OTT Kepala Daerah Turunkan Partisipasi Masyarakat di Pilkada

Rabu, 27 September 2017 - 03:02 WIB
OTT Kepala Daerah Turunkan...
OTT Kepala Daerah Turunkan Partisipasi Masyarakat di Pilkada
A A A
JAKARTA - Penangkapan sejumlah kepala daerah oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) karena terjerat kasus korupsi, dikhawatirkan menurunkan angka partisipasi masyarakat pada pemilihan kepala daerah (pilkada) 2018.

Kordinator Komite Pemilih Indonesia (TePi) Jeirry Sumampow mengatakan, kekhawatiran akan turunnya angka partisipasi cukup berdasar jika melihat kasus penangkapan dan operasi tangkap tangan (OTT) kepala daerah yang terjadi beruntun dalam beberapa bulan terakhir.

Menurutnya, kekecewaan masyarakat yang wajar ini bisa saja diungkapkan dengan keengganan memilih calon yang ditawarkan pada pemilihan selanjutnya.

"Saya kira memang kasus begini menimbulkan apatisme pemilih. Orang yang mereka pilih tidak bekerja baik. Lalu orang mulai ragu, mempertanyakan visi misi. Ini menimbulkan apatisme pemilih berpartisipasi," kata Jeirry saat berbincang dengan Koran SINDO, Selasa (26/9/2017).

(Baca juga: KPK Tetapkan Bupati Cantik Kutai Kertanegara sebagai Tersangka)

Menurut Jeirry, ketidakpercayaan masyarakat juga bisa diungkapkan dengan membandingkan pilihannya yang dulu dengan calon yang ada di pemilihan mendatang. katanya, visi dan misi bisa diabaikan karena menganggap tidak ada kesesuaian antara harapan dengan kenyataan.

"Artinya, masyarakat bisa berpikir kalau begini terus akan sia-sia mereka memilih karena produknya tidak jauh beda dengan dulu atau makin buruk sekarang. Dalam konteks seperti ini bisa membuat partisipasi menurun," ucap Jeirry.

(Baca juga: KPK Benarkan Wali Kota Cilegon Terjaring OTT)

Kondisi ini menurut dia, bisa saja tidak terjadi apabila hadir calon yang memiliki kepribadian berkebalikan dengan kepala daerah yang terjerat kasus korupsi. Meski hal ini tidak juga mudah dilakukan, mengingat perlu ada upaya khusus untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat.

"Calon muncul, yang mampu menarik simpati publik. Kalau seperti ini akan tertutup (kejelekan kepala daerah sebelumnya) oleh pesona calon (baru)," tutur Jeirry.

Cara lain yang bisa dilakukan menurut Jeirry adalah menyosialisasikan pelaksanaan pilkada berintegritas kepada masyarakat. Peran penyelenggara, tokoh masyarakat, partai politik dan calon sangat penting untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat yang hilang.

"Tapi kalau tidak ada calon atau figur yang punya karakter kuat untuk menarik simpati pemilih, bisa saja orang semakin apatis," tandasnya.
(maf)
Berita Terkait
Baru OTT 2 Kali Sepanjang...
Baru OTT 2 Kali Sepanjang Semester I Tahun 2025, KPK Minta Maaf
OTT KPK di Bengkulu...
OTT KPK di Bengkulu Diduga Terkait Pendanaan Pilkada
Breaking News: OTT Lagi,...
Breaking News: OTT Lagi, KPK Tangkap Pejabat Pengadilan di Surabaya
KPK Lakukan Tangkap...
KPK Lakukan Tangkap Tangan di Jakarta dan Semarang
KPK OTT Pejabat Daerah...
KPK OTT Pejabat Daerah di Kuansing Riau
Selama KPK Berdiri Sudah...
Selama KPK Berdiri Sudah 141 OTT Digelar dan 100% Terbukti di Persidangan
Berita Terkini
Kubu Roy Suryo Tepis...
Kubu Roy Suryo Tepis Berkas Kasus Pencemaran Nama Baik Terkait Ijazah Jokowi Sudah P21
Roy Suryo Bandingkan...
Roy Suryo Bandingkan Lamanya Penanganan Kasus Ijazah Jokowi dengan Jessica dan Ferdy Sambo
DKPP Pecat Ketua Bawaslu...
DKPP Pecat Ketua Bawaslu Kabupaten Tambrauw karena Terbukti Masih Berstatus ASN
KPK Ungkap Tahapan yang...
KPK Ungkap Tahapan yang Harus Dilalui untuk Ekstradisi Tersangka E-KTP Paulus Tannos
Terima Kunjungan Sekjen...
Terima Kunjungan Sekjen ICAPP, PKB Perkuat Jembatan Diplomasi Politik dengan Korsel
Desak DPR Segera Bahas...
Desak DPR Segera Bahas Revisi UU Pemilu, Perindo: Libatkan Partai Nonparlemen
Infografis
10 Universitas Paling...
10 Universitas Paling Diminati di SNBT 2026, UI Paling Favorit
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved