimen rasial ini harus menjadi pelajaran bagi seluruh masyarakat Indonesia dimanapun bahwa ke depan tidak boleh ada lagi pihak-pihak mengembangkan narasi-narasi yang sifatnya rasial dan diskriminatif.

”Ini sudah tidak zamannya lagi menyebut soal kulit, soal rambut. Jangan lagi dong. Kita kan satu Indonesia,” paparnya.

Namun, Jimly juga berpesan agar masyarakat Papua sendiri juga jangan berlebihan dalam meluapkan emosi karena jika kerusuhan akibat emosi kemarahan ini terus berlanjut maka hal ini akan berbahaya. ”Mahasiwa dan sebagainya jangan lagi pakai mengibarkan bendera Kejora, melecehkan bendera Merah Putih, nanti seluruh warga negara di luar Papua marah semua jadi makin repot kita semua,” tuturnya.

Menurutnya, semua orang bisa memaklumi eksepresi kemarahan warga Papua. Karena itu, pendekatan yang diperlukan bukan dengan pendekatan militeristik tapi lebih pada pendekatan dari hati ke hati.

”Jadi jangan dengan penegakan hukum, nanti dulu penegakan hukum. Tapi ini ada batasnya, jadi nggak boleh terus-menerus begitu. Ini kan juga digoreng di luar negeri. Jadi tokoh-tokoh masyarakat, gubernur dan sebagainya, itu harus turun tangan. Jangan aparat nanti tambah masalah,” serunya.

Mantan Ketua DKPP ini menekankan bahwa perlu ada batas waktu tolerasi. Jangan sampai kondisi seperti ini dibiarkan berlarut-larut. Jika kondisi seperti sekarang berlangsung lebih dari sebulan maka pemerintah perlu mempertimbangan status keadaan darurat sipil di Papua.

”Nggak boleh dibiarkan, nanti pemerintahan nggak berjalan. Kalau nggak sebulan ya mungkin tidak boleh terlalu lama juga, dikasih waktu terserah pemerintah berapa lama, harus ada ketegasan,” katanya.

Ditambahkannya, jangan sampai emosi masyarakat yang meluap justru “digoreng” oleh pihak-pihak tertentu. ”Masa emosinya berlebihan hanya gara-gara satu orang yang salah, nggak boleh begitu. Saya kira pemerintah minggu ini harus mulai tegas,” pungkasnya.
(kri)
Berita Terkait
Keluar dari Situasi...
Keluar dari Situasi Konflik di Papua
Elemen Masyarakat Papua...
Elemen Masyarakat Papua Ajak Semua Pihak Jaga Kedamaian Papua
Dialog Damai dan Bermartabat...
Dialog Damai dan Bermartabat Kunci Atasi Persoalan di Papua
Kepala Suku Adat La...
Kepala Suku Adat La Pago Provinsi: Mari Jaga Kedamaian Papua
Begini Penuturan Panglima...
Begini Penuturan Panglima Perang Adat terkait Kondisi Ilaga
Pasukan TNI-Polri Pukul...
Pasukan TNI-Polri Pukul Mundur Massa yang Bentrok di Jayawijaya
Berita Terkini
Qodari: Haji 2026 Lancar,...
Qodari: Haji 2026 Lancar, Masa Tunggu Dipangkas dan Layanan Ditingkatkan
KPK Perpanjang Penahanan...
KPK Perpanjang Penahanan Eks Wamen Imipas Silmy Karim Cs selama 40 Hari
Prabowo Teken UU Polri,...
Prabowo Teken UU Polri, Pakar Optimistis Kepolisian Jadi Institusi yang Modern dan Presisi
6 Poin Pernyataan Roy...
6 Poin Pernyataan Roy Suryo dan Dokter Tifa setelah Penahanan Ditangguhkan
Tim Hukum Merah Putih:...
Tim Hukum Merah Putih: Tawaran RJ untuk Roy Suryo dan Dokter Tifa Bukan Ajakan Jokowi
Bukan Sekadar Insinyur,...
Bukan Sekadar Insinyur, Alumni ITS Didorong Kuasai Kepemimpinan dan Finansial
Infografis
Burung Elang Langka...
Burung Elang Langka yang Lama Hilang Terlihat Kembali di Papua
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved