Uni Eropa Bahas Kuota Migran

Selasa, 08 September 2015 - 09:18 WIB
Uni Eropa Bahas Kuota...
Uni Eropa Bahas Kuota Migran
A A A
BERLIN - Uni Eropa (UE) menyiapkan kuota baru bagi tiap negara untuk menampung para migran dari Timur Tengah dan Afrika.

Sebagai dua negara ekonomi terbesar UE, Jerman dan Prancis akan menampung hampir setengah dari 120.000 pencari suaka baru. Jerman menjanjikan tambahan enam miliar euro untuk membantu para pengungsi pelintas batas. Adapun Prancis berjanji menampung 24.000 migran dalam dua tahun mendatang.

Kanselir Jerman Angela Merkel menyatakan aksi solidaritas spontan dari ratusan warga Jerman yang menyambut para migran asal Suriah dan lainnya di stasiun kereta, sangat melegakan. Para relawan memberikan hadiah dan sambutan bagi para pengungsi yang turun dari kereta. ”Apa yang kita alami sekarang ialah sesuatu yang akan menempati dan mengubah negara kita dalam beberapa tahun mendatang,” ujar Merkel dilansir AFP.

Pernyataan Merkel itu muncul saat Presiden Prancis Francois Hollande berjanji negaranya akan mengambil peran lebih besar. Setelah mendapat tekanan dari Paris dan Berlin, UE bersedia menyiapkan kuota baru untuk menampung para migran, sesuai rencana Kepala Komisi Eropa Jean-Claude Juncker. ”Menurut proposal Juncker, Jerman akan menampung 31.443 migran dan Prancis 24.031 pengungsi, untuk meringankan beban Yunani, Italia, dan Hungaria. Spanyol akan menampung 14.931 pengungsi,” papar sumber dari Eropa kepada AFP .

Jumlah migran terus meningkat sejak Jumat (4/9) lalu, saat Austria dan Jerman membuka pintu perbatasannya dan melonggarkan pembatasan perjalanan untuk mengizinkan masuk ribuan orang yang telah berada di Hungaria. Pemerintahan Merkel yang diperkirakan menerima 800.000 pencari suaka tahun ini, mengajukan penambahan dana USD6,7 miliar untuk perumahan dan makanan para pendatang baru pada tahun depan. Jumlah pencari suaka yang diterima Jerman itu naik empat kali lipat dibandingkan tahun lalu.

”Pada beberapa pekan dan bulan ini, Jerman menjadi tujuan untuk para pengungsi yang menginginkan perlindungan dari perang, pembunuhan dan teror,” ungkap koalisi pemerintahan berkuasa Jerman. Ratusan pengungsi dan anak-anak mereka duduk sambil berselimut di luar pusat pendaftaran pengungsi Berlin. Kondisi serupa tampak di penjuru negeri. Meski demikian, pemerintah menyambut aksi solidaritas warga Jerman kepada para pengungsi.

Pemerintah menyatakan ekonomi negara itu kuat untuk menghadapi tantangan tersebut. Jerman hingga saat ini menerima pengungsi paling banyak dibandingkan negara-negara UE lainnya. Kendati demikian, negara itu juga ingin meminta negara lain di UE turut berperan. Merkel telah bertemu Perdana Menteri (PM) Serbia Aleksandar Vucic kemarin. Serbia merupakan salah satu rute pengungsi Balkan menuju Eropa Barat.

Di sisi lain, Eropa mengalami perpecahan tentang cara mengatasi krisis tersebut. Menurut Kepala Urusan Pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres, krisis migran dapat dikelola jika negaranegara Eropa bersedia mengambil pendekatan bersama. ”Sistem pencari suaka Eropa sangat buruk. Beberapa negara membuat langkah penting dan lainnya tidak melakukannya. Situasi dapat diatasi jika setiap pihak menyepakati rencana aksi bersama,” paparnya.

PM Turki Ahmed Davutoglu mengecam sedikitnya peran negara-negara UE dalam menampung para pengungsi. Menurut Davutoglu, Turki telah menampung lebih dari dua juta orang dari perang sipil di Suriah dan Irak. Pernyataan Davutoglu itu muncul beberapa hari setelah Hungaria menyatakan kekhawatiran tentang dampak pengungsi muslim di Eropa yang berbudaya kristen.

Hungaria telah membangun pagar untuk menghalangi para migran masuk, setelah sekitar 50.000 pengungsi baru tiba Agustus. Paus Fransiskus menyerukan pendekatan berbeda dengan mendorong setiap komunitas religius, setiap biara, di Eropa menampung satu keluarga.

”Menghadapi tragedi puluhan ribu pencari suaka yang lari dari kematian sebagai korban perang dan kelaparan yang mengharapkan dapat memulai hidup baru, panggilan suci pada kita untuk menjadi tetangga mereka yang paling kecil dan ditinggalkan,” ujar Paus.

Syarifudin
(ars)
Berita Terkait
Rakyat Myanmar Siap...
Rakyat Myanmar Siap Laksanakan Pemilihan Umum Minggu Ini
Polisi Italia Sita 6,6...
Polisi Italia Sita 6,6 Ton Ganja dalam Kapal Pesiar Bendera Amerika
Film Horor hingga Superhero,...
Film Horor hingga Superhero, 5 Film Indonesia Go International
Israel Meradang karena...
Israel Meradang karena Iran Sukses Luncurkan Satelit Militer
Kartun Menghina Khamenei,...
Kartun Menghina Khamenei, Pemred Media Iran Ditangkap
Pesawat Pakistan Jatuh,...
Pesawat Pakistan Jatuh, Kemlu Sebut Sementara Tidak Ada Korban WNI
Berita Terkini
Wamenkum: 20 DIM RUU...
Wamenkum: 20 DIM RUU Polri Bakal Dibahas Bareng DPR
2 Pengusaha Divonis...
2 Pengusaha Divonis 1,5 Tahun Penjara, Kuasa Hukum: PT KEM Korban Sistem di Kemnaker
Silmy Karim Jadi Tersangka...
Silmy Karim Jadi Tersangka KPK, Mensesneg: Kita Perang Melawan Korupsi
Pertama Dalam Sejarah,...
Pertama Dalam Sejarah, Kemenag Lantik 15 Perempuan Jadi Kepala KUA
Tak Kaget Dadan dan...
Tak Kaget Dadan dan Silmy Terjerat Kasus Korupsi, Noel: Juni-Juli Banyak Pejabat Ditangkap KPK
ASPEK Indonesia Temui...
ASPEK Indonesia Temui Pimpinan UNI Global Union di Jenewa
Infografis
Kuota Haji 2026 Indonesia...
Kuota Haji 2026 Indonesia Per Provinsi, Berikut Daftarnya
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved