Kasus Robertus, Pengamat Minta Institusi Negara Jangan Terlalu Perasa

Jum'at, 08 Maret 2019 - 16:16 WIB
Kasus Robertus, Pengamat...
Kasus Robertus, Pengamat Minta Institusi Negara Jangan Terlalu Perasa
A A A
JAKARTA - Peneliti Institute for Security and Strategic Studies (ISESS), Khairul Fahmi meminta lembaga negara agar tidak mudah terbawa perasaan dalam menanggapi ekspresi masyarakat.

Hal tersebut menanggapi kasus Dosen Sosiologi Universitas Negeri Jakarta Robertus Robet lantaran memelesetkan lagu Mars ABRI.

"Alat negara memang sepatutnya tak mudah 'baper'. Kecuali hendak mengakui bahwa kita tengah kembali berada dalam suasana penyelenggaraan negara yang otoriter, represif atau bahkan mungkin mempraktikkan fasisme," ujar Khairul melalui siaran pers yang diterima SINDOnews, Jumat (8/3/2019).

Khairul mengatakan, respons yang diberikan terhadap tindakan Robet tidak perlu berlebihan seperti penangkapan. Dia menilai justru lebih baik jika semua mawas diri bahwa Indonesia memiliki banyak pekerjaan rumah di bidang HAM dan reformasi TNI.

Khairul lalu menekankan, bukan hanya Robert yang pernah menyanyikan lagu Mars ABRI yang liriknya telah diubah tersebut.

"Lagu itu kerap dinyanyikan bersama oleh mahasiswa yang turun ke jalan medio 1998 silam. Para aktivis menyanyikan lagu itu dengan lantang dalam rangka menentang penerapan dwifungsi ABRI," tuturnya.

"Bahkan diakui atau tidak, saya kira banyak elite politik saat ini, pernah ikut menyanyikannya di masa lalu. Justru yang menarik adalah kenapa hari ini aksi seperti itu mendadak viral dan menjadi perhatian media, seolah baru pertama kali terjadi," lanjutnya.

Khairul menilai apa yang dilakukan Robert tidak bisa langsung dikategorikan sebagai ujaran kebencian terhadap TNI. Menurut dia, aksi Robert bagian dari ekspresi kekecewaan terhadap TNI terkait isu HAM, penegakan hukum, serta reformasi TNI.

"Meski amat disayangkan, Robertus Robert saya kira punya alasan yang kuat mengapa dia merasa harus menyanyikan lagu yang syairnya dipelesetkan itu," tuturnya.

Sebelumnya, Robertus Robet ditangkap polisi di kediamannya pada Kamis (7/3/2019) 00.30 WIB. Dia ditetapkan sebagai tersangka ujaran kebencian terhadap institusi TNI saat aksi Kamisan di depan Istana 28 Februari 2019 lalu.

Robet diduga melanggar Pasal 207 KUHP terkait penghinaan terhadap penguasa atau badan umum yang ada di Indonesia. Meski telah berstatus tersangka, Robet dipulangkan oleh penyidik. Hanya saja, proses penyidikan masih tetap berjalan sesuai operasional yang berlaku.
(dam)
Berita Terkait
Terjerat Kasus Ujaran...
Terjerat Kasus Ujaran Kebencian, Ruslan Buton Dijerat UU ITE
Sebar Ujaran Kebencian...
Sebar Ujaran Kebencian Terhadap Presiden, Ibu Rumah Tangga di Batam Ditangkap
Suku Dayak Kanayatn...
Suku Dayak Kanayatn Gelar Sidang Hukum Adat Kasus Ujaran Kebencian
Tak Sekadar Revisi UU...
Tak Sekadar Revisi UU ITE, Masyarakat Juga Harus Bijak Bermedsos
Konten Berbau SARA,...
Konten Berbau SARA, Dua Akun Media Sosial Dilaporkan ke Polisi
Buron Kasus Ujaran Kebencian...
Buron Kasus Ujaran Kebencian Berhasil Diringkus Tim Tabur Kejari Pidie Jaya
Berita Terkini
Ditetapkan Tersangka...
Ditetapkan Tersangka oleh KPK, Bupati Cilacap Syamsul Ajukan Praperadilan
Langkah Berani Kejagung...
Langkah Berani Kejagung Sentuh Korupsi MBG Jadi Sinyal Kuat Penegakan Hukum Tanpa Impunitas
Cegah Kasus Korupsi...
Cegah Kasus Korupsi di BGN Terulang, Saut Situmorang Beri Saran Ini ke Nanik Deyang
Geger, WNI Bunuh WNI...
Geger, WNI Bunuh WNI di Hokkaido Jepang, Satu Anggota Polisi Ikut Terluka
Prihatin Kasus Korupsi...
Prihatin Kasus Korupsi di BGN, Hasto PDIP: Suara Kritis Masyarakat Sudah Mengungkapkan Hal Itu
Kelakar Jenderal Sigit:...
Kelakar Jenderal Sigit: Selesai Jadi Kapolri, Saya Gantian Jadi Aktivis
Infografis
10 Negara Menaikkan...
10 Negara Menaikkan Harga BBM Akibat Perang AS-Iran, Banyak Tetangga RI
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved