Dokter Indra Tahu Siapa Saja Rekannya yang Pakai Vaksin Palsu
Senin, 18 Juli 2016 - 16:33 WIB
Dokter Indra Tahu Siapa Saja Rekannya yang Pakai Vaksin Palsu
A
A
A
JAKARTA - Dokter Rumah Sakit Harapan Bunda atas nama Indra Sugiarno yang terlibat dalam peredaran vaksin palsu untuk bayi telah resmi ditahan di Bareskrim Polri.
Dokter Indra diduga membeli vaksin yang bukan dari distributor resmi, melainkan dari seorang sales pemasok obat dengan inisial S. Pasalnya, sejak awal Januari 2016 ketersedian vaksin mengalami kekosongan namun permintaan terus bertambah.
Menurut kuasa hukum Indra, Fahmi Rajab selain Indra ada beberapa dokter di Rumah Sakit Harapan Bunda yang juga membeli vaksin bukan dari distributor resmi.
"Hampir semua karena sales kan ketemu dokter, ada juga yang gunakan. Cuma, masalahnya kenapa dokter Indra," ujar Fahmi di Bareskrim Polri, Jakarta, Senin (18/7/2016).
Walaupun ada dokter lain yang juga melakukan, tapi belum tahu apakah kliennya nantinya akan membocorkan hal tersebut pada penyidik atau tidak. "Kita lihat nanti perkembangannya. Kita juga akan koordinasi dengan pihak terkait barang itu ke mana aja, enggak mungkin kesatu orang," ujarnya.
Fahmi menambahkan karena tidak ada ketersediaannya vaksin maka masuklah vaksin yang tidak resmi dan banyak digunakan oleh dokter lain juga.
"Enggak mungkin hanya dipasok ke satu dokter aja, pasti juga ke dokter lain. Logikanya seperti itu, pasti ada dokter lain yang gunakan," tambahnya.
Dokter Indra diduga membeli vaksin yang bukan dari distributor resmi, melainkan dari seorang sales pemasok obat dengan inisial S. Pasalnya, sejak awal Januari 2016 ketersedian vaksin mengalami kekosongan namun permintaan terus bertambah.
Menurut kuasa hukum Indra, Fahmi Rajab selain Indra ada beberapa dokter di Rumah Sakit Harapan Bunda yang juga membeli vaksin bukan dari distributor resmi.
"Hampir semua karena sales kan ketemu dokter, ada juga yang gunakan. Cuma, masalahnya kenapa dokter Indra," ujar Fahmi di Bareskrim Polri, Jakarta, Senin (18/7/2016).
Walaupun ada dokter lain yang juga melakukan, tapi belum tahu apakah kliennya nantinya akan membocorkan hal tersebut pada penyidik atau tidak. "Kita lihat nanti perkembangannya. Kita juga akan koordinasi dengan pihak terkait barang itu ke mana aja, enggak mungkin kesatu orang," ujarnya.
Fahmi menambahkan karena tidak ada ketersediaannya vaksin maka masuklah vaksin yang tidak resmi dan banyak digunakan oleh dokter lain juga.
"Enggak mungkin hanya dipasok ke satu dokter aja, pasti juga ke dokter lain. Logikanya seperti itu, pasti ada dokter lain yang gunakan," tambahnya.
(kri)