Waspadai Terorisme, Menteri Eko Imbau Masyarakat Aktif Beri Informasi
Senin, 14 Mei 2018 - 17:55 WIB
Waspadai Terorisme, Menteri Eko Imbau Masyarakat Aktif Beri Informasi
A
A
A
JAKARTA - Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT), Eko Putro Sandjojo mengutuk aksi pemboman yang terjadi di Surabaya.
“Kita sangat mengutuk perbuatan keji, biadab, dan pengecut, membawa anak-anak untuk melakukan bom bunuh diri terhadap orang yang tidak berdosa yang sedang beribadah. Saya berharap kepada korban semoga lekas sembuh, untuk yang meninggal semoga diterima di sisi tuhan,” kata Eko di Jakarta International Expo, Jakarta, Senin (14/5/2018).
Eko mengimbau masyarakat agar kompak serta memberikan informasi setiap kali ada kecurigaan atau indikasi gerakan-gerakan yang menuju pada terorisme. Ini adalah upaya untuk memecah belah bangsa Indonesia untuk menjadi negara maju.
“Jangan sampai kita dipecah belah sehingga usaha yang kita lakukan selama ini yang cukup baik, yang telah memberikan pondasi kepada negara kita menjadi negara maju dipecah belah oleh orang-orang yang tidak jelas tersebut,” katanya.
Mendes PDTT tidak setuju bila terjadinya terorisme ini karena buruknya kinerja pemerintah, dalam hal ini Badan Intelijen Negara (BIN).
Menurut dia, BIN sudah bekerja dengan sangat baik. Di negara yang sangat maju seperti di Inggris dan Perancis dengan intelijen jauh lebih bagus, dan sumber daya lebih besar juga bisa terjadi kejadian serupa.
“Kita meski dukung semua aparat kepolisian dan intelijen. Mereka sudah bekerja dengan sangat baik, kita sebaiknya tidak saling menyalahkan, dalam kondisi seperti ini kita mesti bersatu dan saling mendukung,” paparnya.
Staf Ahli Mendes PDTT Bidang Pengembangan Ekonomi, Ratna Dewi Andriati mengatakan, orangtua harus membentengi anak-anak dari paham-paham radikal. Peran orangtua dalam mendorong dan mengontrol pondasi pendidikan anak sangatlah penting. Terlebih, perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat membuat orangtua harus semakin peka dalam menghadapi tantangan zaman.
“Bentengi anak-anak, sampaikan pendidikan yang bagus juga pendidikan akhlak dan agama,” ujar Ratna dalam Seminar Membentuk Karakter Anak Menghadapi Tantangan Zaman yang digelar oleh Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kemendes PDTT di Balai Makarti Muktitama, Jakarta, Senin (14/5/2018).
Ratna juga mengungkapkan keprihatinannya melihat fenomena bom bunuh diri yang melibatkan anak-anak. Seminar yang digelar hari ini, lanjutnya, menjadi momentum bagi para orangtua agar semakin baik dalam menguatkan pendidikan karakter bagi anak.
"Saya prihatin atas insiden bom bunuh diri yang dilakukan seorang ibu yang membawa anak-anaknya ikut serta. Saya sedih sekali bagaimana seorang ibu memengaruhi pikiran anak-anaknya untuk ikut serta melakukan tindakan terorisme," tuturnya.
Ratna mencontohkan pola pendidikan anak yang dilakukan di Jepang dan Korea. Menurut dia, penting bagi keluarga untuk tetap mempertahankan aspek budaya di samping meningkatkan kualitas pendidikan.
"Apakah ibu-ibu bangga dengan guru asing? Boleh, asal kita harus ada landasan,” ujar Ratna.
Sementara itu, pakar parenting dari Indonesia Heritage Foundation, Florence Yulisinta Jusung mengatakan, orangtua adalah arsitek bagi otak anak. Bagian-bagian otak kritis dibentuk pada usia dini. Oleh karena itu, orangtua harus mencontohkan perilaku yang baik.
"Solusinya melindungi anak dari bahaya yaitu mengubah lingkungan pengasuhan dan pendidikan. Sebelum mendidik anak dengan penuh cinta, kita dulu yang harus memiliki cinta dan bahagia,. Orangtua juga harus melek teknologi," ujar Florence.
Senada dengan itu motivator parenting, Andriansyah mengatakan, pembentukan perilaku anak dipengaruhi lingkungan dan teknologi. Dia berpesan agar orangtua tidak memberikan fasilitas teknologi, seperti komputer dan telepon genggam, di dalam kamar atau yang bersifat pribadi.
"Saat ingin memberikan fasilitas (komputer atau telepon genggam-red), jangan sekali-kali memberikan izin dimasukkan ke dalam kamar anak. Letakkan teknologi tadi di tempat umum seperti ruang keluarga. Kedua, berikan komitmen bersama saat memberikan teknologi. Perlu dicatat, informasi terpenting adalah dari orangtuanya," tuturnya.
Seminar parenting ini dihadiri 200 peserta. Kegiatan ini bertujuan untuk memperluas wawasan orangtua untuk membentuk anak-anak Indonesia yang berkualitas dan tidak mudah terpengaruh. Seminar ini terselenggara atas kerja sama DWP Kemendes PDTT, OASE, dan Indonesia Heritage Foundation.
“Kita sangat mengutuk perbuatan keji, biadab, dan pengecut, membawa anak-anak untuk melakukan bom bunuh diri terhadap orang yang tidak berdosa yang sedang beribadah. Saya berharap kepada korban semoga lekas sembuh, untuk yang meninggal semoga diterima di sisi tuhan,” kata Eko di Jakarta International Expo, Jakarta, Senin (14/5/2018).
Eko mengimbau masyarakat agar kompak serta memberikan informasi setiap kali ada kecurigaan atau indikasi gerakan-gerakan yang menuju pada terorisme. Ini adalah upaya untuk memecah belah bangsa Indonesia untuk menjadi negara maju.
“Jangan sampai kita dipecah belah sehingga usaha yang kita lakukan selama ini yang cukup baik, yang telah memberikan pondasi kepada negara kita menjadi negara maju dipecah belah oleh orang-orang yang tidak jelas tersebut,” katanya.
Mendes PDTT tidak setuju bila terjadinya terorisme ini karena buruknya kinerja pemerintah, dalam hal ini Badan Intelijen Negara (BIN).
Menurut dia, BIN sudah bekerja dengan sangat baik. Di negara yang sangat maju seperti di Inggris dan Perancis dengan intelijen jauh lebih bagus, dan sumber daya lebih besar juga bisa terjadi kejadian serupa.
“Kita meski dukung semua aparat kepolisian dan intelijen. Mereka sudah bekerja dengan sangat baik, kita sebaiknya tidak saling menyalahkan, dalam kondisi seperti ini kita mesti bersatu dan saling mendukung,” paparnya.
Staf Ahli Mendes PDTT Bidang Pengembangan Ekonomi, Ratna Dewi Andriati mengatakan, orangtua harus membentengi anak-anak dari paham-paham radikal. Peran orangtua dalam mendorong dan mengontrol pondasi pendidikan anak sangatlah penting. Terlebih, perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat membuat orangtua harus semakin peka dalam menghadapi tantangan zaman.
“Bentengi anak-anak, sampaikan pendidikan yang bagus juga pendidikan akhlak dan agama,” ujar Ratna dalam Seminar Membentuk Karakter Anak Menghadapi Tantangan Zaman yang digelar oleh Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kemendes PDTT di Balai Makarti Muktitama, Jakarta, Senin (14/5/2018).
Ratna juga mengungkapkan keprihatinannya melihat fenomena bom bunuh diri yang melibatkan anak-anak. Seminar yang digelar hari ini, lanjutnya, menjadi momentum bagi para orangtua agar semakin baik dalam menguatkan pendidikan karakter bagi anak.
"Saya prihatin atas insiden bom bunuh diri yang dilakukan seorang ibu yang membawa anak-anaknya ikut serta. Saya sedih sekali bagaimana seorang ibu memengaruhi pikiran anak-anaknya untuk ikut serta melakukan tindakan terorisme," tuturnya.
Ratna mencontohkan pola pendidikan anak yang dilakukan di Jepang dan Korea. Menurut dia, penting bagi keluarga untuk tetap mempertahankan aspek budaya di samping meningkatkan kualitas pendidikan.
"Apakah ibu-ibu bangga dengan guru asing? Boleh, asal kita harus ada landasan,” ujar Ratna.
Sementara itu, pakar parenting dari Indonesia Heritage Foundation, Florence Yulisinta Jusung mengatakan, orangtua adalah arsitek bagi otak anak. Bagian-bagian otak kritis dibentuk pada usia dini. Oleh karena itu, orangtua harus mencontohkan perilaku yang baik.
"Solusinya melindungi anak dari bahaya yaitu mengubah lingkungan pengasuhan dan pendidikan. Sebelum mendidik anak dengan penuh cinta, kita dulu yang harus memiliki cinta dan bahagia,. Orangtua juga harus melek teknologi," ujar Florence.
Senada dengan itu motivator parenting, Andriansyah mengatakan, pembentukan perilaku anak dipengaruhi lingkungan dan teknologi. Dia berpesan agar orangtua tidak memberikan fasilitas teknologi, seperti komputer dan telepon genggam, di dalam kamar atau yang bersifat pribadi.
"Saat ingin memberikan fasilitas (komputer atau telepon genggam-red), jangan sekali-kali memberikan izin dimasukkan ke dalam kamar anak. Letakkan teknologi tadi di tempat umum seperti ruang keluarga. Kedua, berikan komitmen bersama saat memberikan teknologi. Perlu dicatat, informasi terpenting adalah dari orangtuanya," tuturnya.
Seminar parenting ini dihadiri 200 peserta. Kegiatan ini bertujuan untuk memperluas wawasan orangtua untuk membentuk anak-anak Indonesia yang berkualitas dan tidak mudah terpengaruh. Seminar ini terselenggara atas kerja sama DWP Kemendes PDTT, OASE, dan Indonesia Heritage Foundation.
(dam)