Respons Ketua DPR Soal Jokowi Bilang Demokrasi Kebablasan
Kamis, 23 Februari 2017 - 14:54 WIB
Respons Ketua DPR Soal Jokowi Bilang Demokrasi Kebablasan
A
A
A
JAKARTA - Ketua DPR Setya Novanto (Setnov) ikut mengomentari pernyataan Presiden Joko Widodo (Jokowi), yang menyebut demokrasi saat ini sudah kebablasan dan menyebabkan artikulasi politik yang berpotensi bertentangan dengan Pancasila.
Setnov mengatakan, pernyataan Presiden yang disampaikan menyikapi kondisi sosial politik di negeri ini memiliki dasar. "Tentu beliau Presiden tahu betul situasi saat ini," kata Setnov di Gedung DPR, Senayan, Jakarta Selatan, Kamis (23/2/2017).
Disebutkan Setnov, Presiden secara reguler mendapatkan informasi dari pihak atau lembaga negara yang memiliki unsur intelijen guna meneropong kondisi terkini masyarakat.
Ketua Umum Partai Golkar ini berharap, semua pihak turut menjaga keamanan Indonesia. Dia berpesan kepada masyarakat untuk tetap bersatu meski punya pandangan politik yang berbeda.
"Kita harapkan suasana aman, tenang, dan kita tentu menghargai ulama-ulama yang sedang terus menentramkan situasi negara kita," ucap Novanto.
Sebelumnya, Presiden Jokowi menyebut praktik demokrasi politik saat ini sudah membuka peluang terjadinya artikulasi politik yang tak biasa. Seperti liberalisme, radikalisme, fundamentalisme, sektarianisme, dan lainnya yang bertentangan dengan ideologi Pancasila.
Jokowi juga menyayangkan banyaknya peredaran fitnah, kabar bohong, serta saling mencaci, dan menghujat. Presiden Jokowi khawatir hal tersebut akan menjurus pada perpecahan bangsa.
Setnov mengatakan, pernyataan Presiden yang disampaikan menyikapi kondisi sosial politik di negeri ini memiliki dasar. "Tentu beliau Presiden tahu betul situasi saat ini," kata Setnov di Gedung DPR, Senayan, Jakarta Selatan, Kamis (23/2/2017).
Disebutkan Setnov, Presiden secara reguler mendapatkan informasi dari pihak atau lembaga negara yang memiliki unsur intelijen guna meneropong kondisi terkini masyarakat.
Ketua Umum Partai Golkar ini berharap, semua pihak turut menjaga keamanan Indonesia. Dia berpesan kepada masyarakat untuk tetap bersatu meski punya pandangan politik yang berbeda.
"Kita harapkan suasana aman, tenang, dan kita tentu menghargai ulama-ulama yang sedang terus menentramkan situasi negara kita," ucap Novanto.
Sebelumnya, Presiden Jokowi menyebut praktik demokrasi politik saat ini sudah membuka peluang terjadinya artikulasi politik yang tak biasa. Seperti liberalisme, radikalisme, fundamentalisme, sektarianisme, dan lainnya yang bertentangan dengan ideologi Pancasila.
Jokowi juga menyayangkan banyaknya peredaran fitnah, kabar bohong, serta saling mencaci, dan menghujat. Presiden Jokowi khawatir hal tersebut akan menjurus pada perpecahan bangsa.
(maf)