PDIP Ngotot Pemerintah Harus Minta Maaf ke Soekarno
Selasa, 06 Oktober 2015 - 19:34 WIB
PDIP Ngotot Pemerintah Harus Minta Maaf ke Soekarno
A
A
A
JAKARTA - Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) tetap menginginkan pemerintah meminta maaf kepada Presiden ke-1 Soekarno. PDIP menilai masih ada sejarah yang perlu diluruskan terkait dukungannya terhadap Partai Komunis Indonesia (PKI).
"Harus ada pelusuran sejarah, di buku sejarah masih ada nama Soekarno yang dikaitkan dengan PKI," ujar politikus PDIP Masinton Pasaribu di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (6/10/2016).
Anggota Komisi III DPR itu menegaskan, jika negara meminta maaf kepada Soekarno, maka secara otomatis akan meluruskan sejarah yang ?selama ini telah merugikan pihak-pihak yang dituduhkan. "Dan menyampaikan maafnya kepada orang-orang yang dituduhkan itu," ucap Masinton.
Masinton pun mengaku tidak sepakat atas pernyataan Titiek Soeharto. Lantaran, putri Presiden ke-2 Indonesia itu memertanyakan kenapa pemerintah harus meminta maaf, padahal negera juga telah mengabadikan Soekarno menjadi nama jalan dan Bandara?
"Jangan diberi sejarah beda-beda, untuk pemberian gelar pahlawan, nama jalan, nama bandara, apa itu cukup? Saya rasa belum. Sejak lama Bung Karno disimpangkan namanya," tandasnya.
"Harus ada pelusuran sejarah, di buku sejarah masih ada nama Soekarno yang dikaitkan dengan PKI," ujar politikus PDIP Masinton Pasaribu di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (6/10/2016).
Anggota Komisi III DPR itu menegaskan, jika negara meminta maaf kepada Soekarno, maka secara otomatis akan meluruskan sejarah yang ?selama ini telah merugikan pihak-pihak yang dituduhkan. "Dan menyampaikan maafnya kepada orang-orang yang dituduhkan itu," ucap Masinton.
Masinton pun mengaku tidak sepakat atas pernyataan Titiek Soeharto. Lantaran, putri Presiden ke-2 Indonesia itu memertanyakan kenapa pemerintah harus meminta maaf, padahal negera juga telah mengabadikan Soekarno menjadi nama jalan dan Bandara?
"Jangan diberi sejarah beda-beda, untuk pemberian gelar pahlawan, nama jalan, nama bandara, apa itu cukup? Saya rasa belum. Sejak lama Bung Karno disimpangkan namanya," tandasnya.
(hyk)