Maraknya Hoaks di Medsos Jadi Tantangan Pers untuk Lebih Profesional
Jum'at, 15 Februari 2019 - 18:11 WIB
Maraknya Hoaks di Medsos Jadi Tantangan Pers untuk Lebih Profesional
A
A
A
JAKARTA - Berita bohong (hoaks) dan ujaran kebencian (hate speech) yang bertebaran media sosial (medsos) berdampak luar biasa bagi masyarakat.
Dampak negatifnya sangat besar karena bisa memecah belah masyarakat terutama menjelang Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) 2019.
Kondisi tersebut harus menjadi pemacu bagi dunia pers untuk mengembalikan muruwah media mainstream sebagai sumber informasi terpercaya.
“Saya kira berkembangnya hoaks ini bagi media mainstream sebenarnya sebuah berkah juga. Artinya masyarakat bisa terbukakan matanya mana sebenarnya pers yang profesional dan mana pers yang tidak profesional,” ujar Ketua Dewan Pengawas Forum Pemred, Suryopratomo di Jakarta, Jumat (15/2/2019).
Menurut Tommy, panggilan karib Suryopratomo, kondisi ini menjadi tantangan bagi media mainstream untuk meningkatkan kualitas dan profesionalisme dalam membuat berita.
Dia menambahkan, itu harus dilakukan dan bukan hanya dengan menerapkan prinsip-prinsip jurnalisme yang harus dipenuhi, tetapi juga kedalaman investigasi dalam mencari kebenaran jurnalistik.
Tommy menjelaskan, berita ibukan untuk memuaskan pembuat beritanya, tetapi juga harus memberikan manfaat kepada masyarakat sehingga terbuka informasi dan wawasannya, serta bisa mengerti duduk perkaranya.
“Itulah tantangan pers di media mainstream di tengah menjamurnya media online,” kata Tommy.
Dia menegaskan keberadaan medsos jangan dilihat sebagai ancaman, pun juga jangan dipandang medsos akan menggantikan peran media mainstream.
Dalam pandangannya, sepanjang medsos tidak bisa melakukan verifikasi maka tidak mampu memberikan informasi yang berkualitas.
“Kita ini hidup di era teknologi informasi ketika semua orang butuh informasi, tetapi mereka butuh informasi yang berkualitas. Inilah saya kira tanggung jawab dari pers sekarang ini," tuturnya.
Menurut Tommy , pers harus memegang prinsip untuk melakukan verifikasi dan bukan sekadar mengedepankan unsur kecepatan dalam membuat berita. Namun pers harus bisa membuat berita cepat dan benar sebagai unsur paling dasar dari jurnalistik. Itu harus terus dipegang teguh.
Dia memperkirakan dunia pers akan terus berkembang dan masyarakat juga akan terus membandingkan antara media mainstream dan medsos. Selain itu masyarakat juga tidak mau dengan media yang begitu-begitu saja, tetapi harus ada sesuatu yang baru. Karena itu, pelaku media harus lebih inovatif, kreatif, bahkan harus tahu bagaimana cara menyampaikannya.
“Sekali lagi, prinsip-prinsip dasar jurnalistik tidak akan pernah berubah. Jadi kebenaran, akurasi, itu tidak akan pernah berubah. Zaman boleh berubah, tetapi prinsip-prinsip jurnalistik itu yang harus kita pertahankan dan pegang teguh,” katanya.
Dia menjelaskan, berita yang baik adalah berita yang terverifikasi dengan benar dan memiliki basis data kuat serta logikanya jalan dan memberikan sesuatu bermanfaat bagi pembaca atau pemirsanya.
Hal Itu dikatakannya yang sebenarnya menjadi kekuatan media pers dan mainstream. Namun dia tidak menyangkal, saat ini yang terjadimedia mainstream justru terbawa arus oleh medsos. Bahkan medsos dijadikan agenda seting media mainstream dalam mengembangkan berita.
“Itu kan terbalik. Mereka itukan sekadar mendengar lalu mereka naikkan. Kalau di media mainstream media kan bukan sekadar upload atau naik, tetapi 5 W 1 H itu kan yang diperhatikan. Bukan sekadar who and why, tetapi so what, untuk apa peristiwa itu yang menjadi berita harus ada manfaatnya untuk pemirsa dan pembacanya,” papar Tommy.
Dampak negatifnya sangat besar karena bisa memecah belah masyarakat terutama menjelang Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) 2019.
Kondisi tersebut harus menjadi pemacu bagi dunia pers untuk mengembalikan muruwah media mainstream sebagai sumber informasi terpercaya.
“Saya kira berkembangnya hoaks ini bagi media mainstream sebenarnya sebuah berkah juga. Artinya masyarakat bisa terbukakan matanya mana sebenarnya pers yang profesional dan mana pers yang tidak profesional,” ujar Ketua Dewan Pengawas Forum Pemred, Suryopratomo di Jakarta, Jumat (15/2/2019).
Menurut Tommy, panggilan karib Suryopratomo, kondisi ini menjadi tantangan bagi media mainstream untuk meningkatkan kualitas dan profesionalisme dalam membuat berita.
Dia menambahkan, itu harus dilakukan dan bukan hanya dengan menerapkan prinsip-prinsip jurnalisme yang harus dipenuhi, tetapi juga kedalaman investigasi dalam mencari kebenaran jurnalistik.
Tommy menjelaskan, berita ibukan untuk memuaskan pembuat beritanya, tetapi juga harus memberikan manfaat kepada masyarakat sehingga terbuka informasi dan wawasannya, serta bisa mengerti duduk perkaranya.
“Itulah tantangan pers di media mainstream di tengah menjamurnya media online,” kata Tommy.
Dia menegaskan keberadaan medsos jangan dilihat sebagai ancaman, pun juga jangan dipandang medsos akan menggantikan peran media mainstream.
Dalam pandangannya, sepanjang medsos tidak bisa melakukan verifikasi maka tidak mampu memberikan informasi yang berkualitas.
“Kita ini hidup di era teknologi informasi ketika semua orang butuh informasi, tetapi mereka butuh informasi yang berkualitas. Inilah saya kira tanggung jawab dari pers sekarang ini," tuturnya.
Menurut Tommy , pers harus memegang prinsip untuk melakukan verifikasi dan bukan sekadar mengedepankan unsur kecepatan dalam membuat berita. Namun pers harus bisa membuat berita cepat dan benar sebagai unsur paling dasar dari jurnalistik. Itu harus terus dipegang teguh.
Dia memperkirakan dunia pers akan terus berkembang dan masyarakat juga akan terus membandingkan antara media mainstream dan medsos. Selain itu masyarakat juga tidak mau dengan media yang begitu-begitu saja, tetapi harus ada sesuatu yang baru. Karena itu, pelaku media harus lebih inovatif, kreatif, bahkan harus tahu bagaimana cara menyampaikannya.
“Sekali lagi, prinsip-prinsip dasar jurnalistik tidak akan pernah berubah. Jadi kebenaran, akurasi, itu tidak akan pernah berubah. Zaman boleh berubah, tetapi prinsip-prinsip jurnalistik itu yang harus kita pertahankan dan pegang teguh,” katanya.
Dia menjelaskan, berita yang baik adalah berita yang terverifikasi dengan benar dan memiliki basis data kuat serta logikanya jalan dan memberikan sesuatu bermanfaat bagi pembaca atau pemirsanya.
Hal Itu dikatakannya yang sebenarnya menjadi kekuatan media pers dan mainstream. Namun dia tidak menyangkal, saat ini yang terjadimedia mainstream justru terbawa arus oleh medsos. Bahkan medsos dijadikan agenda seting media mainstream dalam mengembangkan berita.
“Itu kan terbalik. Mereka itukan sekadar mendengar lalu mereka naikkan. Kalau di media mainstream media kan bukan sekadar upload atau naik, tetapi 5 W 1 H itu kan yang diperhatikan. Bukan sekadar who and why, tetapi so what, untuk apa peristiwa itu yang menjadi berita harus ada manfaatnya untuk pemirsa dan pembacanya,” papar Tommy.
(dam)