Pemerintah Dinilai Tak Pernah Usut Kasus Pencurian Organ TKI
Senin, 27 Februari 2017 - 21:00 WIB
Pemerintah Dinilai Tak Pernah Usut Kasus Pencurian Organ TKI
A
A
A
JAKARTA - Tenaga Kerja Indonesia (TKI) rentan menjadi korban pencurian organ bukan hanya karena keluguan mereka. Namun pemerintah pun tidak pernah tuntas melakukan investigasi atas kasus-kasus ini.
Direktur Eksekutif Migrant Care Wahyu Susilo, sangat mendorong pemerintah mengusut tuntas kasus ini. Sebab kasus pencurian organ tubuh yang menimpa TKI tidak pernah tuntas diselidiki pemerintah.
Oleh karena itu, kejadian yang menimpa Sri Rabitah ini wajib menjadi momentum bagi pemerintah untuk investigasi.
"Kasus pencurian organ tubuh tidak pernah tuntas investigasinya. Kasus penembakan TKI yang diduga dicuri organ tubuhnya pada tahun 2012 juga gelap, karena tidak ada keberanian dari pemerintah," kata Wahyu Susilo kepada Koran SINDO, Senin (27/2/2017).
Wahyu mengatakan, hanya dengan investigasi maka dugaan pencurian organ ini bisa dibuktikan kevalidannya. Menurutnya, karena kasus yang menimpa Sri ranahnya di Qatar maka investigasi juga harus memakai jalur diplomasi.
Dia menjelaskan, semestinya ada tindakan rekam medik yang diberlakukan untuk TKI paska operasi besar. Hal ini juga sebagai informasi kesehatan bagi TKI apakah dia menjadi korban malapraktik atau sebagai tahapan penyembuhan berikutnya.
Wahyu tidak bisa menduga apakah memang ada mafia yang bermain di pencurian organ dalam yang khusus menyasar pekerja migran asal Indonesia. Namun perlu diketahui, kata Wahyu, bahwa kasus ini bisa terjadi berulang kali di TKI penempatan negara manapun karena ketiadaan akses informasi yang bisa diakses TKI.
Direktur Eksekutif Migrant Care Wahyu Susilo, sangat mendorong pemerintah mengusut tuntas kasus ini. Sebab kasus pencurian organ tubuh yang menimpa TKI tidak pernah tuntas diselidiki pemerintah.
Oleh karena itu, kejadian yang menimpa Sri Rabitah ini wajib menjadi momentum bagi pemerintah untuk investigasi.
"Kasus pencurian organ tubuh tidak pernah tuntas investigasinya. Kasus penembakan TKI yang diduga dicuri organ tubuhnya pada tahun 2012 juga gelap, karena tidak ada keberanian dari pemerintah," kata Wahyu Susilo kepada Koran SINDO, Senin (27/2/2017).
Wahyu mengatakan, hanya dengan investigasi maka dugaan pencurian organ ini bisa dibuktikan kevalidannya. Menurutnya, karena kasus yang menimpa Sri ranahnya di Qatar maka investigasi juga harus memakai jalur diplomasi.
Dia menjelaskan, semestinya ada tindakan rekam medik yang diberlakukan untuk TKI paska operasi besar. Hal ini juga sebagai informasi kesehatan bagi TKI apakah dia menjadi korban malapraktik atau sebagai tahapan penyembuhan berikutnya.
Wahyu tidak bisa menduga apakah memang ada mafia yang bermain di pencurian organ dalam yang khusus menyasar pekerja migran asal Indonesia. Namun perlu diketahui, kata Wahyu, bahwa kasus ini bisa terjadi berulang kali di TKI penempatan negara manapun karena ketiadaan akses informasi yang bisa diakses TKI.
(maf)