Kasus Hoaks Tidak Boleh Hanya Sampai ke Ratna Saja
Senin, 22 Oktober 2018 - 13:23 WIB
Kasus Hoaks Tidak Boleh Hanya Sampai ke Ratna Saja
A
A
A
JAKARTA - Kasus penyebaran berita bohong (hoaks) yang menyeret Ratna Sarumpaet tidak bisa dibebankan ke altivis perempuan itu saja. Alasannya banyak pihak yang kemudian memperbesar hoaks, sekaligus mencari keuntungan politik dari pernyataan Ratna itu. Terutama dari politisi koalisi Prabowo-Sandiaga.
Pengamat Politik Boni Hargens bahkan menduga, ada skenario jauh-jauh hari untuk merancang hoaks tersebut. Indikasinya sederhana. Setelah Ratna menyebar hoaks, banyak pihak langsung ikut merespons, seakan-akan peristiwa pemukulan terhadap Ratna benar adanya. Terlebih, ada beberapa pihak yang terlibat dalam penyebarannya.
"Lebih masuk akal kalau ini adalah rencana yang diatur jauh hari. Maka pertanggungjawaban atas kasus ini harus melibatkan semua pihak yang terkait di dalam penyebarannnya. Untuk itu dalam konteks ini, kita perlu mengapresiasi kerja polri yang dengan tegas menegakkan hukum dalam kasus ini," katanya dalam siaran pers yang diterima SINDOnews, Senin (22/10/2018).
Belum lagi ada keanehan lain. Seakan-akan pemerintah yang paling bersalah dari kondisi Ratna. Belum lagi, kasus hoaks yang digulirkan itu seolah-olah menuduh rezim Jokowi otoriter.
"Seolah-olah negara menjadi biadab dan rezim Jokowi otoriter. Mereka mengadakan jumpa pers. Merekalah yang membuat kebohongan RS menjadi fenomena politik. Kalau ini adalah kerja bersama, agenda tertutup yang direncanakan bersama maka masuk akal," tambahnya.
Boni melanjutkan, kebohongan yang sebenarnya adalah skenario politik kubu oposisi demi memenangkan Pilpres 2019. "Apakah kebohongan RS adalah kegenitan usia tua atau ulah setan seperti alibinya? Kebohongan RS pada dasarnya bukan masalah utama. Karena ia berbohong di ruang privat. Ia berbicara dengan oposisi di ruang tertutup. Yang menjadi kebohongan itu skenario politik adalah kubu oposisi," ujar dia.
Diketahui, Selasa 2 Oktober 2018, beredar informasi Ratna Sarumpaet mengalami kasus penganiayaan di Bandung. Saat itu itu dia baru saja menghadiri konferensi internasional, Jumat 21 September 2018. Namun setelah ditelusuri, ternyata pada hari itu tidak ada konferensi internasional di Bandung. Sehari kemudian, Ratna mengakui kalau dia telah berbohong dan meminta maaf.
Pengamat Politik Boni Hargens bahkan menduga, ada skenario jauh-jauh hari untuk merancang hoaks tersebut. Indikasinya sederhana. Setelah Ratna menyebar hoaks, banyak pihak langsung ikut merespons, seakan-akan peristiwa pemukulan terhadap Ratna benar adanya. Terlebih, ada beberapa pihak yang terlibat dalam penyebarannya.
"Lebih masuk akal kalau ini adalah rencana yang diatur jauh hari. Maka pertanggungjawaban atas kasus ini harus melibatkan semua pihak yang terkait di dalam penyebarannnya. Untuk itu dalam konteks ini, kita perlu mengapresiasi kerja polri yang dengan tegas menegakkan hukum dalam kasus ini," katanya dalam siaran pers yang diterima SINDOnews, Senin (22/10/2018).
Belum lagi ada keanehan lain. Seakan-akan pemerintah yang paling bersalah dari kondisi Ratna. Belum lagi, kasus hoaks yang digulirkan itu seolah-olah menuduh rezim Jokowi otoriter.
"Seolah-olah negara menjadi biadab dan rezim Jokowi otoriter. Mereka mengadakan jumpa pers. Merekalah yang membuat kebohongan RS menjadi fenomena politik. Kalau ini adalah kerja bersama, agenda tertutup yang direncanakan bersama maka masuk akal," tambahnya.
Boni melanjutkan, kebohongan yang sebenarnya adalah skenario politik kubu oposisi demi memenangkan Pilpres 2019. "Apakah kebohongan RS adalah kegenitan usia tua atau ulah setan seperti alibinya? Kebohongan RS pada dasarnya bukan masalah utama. Karena ia berbohong di ruang privat. Ia berbicara dengan oposisi di ruang tertutup. Yang menjadi kebohongan itu skenario politik adalah kubu oposisi," ujar dia.
Diketahui, Selasa 2 Oktober 2018, beredar informasi Ratna Sarumpaet mengalami kasus penganiayaan di Bandung. Saat itu itu dia baru saja menghadiri konferensi internasional, Jumat 21 September 2018. Namun setelah ditelusuri, ternyata pada hari itu tidak ada konferensi internasional di Bandung. Sehari kemudian, Ratna mengakui kalau dia telah berbohong dan meminta maaf.
(poe)