BNPT Apresiasi Atas Terungkapnya Terduga Teroris di Tangerang
Jum'at, 23 Desember 2016 - 11:49 WIB
BNPT Apresiasi Atas Terungkapnya Terduga Teroris di Tangerang
A
A
A
JAKARTA - Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengapresiasi atas pengungkapan beberapa rencana aksi teror seperti di Serpong, Tangerang dan Bekasi. Padahal di negara lain, beberapa aksi terorisme telah mencoreng kehidupan damai di muka bumi.
Kepala BNPT Komjen Pol Suhardi Alius mengatakan, di Turki Duta Besar Rusia ditembak mati, kemudian Yaman, bom bunuh diri menewaskan puluhan korban. Selanjutnya, kata dia di Berlin Jerman, terjadi aksi teror dengan menabrakkan truk ke Pasar Natal.
Bahkan, lanjut dia di Zurich, Swiss, sebuah masjid ditembaki oleh teroris yang menewaskan beberapa korban. Terakhir, di Irak, aksi bom bunuh diri menewaskan puluhan orang.
"Tapi kita tidak boleh lengah karena masih banyak sel teroris yang masih hidup di Indonesia. Kita harus terus bekerja keras melakukan sinergi dengan Densus 88 dan detasemen antiteror TNI, bagaimana mencegah dan mengurangi ancaman dan tindak pidana terorisme di Indonesia,” ujar Suhardi, Jakarta, Jumat (23/12/2016).
Dia mengingatkan, terorisme tidak bisa dilihat dari sudut pandang penindakan saja, tapi harus dirunut mulai dari akar radikalisme sampai menjadi terorisme. Dia berharap semua program terkait terorisme, baik pencegahan, penindakan, dan deradikalisasi bisa berjalan baik untuk meninimalisasi potensi ancaman terorisme di Indonesia. (Baca: Polisi Tunggu Keluarga Tiga Terduga Teroris Tangsel)
“Artinya sebelum mereka keluar, kita harus bisa mereduksi tingkat radikalisasi, sehingga saat keluar mereka benar-benar telah sembuh," ucapnya.
Kepala BNPT Komjen Pol Suhardi Alius mengatakan, di Turki Duta Besar Rusia ditembak mati, kemudian Yaman, bom bunuh diri menewaskan puluhan korban. Selanjutnya, kata dia di Berlin Jerman, terjadi aksi teror dengan menabrakkan truk ke Pasar Natal.
Bahkan, lanjut dia di Zurich, Swiss, sebuah masjid ditembaki oleh teroris yang menewaskan beberapa korban. Terakhir, di Irak, aksi bom bunuh diri menewaskan puluhan orang.
"Tapi kita tidak boleh lengah karena masih banyak sel teroris yang masih hidup di Indonesia. Kita harus terus bekerja keras melakukan sinergi dengan Densus 88 dan detasemen antiteror TNI, bagaimana mencegah dan mengurangi ancaman dan tindak pidana terorisme di Indonesia,” ujar Suhardi, Jakarta, Jumat (23/12/2016).
Dia mengingatkan, terorisme tidak bisa dilihat dari sudut pandang penindakan saja, tapi harus dirunut mulai dari akar radikalisme sampai menjadi terorisme. Dia berharap semua program terkait terorisme, baik pencegahan, penindakan, dan deradikalisasi bisa berjalan baik untuk meninimalisasi potensi ancaman terorisme di Indonesia. (Baca: Polisi Tunggu Keluarga Tiga Terduga Teroris Tangsel)
“Artinya sebelum mereka keluar, kita harus bisa mereduksi tingkat radikalisasi, sehingga saat keluar mereka benar-benar telah sembuh," ucapnya.
(kur)