Demi Kursi Ketum Golkar, Politikus Ini Rela Jual Tanahnya di Bali
Minggu, 24 April 2016 - 15:39 WIB
Demi Kursi Ketum Golkar, Politikus Ini Rela Jual Tanahnya di Bali
A
A
A
JAKARTA - Bukan hal mudah bagi kader untuk ikut bertarung dalam pemilihan ketua umum Golkar yang rencananya digelar 25-27 Mei mendatang.
Salah satunya mengenai keharusan setiap calon ketua umum memberikan sumbangan untuk membiayai penyelenggaraan Musyawarah Nasional (Munas) Golkar.
Demi memenuhi syarat itu, salah satu bakal calon ketua umum (caketum) Golkar Mahyudin berpikir untuk menjual tanahnya yang berada di wilayah Tabanan, Provinsi bali.
Hal itu diungkapkan Mahyudin saat acara sosialisasi calon ketua umum (caketum) di Kantor DPD Partai Golkar Bali, Denpasar, Bali, Minggu (24/4/2016). "Rencananya saya habis ini mau jual tanah di Tabanan," kata Mahyudin.
Dia mengganggap sumbangan yang ditetapkan oleh partai bagi caketum Golkar yang mencapai Rp10 milliar terlalu besar. Tidak hanya terlalu besar, Mahyudin menganggap sumbangan sebesar itu justru bisa merusak citra Golkar.
"Memang ini bukan iuran tapi sumbangan. Tapi kalau bisa itu disederhanakan lagi. Melihat bobot acaranya, kalau membutuhkan dana Rp90 miliar itu ya tidak apa-apa. Kalau bisa ya turun lagi, tidak sebesar itu," ungkap Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) itu.
Dia mengakui sanggup untuk menyumbang sebesar Rp1 miliar-3 miliar. Namun dia menolak bila sumbangan itu dianggap mahar politik. "Bukan mahar politik tapi uang sumbangan," ujarnya.
Salah satunya mengenai keharusan setiap calon ketua umum memberikan sumbangan untuk membiayai penyelenggaraan Musyawarah Nasional (Munas) Golkar.
Demi memenuhi syarat itu, salah satu bakal calon ketua umum (caketum) Golkar Mahyudin berpikir untuk menjual tanahnya yang berada di wilayah Tabanan, Provinsi bali.
Hal itu diungkapkan Mahyudin saat acara sosialisasi calon ketua umum (caketum) di Kantor DPD Partai Golkar Bali, Denpasar, Bali, Minggu (24/4/2016). "Rencananya saya habis ini mau jual tanah di Tabanan," kata Mahyudin.
Dia mengganggap sumbangan yang ditetapkan oleh partai bagi caketum Golkar yang mencapai Rp10 milliar terlalu besar. Tidak hanya terlalu besar, Mahyudin menganggap sumbangan sebesar itu justru bisa merusak citra Golkar.
"Memang ini bukan iuran tapi sumbangan. Tapi kalau bisa itu disederhanakan lagi. Melihat bobot acaranya, kalau membutuhkan dana Rp90 miliar itu ya tidak apa-apa. Kalau bisa ya turun lagi, tidak sebesar itu," ungkap Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) itu.
Dia mengakui sanggup untuk menyumbang sebesar Rp1 miliar-3 miliar. Namun dia menolak bila sumbangan itu dianggap mahar politik. "Bukan mahar politik tapi uang sumbangan," ujarnya.
(dam)