Meski Tak Mungkin Hilang, ICMI Nilai Politik Identitas Tak Efektif
Senin, 04 Februari 2019 - 19:25 WIB
Meski Tak Mungkin Hilang, ICMI Nilai Politik Identitas Tak Efektif
A
A
A
JAKARTA - Politik identitas masih mewarnai pemilihan umum serentak pada 2019 ini. Beberapa pihak menganggap politik identitas ampuh untuk mengalahkan saingannya dalam merebut kekuasaan.
Namun, Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Jimly Asshiddiqie berbeda pandangan. Dirinya menganggap, politik identitas kurang efektif karena semakin dewasanya sistem politik di Indonesia.
"Makin dewasa sistem politik kita dipraktekkan dan peradaban demokrasi makin tinggi, maka politik identitas itu akan kurang efektif. Makin lama makin berkurang efektifitasnya, tapi tidak mungkin hilang," ujar Jimly dalam diskusi di ICMI Center, Jakarta, Senin (4/2/2019).
(Baca juga: Jokowi Mulai Agresif Menyerang, Fadli Zon Sebut Alhamdulillah)
Alasan tidak mungkin hilang kata Jimly, sebab dirinya membanding dengan dunia perpolitikan di Amerika. Di Amerika menurutnya masih ada hoaks dan kampanye hitam dalam setiap pergelaran politiknya.
"Karena itu di Amerika aja ada. Apalagi di sini, apalagi di sini. Kita tidak bisa membayangkan komunikasi publik di sini langsung rasional, mengabaikan faktor-faktor primordial. Cuma kita imbau kepada paslon, jangan berlebihan mengeksploitasi isu agama. Sebab itu batas toleransi," jelasnya.
(Baca juga: Rhoma Irama Ajak Umat Islam Bersatu di Pemilu 2019)
Dirinya pun mengimbau agar kedua paslon baik nomor urut 01 Joko Widodo-KH Ma'ruf Amin dan nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno melakukan kampanye yang positif.
"Intinya masing-masing paslon dan timses selalu berusaha menggunakan kampanye positif, negatif dan hitam," tuturnya.
Namun, Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Jimly Asshiddiqie berbeda pandangan. Dirinya menganggap, politik identitas kurang efektif karena semakin dewasanya sistem politik di Indonesia.
"Makin dewasa sistem politik kita dipraktekkan dan peradaban demokrasi makin tinggi, maka politik identitas itu akan kurang efektif. Makin lama makin berkurang efektifitasnya, tapi tidak mungkin hilang," ujar Jimly dalam diskusi di ICMI Center, Jakarta, Senin (4/2/2019).
(Baca juga: Jokowi Mulai Agresif Menyerang, Fadli Zon Sebut Alhamdulillah)
Alasan tidak mungkin hilang kata Jimly, sebab dirinya membanding dengan dunia perpolitikan di Amerika. Di Amerika menurutnya masih ada hoaks dan kampanye hitam dalam setiap pergelaran politiknya.
"Karena itu di Amerika aja ada. Apalagi di sini, apalagi di sini. Kita tidak bisa membayangkan komunikasi publik di sini langsung rasional, mengabaikan faktor-faktor primordial. Cuma kita imbau kepada paslon, jangan berlebihan mengeksploitasi isu agama. Sebab itu batas toleransi," jelasnya.
(Baca juga: Rhoma Irama Ajak Umat Islam Bersatu di Pemilu 2019)
Dirinya pun mengimbau agar kedua paslon baik nomor urut 01 Joko Widodo-KH Ma'ruf Amin dan nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno melakukan kampanye yang positif.
"Intinya masing-masing paslon dan timses selalu berusaha menggunakan kampanye positif, negatif dan hitam," tuturnya.
(maf)