Politikus Senior Ini Tak Ingin Golkar Jadi Kuda Troya
Selasa, 12 Desember 2017 - 15:43 WIB
Politikus Senior Ini Tak Ingin Golkar Jadi Kuda Troya
A
A
A
YOGYAKARTA - Bursa pencalonan ketua umum Partai Golkar terus mengemuka ke publik. Selain Airlangga Hartarto, Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto disebut-sebut tertarik untuk maju menjadi ketua umum partai berlambang pohon beringin ini. Sejumlah pihak memberikan tanggapan beragam tentang hal ini.
Politikus senior Golkar, Gandung Pardiman menyarankan agar keluarga Cendana bersatu terlebih dahulu dalam satu visi misi yang sama.
Menurut Ketua Dewan Pertimbangan Golkar Daerah Istimewa Yogyakarta ini, menyatukan visi misi ini penting mengingat dahulu pernah ada partai "produk keluarga Cendana", yakni Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB) besutan Tutut Soeharto, kemudian Partai Karya Republik bentukan Ari Sigit dan belum lama ini juga ada Partai Berkarya yang didirkan oleh Tomy Soeharto.
“Jadi Cendana masih bias menatap Partai Golkar,” tegas mantan anggota DPR ini.
Dia menyebut Partai Golkar tidak ingin menjadi kuda troya, seperti Golkarnya Orde Baru. Selama 32 tahun, lanjut Gandung, Golkar jadi alat tunggang politiknya Orde Baru. Golkar hanya sebagai alat stempel Orde Baru. Hal ini, kata dia, tidak boleh terjadi lagi dan harus dicegah.
Menurut dia, jika itu terjadi lagi maka Golkar akan dijauhi dan dibenci oleh rakyat lagi. “Kalau memang cinta Golkar yang sejati mengapa saat sakit derita malah membuat partai sendiri termasuk sekarang ini. Jadi Partai Golkar harus sadar diri jangan sampai jadi kuda troyanya yang bernuansa atau bernafas Orde Baru,” ucapnya.
Gandung menilai saat dipimpin Akbar Tandjung, Golkar bisa selamat dan menang dalam pemilu karena menggariskan paradigma baru Partai Golkar, yakni memutuskan putus hubungan denga masa lalu, Orde Baru.
“Pada pemilu yang lalu Golkar terjebak denga slogan penak jamanku to. Namun kenyataan di DIY suara Golkar malah hilang 60.000 padahal dapil (daerah pemilihan-red) keluarga Cendana ada di DIY,” katanya.
Meski demikian, kata dia, dalam Munaslub nanti semua kader dapat menjadi bakal calon. Syarat menjadi calon apabila mendapat dukungan 150 pemegang suara atau sesuai kesepakatan munas.
Dalam Tata Tertib (Tatib) Partai Golkar, lanjut dia, bakal calon yang tidak mendapatkan minimal jumlah suara pendukung 150 atau yang telah disepakati dinyatakan gugur.
Sementara bagi calon yang mendapatkan suara dukungan sesuai Tatib bisa melanjutkan pada pemilihan tahap kedua.
Politikus senior Golkar, Gandung Pardiman menyarankan agar keluarga Cendana bersatu terlebih dahulu dalam satu visi misi yang sama.
Menurut Ketua Dewan Pertimbangan Golkar Daerah Istimewa Yogyakarta ini, menyatukan visi misi ini penting mengingat dahulu pernah ada partai "produk keluarga Cendana", yakni Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB) besutan Tutut Soeharto, kemudian Partai Karya Republik bentukan Ari Sigit dan belum lama ini juga ada Partai Berkarya yang didirkan oleh Tomy Soeharto.
“Jadi Cendana masih bias menatap Partai Golkar,” tegas mantan anggota DPR ini.
Dia menyebut Partai Golkar tidak ingin menjadi kuda troya, seperti Golkarnya Orde Baru. Selama 32 tahun, lanjut Gandung, Golkar jadi alat tunggang politiknya Orde Baru. Golkar hanya sebagai alat stempel Orde Baru. Hal ini, kata dia, tidak boleh terjadi lagi dan harus dicegah.
Menurut dia, jika itu terjadi lagi maka Golkar akan dijauhi dan dibenci oleh rakyat lagi. “Kalau memang cinta Golkar yang sejati mengapa saat sakit derita malah membuat partai sendiri termasuk sekarang ini. Jadi Partai Golkar harus sadar diri jangan sampai jadi kuda troyanya yang bernuansa atau bernafas Orde Baru,” ucapnya.
Gandung menilai saat dipimpin Akbar Tandjung, Golkar bisa selamat dan menang dalam pemilu karena menggariskan paradigma baru Partai Golkar, yakni memutuskan putus hubungan denga masa lalu, Orde Baru.
“Pada pemilu yang lalu Golkar terjebak denga slogan penak jamanku to. Namun kenyataan di DIY suara Golkar malah hilang 60.000 padahal dapil (daerah pemilihan-red) keluarga Cendana ada di DIY,” katanya.
Meski demikian, kata dia, dalam Munaslub nanti semua kader dapat menjadi bakal calon. Syarat menjadi calon apabila mendapat dukungan 150 pemegang suara atau sesuai kesepakatan munas.
Dalam Tata Tertib (Tatib) Partai Golkar, lanjut dia, bakal calon yang tidak mendapatkan minimal jumlah suara pendukung 150 atau yang telah disepakati dinyatakan gugur.
Sementara bagi calon yang mendapatkan suara dukungan sesuai Tatib bisa melanjutkan pada pemilihan tahap kedua.
(dam)