Metode Pengobatan Sudah Seharusnya Berkembang dari Waktu ke Waktu

Jum'at, 06 April 2018 - 14:58 WIB
Metode Pengobatan Sudah...
Metode Pengobatan Sudah Seharusnya Berkembang dari Waktu ke Waktu
A A A
JAKARTA - Metode cuci otak dengan Digital Subtraction Angiography (DSA) yang dilakukan dokter Terawan dalam pengobatan stroke menarik perhatian anggota Komisi IX DPR yang juga berprofesi sebagai dokter, Adang Sudrajat.

Adang menilai metode dari dokter Terawan bisa dianggap terlalu jauh dalam konteks radiologi intervensi, karena melakukan tindakan terapi yang selama ini tidak ada dalam wewenang profesi radiolog.

Namun, kata dia, ada pengecualian untuk tindakan radiotherapy sangat perlu dilakukan dengan adanya rujukan dari ahli onkologi, baik penyakit dalam maupun bedah. Sedangkan dokter Terawan melakukan tindakan therapeutik tanpa adanya rujukan dari neurolog ataupun neurosurgeon.

Dia menjelaskan, pertanggungjawaban keabsahan metodologi dokter Terawan bisa diuji dengan Evidence Base Clinical Trial. Selama hasilnya bisa dipertanggungjawabkan, secara cost and benefit maka komunitas kesehatan harus bisa menerimanya sebagai sebuah metode pengobatan yang memberikan manfaat bagi peningkatan kualitas kesehatan masyarakat.

“Tidak ada satu pun metode pengobatan yang sempurna. Artinya paling efektif menyembuhkan tapi tanpa resiko sama sekali. Setiap metode diukur dengan potensi manfaat dengan potensi risiko yang mungkin terjadi,” kata dokter Adang.

Dengan demikian, lanjut Adang, mungkin perlu dibuka kembali suasana dialogis yang dapat menghasilkan suasana keterbukaan satu sama lain. Dengan lebih membuka diri pada sesuatu hal yang baru, yang rujukan tex book-nya belum di dapatkan.

Menurut dia, apabila sebuah metode memiliki manfaat besar dengan risiko yang jauh lebih kecil serta clinical trial yang dapat dipertanggungjawabkan, kenapa tidak dapat menerimanya.

“Pemerintah mulai saat ini semestinya memberikan fasilitas anak-anak bangsa yang berpotensi besar membesarkan bangsa. Seandainya Clinical trial ini memakan biaya tinggi, sudah seharusnya pemerintah mengalokasikan anggaran, agar hasil karya anak bangsa terus berkembang. Bukan hal yang mustahil Indonesia akan menjadi salah satu negara pelopor dalam pengembangan metode pengobatan baru. Bukan hanya sebagai pengekor seperti selama ini,” kata Adang.
(dam)
Berita Terkait
P2KB IDI Versus Kerancuan...
P2KB IDI Versus Kerancuan dalam Kerancuan
IDI Akui Adanya Budaya...
IDI Akui Adanya 'Budaya' Perundungan di PPDS
Beredar Undangan Deklarasi...
Beredar Undangan Deklarasi Persatuan Dokter Seluruh Indonesia
IDI dan Lingkungan yang...
IDI dan Lingkungan yang Sedang Berubah
Jalani Sidang Perdana,...
Jalani Sidang Perdana, Jerinx SID Langsung WO
Fenomena Pengobatan...
Fenomena Pengobatan Ida Dayak Hebohkan Publik, Begini Tanggapan IDI
Berita Terkini
Celoteh Hotman Paris,...
Celoteh Hotman Paris, Pakar: Penghinaan Wartawan Bisa Diproses Hukum
Jaksa Agung Mutasi 8...
Jaksa Agung Mutasi 8 Kepala Kejaksaan Tinggi, Ada Kajati Aceh hingga Sulsel
Ditjen Imigrasi Siapkan...
Ditjen Imigrasi Siapkan Satu Jenis Paspor Nasional, Nomor Tak Berubah Seumur Hidup
Koalisi Sipil Tolak...
Koalisi Sipil Tolak Pelibatan Babinsa dalam Pengawasan Pajak, Dinilai Ancam Supremasi Sipil
Nihayatul Wafiroh: Pakta...
Nihayatul Wafiroh: Pakta Integritas Bukti Keseriusan Perempuan Bangsa Besarkan PKB
Rekam Jejak Komjen Karyoto,...
Rekam Jejak Komjen Karyoto, dari Pemberantasan Korupsi hingga Jaga Stabilitas Keamanan Nasional
Infografis
Daftar Juara Liga Indonesia...
Daftar Juara Liga Indonesia dari Masa ke Masa: Persib Ukir Sejarah
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved