Tiga Faktor HT Dinilai Layak Masuk Daftar Cawapres Favorit
Senin, 27 November 2017 - 09:28 WIB
Tiga Faktor HT Dinilai Layak Masuk Daftar Cawapres Favorit
A
A
A
JAKARTA - Ketua Umum DPP Partai Persatuan Indonesia (Perindo), Hary Tanoesoedibjo (HT) masuk dalam daftar 10 besar Calon Wakil Presiden (Cawapres) pilihan masyarakat. Hal itu tergambar dari hasil Survei terbaru Poltracking Indonesia.
Pengamat politik UIN Jakarta, Adi Prayitno menilai, setidaknya ada tiga faktor yang mempengaruhi kenapa HT bisa masuk dalam kategori tersebut. Pertama, HT dianggap cukup familiar dan sudah dikenal luas.
"Kiprah dan jejak politiknya sudah terbaca sejak lama," kata Adi saat dihubungi SINDOnews, Senin (27/11/2017).
Kedua kata Adi, HT itu kerap blusukan ke ormas-ormas dan basis rakyat yang signifikan untuk mensosialisasikan ide politik kebangsaannya.
Ketiga lanjut dia, HT kerap melakukan kerja-kerja konkret membantu masyarakat yang susah, kaum miskin, dan lain sebagainya, dengan bantuan yang dibutuhkan masyarakat.
"Di masyarakat kita, kerja kongkret semacam itu membekas di hati rakyat di tengah kesulitan ekonomi seperti sekarang," tandas Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia ini.
Sebelumnya, nama HT masuk dalam jajaran 10 besar calon wakil presiden (cawapres) terfavorit pilihan responden hasil survei yang dilakukan Poltracking Indonesia.
Bahkan dalam top of mind (pertanyaan terbuka), nama HT menempati urutan kedelapan dengan nilai 0,7%, unggul dari tokoh lain seperti Muhaimin Iskandar (0,6%), Aburizal Bakrie (0,5%), Mahfud MD (0,4%), Yusril Ihza Mahendra (0,3%), Surya Paloh (0,3%) hingga Zulkifli Hasan (0,2%).
Saat dilakukan simulasi 30 nama, HT bahkan memperoleh nilai 2,2%, dan saat diuji dengan 20 nama nilainya kembali naik menjadi 3,6%. HT berada pada posisi enam, unggul atas Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti (2,7%), Mensos Khofifah Indar Parawansa (2,3%), mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD (2,1%) serta Menkeu Sri Mulyani (1,8%)
Secara keseluruhan, dari hasil survei yang dilakukan Poltracking Indonesia periode 8-15 November 2017, nama Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo menjadi yang terfavorit untuk maju sebagai cawapres pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019.
Nama Gatot selalu unggul ketika diadu dengan nama lain, baik dengan 30 nama, 20 nama hingga 10 nama. Bahkan ketika pertanyaan survei ditujukan khusus untuk cawapres pendamping Joko Widodo (Jokowi), nama Gatot tetap teratas.
Direktur Eksekutif Poltracking Indonesia, Hanta Yudha mengatakan, nama Gatot memang yang tertinggi selama proses penelitian. Gatot hanya kalah dari wakil presiden (wapres) saat ini, Jusuf Kalla (JK), saat surveyor memberikan pertanyaan tanpa memberi daftar nama (pertanyaan terbuka).
"Kita tahu JK sudah mengindikasikan tidak akan lanjut setelah menjabat, tentu nama Gatot cukup potensial,” ujar Hanta saat memaparkan hasil risetnya di Jakarta, kemarin.
Pengamat politik UIN Jakarta, Adi Prayitno menilai, setidaknya ada tiga faktor yang mempengaruhi kenapa HT bisa masuk dalam kategori tersebut. Pertama, HT dianggap cukup familiar dan sudah dikenal luas.
"Kiprah dan jejak politiknya sudah terbaca sejak lama," kata Adi saat dihubungi SINDOnews, Senin (27/11/2017).
Kedua kata Adi, HT itu kerap blusukan ke ormas-ormas dan basis rakyat yang signifikan untuk mensosialisasikan ide politik kebangsaannya.
Ketiga lanjut dia, HT kerap melakukan kerja-kerja konkret membantu masyarakat yang susah, kaum miskin, dan lain sebagainya, dengan bantuan yang dibutuhkan masyarakat.
"Di masyarakat kita, kerja kongkret semacam itu membekas di hati rakyat di tengah kesulitan ekonomi seperti sekarang," tandas Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia ini.
Sebelumnya, nama HT masuk dalam jajaran 10 besar calon wakil presiden (cawapres) terfavorit pilihan responden hasil survei yang dilakukan Poltracking Indonesia.
Bahkan dalam top of mind (pertanyaan terbuka), nama HT menempati urutan kedelapan dengan nilai 0,7%, unggul dari tokoh lain seperti Muhaimin Iskandar (0,6%), Aburizal Bakrie (0,5%), Mahfud MD (0,4%), Yusril Ihza Mahendra (0,3%), Surya Paloh (0,3%) hingga Zulkifli Hasan (0,2%).
Saat dilakukan simulasi 30 nama, HT bahkan memperoleh nilai 2,2%, dan saat diuji dengan 20 nama nilainya kembali naik menjadi 3,6%. HT berada pada posisi enam, unggul atas Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti (2,7%), Mensos Khofifah Indar Parawansa (2,3%), mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD (2,1%) serta Menkeu Sri Mulyani (1,8%)
Secara keseluruhan, dari hasil survei yang dilakukan Poltracking Indonesia periode 8-15 November 2017, nama Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo menjadi yang terfavorit untuk maju sebagai cawapres pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019.
Nama Gatot selalu unggul ketika diadu dengan nama lain, baik dengan 30 nama, 20 nama hingga 10 nama. Bahkan ketika pertanyaan survei ditujukan khusus untuk cawapres pendamping Joko Widodo (Jokowi), nama Gatot tetap teratas.
Direktur Eksekutif Poltracking Indonesia, Hanta Yudha mengatakan, nama Gatot memang yang tertinggi selama proses penelitian. Gatot hanya kalah dari wakil presiden (wapres) saat ini, Jusuf Kalla (JK), saat surveyor memberikan pertanyaan tanpa memberi daftar nama (pertanyaan terbuka).
"Kita tahu JK sudah mengindikasikan tidak akan lanjut setelah menjabat, tentu nama Gatot cukup potensial,” ujar Hanta saat memaparkan hasil risetnya di Jakarta, kemarin.
(maf)