DPR Patut Bentuk Pansus Freeport

Minggu, 13 Desember 2015 - 12:02 WIB
DPR Patut Bentuk Pansus...
DPR Patut Bentuk Pansus Freeport
A A A
JAKARTA - Wacana pembentukan panitia khusus (pansus) DPR untuk menyelidiki persoalan di PT Freeport mendapat respons positif.

Pembentukan pansus dinilai sebagai langkah tepat untuk menyelesaikan berbagai persoalan di perusahaan tambang milik Amerika Serikat itu.

Pengamat Politik dari Universitas Indonesia (UI) Agung Supriyo menilai Pansus Freeport harus dibentuk lantaran keberadaan perusahaan itu sudah sejak lama menjadi kontroversi.

Menurut dia, langkah pertama yang harus dilakukan pansus ialah menyelidiki negosiasi yang dilakukan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineradiselidiki adalah permasalahan negosiasi yang sudah dilakukan oleh Menteri ESDM Sudirman Said. (Baca juga: Ini Rilis Kesepakatan Perpanjangan Kontrak Freeport)

Pasalnya, kata dia, Sudirman telah membalas surat permohonan atas perpanjangan kontrak dari PT Freeport Indonesia pada 7 Oktober 2015. (Baca juga: Kementerian ESDM Klarifikasi Surat Perpanjangan Kontrak PT Freeport)

Padahal dalam Undang-Undang Minerba, sambung Agung, negosiasi perpanjangan kontrak dilakukan dua tahun sebelum masa perpanjangan kontrak habis.

"Seharusnya negosiasi dilakukan dua tahun sebelum kontrak habis. Kontrak habis 2021 jadi harusnya 2019 baru lakukan negosiasi. Kalau kita melihat surat dari Sudirman Said lalu juga ada Freeport. Freeport juga memajang saham mereka naik, itu harus ada konfirmasi. Itu ada indikasi pelanggaran," tutur Agung kepada Sindonews, Minggu (13/12/2015).

Kedua, kata Agung, Sudirman Said juga juga telah mengizinkan ekspor konsentrat. Padahal dalam UU Minerba juga dilarang.

Menurut Agung, atas dasar hal itu maka DPR sudah seharusnya membentuk pansus untuk mengusut adanya dugaan-dugaan pelanggaran terkait Freeport.

"Saya kira wajar kalau kemudian DPR membuat Pansus," tegasnya.

Kendati demikian Agung berharap pembentukan Pansus Freeport tidak atas dasar dendam, namun didasarkan atas kepentingan nasional.

"Maksudnya dangan karena kepentingan daripada kelompok atau individu, yakni kepentingan partai ataupun salah satu koalisi," tandas Agung. (Alfaaa)


PILIHAN:

Dibanding Rezim SBY, Kinerja Era Jokowi Dinilai Lebih Lambat
(dam)
Berita Terkait
Smelter Freeport di...
Smelter Freeport di Gresik Terbakar, Tim Gabungan Damkar Dikerahkan ke Lokasi
Smelter Manyar Jadi...
Smelter Manyar Jadi Titik Awal Integrasi Industri dan Lingkungan Hidup
Produksi Katoda Dimulai,...
Produksi Katoda Dimulai, Smelter PTFI Jadi Contoh Hilirisasi Pro-Rakyat
Tarif Impor AS Tak Guncang...
Tarif Impor AS Tak Guncang Smelter Nasional, Diversifikasi Ekspor Jadi Kunci Hilirisasi
PT Freeport Indonesia...
PT Freeport Indonesia Raih Pengakuan Global Esri untuk Inovasi dan Dampak Keberlanjutan
PTFI Perkuat Fondasi...
PTFI Perkuat Fondasi Ekonomi Papua Tengah, Dorong Pertumbuhan Berkelanjutan lewat Investasi Jangka Panjang
Berita Terkini
Dukung Naniek S Deyang...
Dukung Naniek S Deyang Pimpin BGN, Arus Bawah Prabowo Minta Program MBG Dibenahi
Wamenkum: 20 DIM RUU...
Wamenkum: 20 DIM RUU Polri Bakal Dibahas Bareng DPR
2 Pengusaha Divonis...
2 Pengusaha Divonis 1,5 Tahun Penjara, Kuasa Hukum: PT KEM Korban Sistem di Kemnaker
Silmy Karim Jadi Tersangka...
Silmy Karim Jadi Tersangka KPK, Mensesneg: Kita Perang Melawan Korupsi
Pertama Dalam Sejarah,...
Pertama Dalam Sejarah, Kemenag Lantik 15 Perempuan Jadi Kepala KUA
Tak Kaget Dadan dan...
Tak Kaget Dadan dan Silmy Terjerat Kasus Korupsi, Noel: Juni-Juli Banyak Pejabat Ditangkap KPK
Infografis
Profil Rahayu Saraswati,...
Profil Rahayu Saraswati, Keponakan Prabowo yang Mundur dari DPR
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved