Antisipasi Korea, Indonesia Pasang 126 Pemantau Radiasi Nuklir

Jum'at, 13 Oktober 2017 - 11:14 WIB
Antisipasi Korea, Indonesia...
Antisipasi Korea, Indonesia Pasang 126 Pemantau Radiasi Nuklir
A A A
MENINGKATNYA intensitas uji coba senjata seiring ketegangan di Semenanjung Korea membuat Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) Republik Indonesia waspada. Sedikitnya 126 stasiun pemantau radiasi nuklir disiapkan untuk memantau indikasi radiasi gas berbahaya di ruang angkasa Indonesia.

Ketegangan di Semenanjung Korea ditandai dengan berbagai uji coba senjata kelas berat. Bahkan Korea Utara mengklaim berhasil menggunakan bom hidrogen dengan kekuatan melebihi bom atom di Hirosima dan Nagasaki Jepang pada Perang Dunia II.

Korea Utara juga mengklaim memiliki hulu ledak nuklir yang bisa diluncurkan dengan rudal antarbenua jika perang Korea benar-benar terjadi. Jika kondisi tersebut benar-benar terjadi, tak menutup kemungkinan dampak radiasi akan memapar kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

“Kami akan memasang 126 RDMS (radiation data monitoring system ) atau pemantau radiasi nuklir di sejumlah titik di Indonesia,” kata Kepala Bapaten Jazi Eko Istiyanto saat berkunjung ke Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Kamis (12/10/2017).

Dia menjelaskan, 126 pemantau radiasi nuklir tersebut akan dipasang di stasiun-stasiun Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) di seluruh Indonesia. Hal itu sengaja dilakukan karena Bapeten belum dimungkinkan membangun saluran tersendiri. “Apalagi BMKG juga sudah punya sistem yang dapat mendeteksi gempa dari percobaan nuklir Korea Utara,” ungkapnya.

Pembangunan pemantau radiasi nuklir tersebut memang dianggap penting. Karena saat ini Korea Utara melakukan uji coba bom hidrogen. Bahkan sebelumnya masyarakat internasional, termasuk Dewan Keamanan PBB, diminta menahan aksi Korut tersebut. Memang terakhir Cina yang berdekatan dengan negara tersebut tidak mendeteksi adanya radiasi nuklir.

Hadirnya Badan Tenaga Nuklir (Batan) di Makassar adalah untuk melanjutkan tradisi berkolaborasi dengan perguruan tinggi.
Tahun 2017 ini Batan dan Universitas Hasanudin (Unhas) bekerja sama mengadakan Seminar Nasional Teknologi Energi Nuklir (Senten) yang keempat dan 2nd International Conference on Nuclear Energy Technologies and Sciences (ICoNETS-2017) bersama- sama dengan 4th International Symposium on Smart Material and Mechatronics (ISSMM) & Robotic Contest.

“Sebagaimana negara-negara maju, teknologi nuklir seharusnya diberi kesempatan untuk berkontribusi terhadap pasokan listrik yang berujung pada terjaminnya kemandirian dan keberlanjutan pembangunan nasional,” kata Rektor Unhas Dwia Aries Tina Palubuhu.
(amm)
Berita Terkait
Kapan RI Mencicipi Energi...
Kapan RI Mencicipi Energi Nuklir? Ini Jawabannya
Menilik Potensi Tenaga...
Menilik Potensi Tenaga Nuklir RI, PLTN Bisa Beroperasi hingga 80 Tahun
Mahalnya Pembangunan...
Mahalnya Pembangunan Reaktor Nuklir, Ini Perkiraan Biayanya
Pentagon Diam-diam Kembangkan...
Pentagon Diam-diam Kembangkan Reaktor Nuklir Portabel Mini
Arab Saudi Dorong Penggunaan...
Arab Saudi Dorong Penggunaan Energi Nuklir Secara Damai
Badan Nuklir UEA Izinkan...
Badan Nuklir UEA Izinkan Operasional Unit Kedua PLTN Barakah
Berita Terkini
Ini Tampang Tersangka...
Ini Tampang Tersangka Baru Kasus MBG Memakai Rompi Tahanan Kejagung
Kepulangan Haji Capai...
Kepulangan Haji Capai 55 Persen, Kemenhaj Puji Kedisiplinan Jemaah Haji Indonesia
Pangi Chaniago: Kisruh...
Pangi Chaniago: Kisruh Dialog UGM Cerminan Menumpuknya Kemarahan Publik
Muktamar NU Harus Jadi...
Muktamar NU Harus Jadi Momentum Pemurnian, Bukan Arena Perebutan Kekuasaan
Kejagung Ungkap Peran...
Kejagung Ungkap Peran Glory Harimas Sihombing di Kasus Korupsi MBG: Jual Titik SPPG
Glory Harimas Sihombing...
Glory Harimas Sihombing Jadi Tersangka Baru Korupsi MBG
Infografis
Sniper Udara Paling...
'Sniper Udara' Paling Ditakuti Dunia Perkuat Pertahanan Udara Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved