Praktisi Sebut Motif Serangan Siber Paling Besar Yakni Terkait Uang
Sabtu, 09 Februari 2019 - 13:24 WIB
Praktisi Sebut Motif Serangan Siber Paling Besar Yakni Terkait Uang
A
A
A
JAKARTA - Praktisi Keamanan Siber Yohanes Syailendra Kotualubun menyebut motif serangan siber yang paling besar adalah terkait dengan uang. Hal ini didapatkannya dalam pengalamannya saat penelitian di dalam dunia siber.
"Rata-rata motif mereka paling besar adalah uang, itu paling utama adalah uang, yang kedua berhubungan tentang politik, yang ketiga tentang personal misalnya saya marah dengan bapak saya bisa melakukan hacking ke bapak," ujar Yohanes dalam diskusi Polemik MNC Trijaya Network, dengan tema 'Darurat Ancaman Siber', di d'consulate resto, Jakarta Pusat, Sabtu (9/2/2019).
Selain ketiga motif itu, Yohanes mengungkapkan ada motif dari para peretas yakni keinginan untuk senang-senang. (Baca: Website Resmi Bareskrim Mabes Polri Dibobol Hacker )
"Dalam artian hacker-hacker di luar sana itu mereka punya skill mereka punya kemampuan mereka goggling di internet kemudian ada celah keamanan di targetnya terus mereka pingin coba nih ceritanya akhirnya mereka melakukan serangan kesana," ungkapnya.
Namun, Yohanes menjelaskan serangan siber bisa terjadi karena peretas bisa mengetahui kelemahan dari targetnya. Misal contoh sederhananya tidak di updatenya windows yang dipakai di perangkat kerja sehari-hari.
"Kalo misalkan memang dia target punya celah si kita yang seorang hacker dengan mudah melalukan eksploit sistem yang ada celah keamanannya. Kayak windows yang ga pernah di update atau menggunakan windows bajakan, itu orang yang ga pernah konsern terhadap update nih. Dengan update ini celah keamanannya menurun," tuturnya.
"Rata-rata motif mereka paling besar adalah uang, itu paling utama adalah uang, yang kedua berhubungan tentang politik, yang ketiga tentang personal misalnya saya marah dengan bapak saya bisa melakukan hacking ke bapak," ujar Yohanes dalam diskusi Polemik MNC Trijaya Network, dengan tema 'Darurat Ancaman Siber', di d'consulate resto, Jakarta Pusat, Sabtu (9/2/2019).
Selain ketiga motif itu, Yohanes mengungkapkan ada motif dari para peretas yakni keinginan untuk senang-senang. (Baca: Website Resmi Bareskrim Mabes Polri Dibobol Hacker )
"Dalam artian hacker-hacker di luar sana itu mereka punya skill mereka punya kemampuan mereka goggling di internet kemudian ada celah keamanan di targetnya terus mereka pingin coba nih ceritanya akhirnya mereka melakukan serangan kesana," ungkapnya.
Namun, Yohanes menjelaskan serangan siber bisa terjadi karena peretas bisa mengetahui kelemahan dari targetnya. Misal contoh sederhananya tidak di updatenya windows yang dipakai di perangkat kerja sehari-hari.
"Kalo misalkan memang dia target punya celah si kita yang seorang hacker dengan mudah melalukan eksploit sistem yang ada celah keamanannya. Kayak windows yang ga pernah di update atau menggunakan windows bajakan, itu orang yang ga pernah konsern terhadap update nih. Dengan update ini celah keamanannya menurun," tuturnya.
(ysw)