Polisi Perlu Selidiki Kemungkinan Adanya Propaganda Ala Rusia
Jum'at, 05 Oktober 2018 - 11:39 WIB
Polisi Perlu Selidiki Kemungkinan Adanya Propaganda Ala Rusia
A
A
A
JAKARTA - Polri diharapkan jeli dalam menyelidiki kasus penyebaran berita bohong oleh Ratna Sarumpaet. Tidak sebatas telah terpenuhinya unsur pidana, polisi diharapkan menyelidiki kasus ini dalam spektrum yang lebih luas, yakni ada tidaknya penerapan teknik propaganda ala Rusia yg dikenal sebagai "firehose of the falsehood".
Teknik propaganda ini berciri khas melakukan kebohongan-kebohongan nyata (obvious lies) untuk membangun ketakutan publik. “Tujuannya mendapatkan keuntungan posisi politik sekaligus menjatuhkan posisi politik lawannya yg dilakukan lebih dr satu kali atau secara terus menerus (repetitive action),” kata Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf Amin, Arsul Sani dalam keterangan pers yang diterima SINDOnews, Jumat (5/10/2018).
Dugaan adanya penggunaan teknik ini karena kasus pembohongan publik ini menurut catatan Arsul bukan pertama kali terjadi. Sebelumnya dikembangkan pemberitaan tentang pembakaran mobil Neno Warisman yang setelah diselidiki ternyata bukan dibakar oleh orang lain tapi terjadi korsleting.
Selain berciri berusaha menimbulkan ketakutan pd publik, teknik propaganda ini juga disertai dengan teknik "playing victim" yakni menimbulkan kesan pada publik bahwa pelaku pembohongan tersebut adalah korban yg teraniaya oleh satu pihak yang diasosiasikan dengan kelompok penguasa.
Arsul menambahkan bahwa teknik propaganda di atas merupakan salah satu sumber pengembangan hoaks dan ujaran kebencian. “Karenanya jika kita ingin memerangi hoaks dan ujaran kebencian maka penyelidikan untuk membongkar teknik propaganda di atas perlu dilakukan,” ujar Sekjen Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ini.
Teknik propaganda ini berciri khas melakukan kebohongan-kebohongan nyata (obvious lies) untuk membangun ketakutan publik. “Tujuannya mendapatkan keuntungan posisi politik sekaligus menjatuhkan posisi politik lawannya yg dilakukan lebih dr satu kali atau secara terus menerus (repetitive action),” kata Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf Amin, Arsul Sani dalam keterangan pers yang diterima SINDOnews, Jumat (5/10/2018).
Dugaan adanya penggunaan teknik ini karena kasus pembohongan publik ini menurut catatan Arsul bukan pertama kali terjadi. Sebelumnya dikembangkan pemberitaan tentang pembakaran mobil Neno Warisman yang setelah diselidiki ternyata bukan dibakar oleh orang lain tapi terjadi korsleting.
Selain berciri berusaha menimbulkan ketakutan pd publik, teknik propaganda ini juga disertai dengan teknik "playing victim" yakni menimbulkan kesan pada publik bahwa pelaku pembohongan tersebut adalah korban yg teraniaya oleh satu pihak yang diasosiasikan dengan kelompok penguasa.
Arsul menambahkan bahwa teknik propaganda di atas merupakan salah satu sumber pengembangan hoaks dan ujaran kebencian. “Karenanya jika kita ingin memerangi hoaks dan ujaran kebencian maka penyelidikan untuk membongkar teknik propaganda di atas perlu dilakukan,” ujar Sekjen Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ini.
(poe)