Happy Salma: Melihat Pram Sama dengan Melihat Indonesia

Selasa, 17 April 2018 - 22:34 WIB
Happy Salma: Melihat...
Happy Salma: Melihat Pram Sama dengan Melihat Indonesia
A A A
JAKARTA - The Solitude: Pram & The Art of Writing (Namaku Pram: Catatan & Arsip) merupakan sebuah pameran yang menampilkan perjalanan proses kreatif penulis sekaligus sastrawan besar Pramoedya Ananta Toer hingga menghasilkan karya seperti yang kita kenal saat ini. Pameran ini tercetus dikala artis Happy Salma (selaku penggagas pameran) mengunjungi rumah peninggalan sang sastrawan di daerah Bojonggede, Bogor.

Di rumah ini banyak sekali barang-barang pribadi milik penulis yang digunakan semasa hidupnya seperti mesin tik, meja kerja, asbak bahkan rokok terakhir yang dipunya sang sastrawan. Terdapat pula perpustakaan dengan koleksi buku yang berisi karya-karya yang telah dipublikasikan berikut arsip-arsip dan tulisan-tulisan data yang dikumpulkan saat sedang menulis.

Dari koleksi tersebut dapat disimpulkan, dalam menulis Pramoedya melakukan riset luar biasa mendalam mengenai cerita yang ditulisnya. Proses kreatif ini terdokumentasikan dengan begitu baik di tiap sudut ruang kerjanya ini.

Bahkan sampai hampir dua belas tahun sepeninggal Pramoedya, suaranya terus menggema di tiap sudut ruang kerja tempatnya melahirkan karya-karya besar yang tak tergerus oleh waktu. Karya besar dan barang beserta arsip-arsip pribadi Pramoedya itulah yang bakal dipamerkan.

"Melihat Pram sama dengan melihat Indonesia. Saya baru menyadari bahwa cara pandang dan karya seorang Pram ternyata jauh melampaui jamannya," ujar Happy Salma.

Pameran bertajuk ‘The Solitude: Pram & The Art of Writing’ (Namaku Pram: Catatan dan Arsip) berlangsung di Dia.Lo.Gue Artspace, Kemang, Jakarta, pada 17-20 Mei. Tadi sore, mini pameran dibuka secara resmi di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta, dengan menghadirkan aktor kawakan Slamet Rahardjo, produser Teater Koma Ratnatiarno, artis Happy Salma dan keluarga besar mendiang Pramoedya Ananta Toer.

“Penting untuk diketahui oleh masyarakat umum, terutama generasi muda, bahwa Indonesia pernah mempunyai seorang penulis yang tidak hanya unggul dalam karya, tetapi juga merupakan seorang pencatat yang rajin dan konsisten dalam mendokumentasikan berbagai peristiwa dari seluruh pelosok tanah air."

"Semoga pameran Namaku Pram: Catatan dan Arsip ini dapat memperlihatkan sisi lain seorang Pramoedya Ananta Toer dalam kesehariannya dan dapat menginspirasi generasi muda untuk lebih mencintai sastra Indonesia serta menjadikan sastra sebagai bagian gaya hidup sehari-hari,” sambung Renitasari Adrian, Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation.

Pramoedya Ananta Toer lahir di Blora, 6 Februari 1925 dan karya-karyanya mulai dikenal sejak tahun 1950-an seperti cerpen dan novel. Selama tujuh dekade masa hidupnya dipakai untuk menulis lebih dari 50 buku, dan cerita-ceritanya ini diterjemahkan ke dalam 42 bahasa dunia termasuk di antaranya Bahasa Spanyol pedalaman dan Bahasa Urdu.

Pramoedya Ananta Toer merupakan satu-satunya penulis Indonesia yang berkali-kali menjadi kandidat peraih Nobel Sastra. Pramoedya Ananta Toer dan karya-karyanya lebih dari sekadar hadiah Nobel atau sejumlah penghargaan lainnya yang ia terima dari dunia internasional.

Karya-karya Pramoedya tak pernah berhenti menjadi inspirasi banyak orang demi memaknai sejarah perjuangan kemanusiaan di tengah berbagai penindasan. Terutama lewat empat novelnya yang terpenting yang ditulisnya semasa menjalani tahanan di Pulau Buru. Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca, merupakan empat novel yang dikenal dengan tetralogi Pulau Buru.
(kri)
Berita Terkait
Ini Dia 100 Tokoh Koperasi...
Ini Dia 100 Tokoh Koperasi Berpengaruh di Indonesia
Doa Bersama Mengenang...
Doa Bersama Mengenang Tokoh Pers Nasional Atmakusumah Asraatmadja
Top! Presiden Jokowi...
Top! Presiden Jokowi Terima Anugerah Perdamaian Internasional
Mantan Menteri Penerangan...
Mantan Menteri Penerangan Harmoko Meninggal Dunia
Istri Gubernur Sulawesi...
Istri Gubernur Sulawesi Tenggara Meninggal Dunia Terpapar Covid-19
Raja Pemecutan XI Wafat,...
Raja Pemecutan XI Wafat, Tokoh Spiritual Bali: Almarhum Selalu Gelar Open House saat Galungan
Berita Terkini
Kortas Tipikor Tetapkan...
Kortas Tipikor Tetapkan Eks Dirut PTPN XI Tersangka Kasus Dugaan Korupsi Pabrik Gula Assembagoes
NU, Antara Tradisi Pesantren,...
NU, Antara Tradisi Pesantren, Profesionalisme Organisasi, dan Kemandirian Ekonomi
KPK Geledah Kantor Suhardiman...
KPK Geledah Kantor Suhardiman Amby hingga Rumah Tersangka Kasus Bupati Kuansing
PM Modi: India Siap...
PM Modi: India Siap Pasok Obat-obatan hingga Benih Gandum ke Indonesia
PNM Buka Lapangan Kerja...
PNM Buka Lapangan Kerja bagi Puluhan Ribu Lulusan SMA-SMK dari Keluarga Prasejahtera
Perkuat Konektivitas...
Perkuat Konektivitas RI-India, Prabowo Dukung Pembangunan Pelabuhan di Andaman dan Nikobar
Infografis
Profil Letjen TNI (Purn)...
Profil Letjen TNI (Purn) Setyo Sularso yang Dikait-kaitkan dengan Tiyo UGM
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved