Minal Aidin Walfaizin

Kamis, 16 Juli 2015 - 12:22 WIB
Minal Aidin Walfaizin
Minal Aidin Walfaizin
A A A
Dari zaman saya bersekolah sampai hari ini, ucapan minal aidin walfaizin adalah ucapan yang khas untuk Lebaran.

Saya kira bukan hanya di Jawa Tengah, tempat saya dulu bersekolah sampai kelas 1 SMA, tetapi juga di seluruh Indonesia karena kalau kami (saya dan keluarga) berkirim atau menerima kartu Lebaran, selain ada gambar-gambar masjid, ketupat dan/atau orang-orang bersalaman, adakaligrafidalamhuruflatin yang bunyinya minal aidin walfaizin. Saya tidak tahu arti yang sebenarnya dari kata-kata yang konon adalah bahasa Arab itu.

Meskipun demikian, menurut para ustaz yang lebih tahu, arti kata-kata itu jika dirangkai dengan kalimat asli selengkapnya bermakna doa semoga Allah menjadikan kita sebagai orang-orang yang beruntung. Tapi kata-kata itu, dalam tradisi Indonesia, selalu bersambung dengan sebuah kalimat lain sehingga membentuk pantun sebagai berikut ”minal aidin walfaizin, mohon maaf lahir batin”.

Karena itu saya selalu mengartikan kalimat minal aidin walfaizin sebagai mohon maaf lahir batin. Namanya juga Lebaran, yaitu hari bermaaf- maafan. Tapi beberapa belas atau puluh tahun yang terakhir ini, secara perlahan tapi pasti kata-kata minal aidin walfaizin digeser oleh kalimat Arab yang lain, yang konon asli diajarkan oleh Rasulullah, yaitu taqabbalallahu minna waminkum, yang artinya ”semoga Allah menerima amalan aku dan kamu”, jadi juga tidak berarti saling memaafkan.

Dan memang benar, di Arab sana, Idul Fitri memang tidak ada kaitannya dengan hari saling memaafkan. Bahkan mungkin dalam budaya Arab (bukan dalam agama Islam, loh), tidak ada kebiasaan saling memaafkan sama sekali. Karena itulah Timur Tengah tidak pernah lepas dari konflik dan perang.

Lain dengan Indonesia yang masyarakatnya pada dasarnya memang pemaaf sehingga bangsa Indonesia yang sangat multietnik, multibahasa, dan multiagama bisa hidup rukun, sementara di Arab yang monoetnik dan monobahasa, walaupun berbedabeda negara, tidak ada saling memaafkan untuk mengantarkan mereka pada situasi perdamaian. Tulisan saya kali ini tidak hendak membahas perbedaan makna antara minal aidin dan taqabbalallahu minna.

Saya justru ingin membahas tradisi Lebaran (mungkin dari kata ”lebur”, yaitu meleburkan kesalahan masa lalu) itu sendiri yang intinya adalah saling bermaafan. Memaafkan, memberi atau meminta maaf sering dianggap barang gampang. Pokoknya mau duduk bersama, saling mengakui kesalahan, ikhlas dan islah, maka selesai. Padahal kenyataannya jauh dari itu. Konflik sektarian di Ambon dan Maluku akhirnya selesai setelah empat tahun dan ribuan korban berjatuhan dari pihak Islam maupun Kristen.

Tapi di Kalimantan Barat, sampai hari ini (sudah 15 tahun), orang Madura belum berani masuk ke bekas kampung dan kebun mereka di wilayah Dayak atau Melayu karena sudah banyak yang cobacoba dan pulang hanya nama. Pada tingkat antarindividu, ada istri-istri yang tidak mau memaafkan suaminya yang selingkuh walaupun suami sudah mengakui kesalahan dan berkali- kali minta maaf.

Kata sang istri setiap kali melihat wajah suaminya, ia terbayang wajah selingkuhan suaminya sehingga ia merasa muak. Bahkan sang istri selalu menghindari mal tempat ia memergoki suaminya sedang berduaan dengan selingkuhannya karena setiap kali lewat mal itu, dia juga muak, bahkan mau muntah. Padahal mal itu salah apa?

Sebaliknya pelaku-pelaku kerusuhan Tanjung Priok tahun 1984, baik pihak tokoh dan umat Islam setempat maupun para mantan pimpinan tentara pada waktu itu bisa islah dan menuntaskan konflik dengan damai, walaupun prosesnya bertahun-tahun lamanya. Demikian juga putra-putri pahlawan revolusi dan anak-anak tokoh yang pernah dianggap sebagai pelaku G-30-S PKI tahun 1965 sekarang punya forum komunikasi tempat mereka saling berbagi perasaan dan pikiran.

Dan jangan lupa, tokoh yang paling fenomenal dalam soal maaf-memaafkan ini adalah almarhum Nelson Mandella, yang selama 25 tahun dipenjara dan disiksa oleh penguasa-penguasa negara Afrika Selatan yang rasis itu, tetapi justru mengundang kepala penjara (kulit putih) yang dulu menyiksanya untuk hadir di upacara pelantikannya sebagai presiden dan mengumumkan kepada khalayak bahwa ia sudah memaafkan sang sipir penjara (padahal hari itu bukan hari Lebaran) dansejakitu, diskriminasidi Afrika Selatan lenyap seketika.

Jadi saling memaafkan adalah soal psikologis. Dia tidak bisa diselesaikan pada tingkat rasio seperti membuat Tim Pencari Fakta (setiap temuan fakta bisa diingkari lagi oleh salah satu pihak) atau menandatangani prasasti perdamaian atau tanda tangan kontrak damai dan sebagainya. Di Sanggau Ledo, Kalimantan Barat, misalnya, masih berdiri tegak tugu perdamaian antara suku Dayak dan Madura, tetapi permusuhan terus saja berlangsung.

Sebaliknya, kalau hati sedang senang dan pikiran sedang positif, lebih mudah seseorang memberi maaf atau minta maaf. Fakta-fakta bukannya dilupakan karena memang sulit melupakan peristiwa traumatis, tetapi pemaafan tetap terjadi. Forgive although not forget. Nah, di sinilah hebatnya orang Indonesia. Idul Fitri yang aslinya hanya penutup ibadah puasa, dan karena itu juga ditutup dengan doa mohon rahmat puasa, dijadikan Lebaran yang penuh suasana bermaafan.

Maka tidak ada lagi gengsi-gengsian (yang biasanya menjadi kendala utama pemaafan) karena semua orang bermaafan. Orang-orang yang paling heboh bermusuhan pun bisa dengan enteng saling memaafkan karena semua orang memang saling memaafkan.

Karena itu, menghilangkan minal aidin walfaizin dalam artian saling maaf lahir batin dan mengembalikannya ke ajaran Islam murni tanpa tradisi permaafan sebenarnya merugikan syiar Islam itu sendiri karena Islam mengamanatkan perdamaian dan kedamaian, rahmatan lilalamin, yang tentu saja intinya adalah saling memaafkan.

Sarlito Wirawan Sarwono
Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia
(ars)
Berita Terkait
Maria Lumowa Berhasil...
Maria Lumowa Berhasil Diekstradisi ke Indonesia, Simak Kronologis Lengkapnya
Gagal Lolos PPDB, Siswi...
Gagal Lolos PPDB, Siswi Berprestasi Peraih 700 Penghargaan Putus Sekolah
Paskah Nasional 2022...
Paskah Nasional 2022 Wujud Pemulihan Ekonomi Nasional
Hari Pelanggan Nasional...
Hari Pelanggan Nasional 2020
BSSN Gelar Simposium...
BSSN Gelar Simposium Nasional Wujudkan Keamanan Siber Nasional
Libur Panjang Kenaikan...
Libur Panjang Kenaikan Isa Almasih, Ribuan Penumpang Padati Stasiun Lempuyangan Yogyakarta
Berita Terkini
Kasus Ijazah Jokowi,...
Kasus Ijazah Jokowi, Roy Suryo akan Ajukan Penangguhan Penahanan
Perkuat Akuntabilitas...
Perkuat Akuntabilitas Keuangan Daerah, BSKDN Libatkan Akademisi dalam Validasi IPKD
Usai Ziarah ke Makam...
Usai Ziarah ke Makam Soekarno dan Gus Dur, Kapolri Tabur Bunga di Makam Soeharto
Libatkan Mahasiswa saat...
Libatkan Mahasiswa saat Kunker, Gibran Dinilai Perkuat Dialog dan Partisipasi Publik
Kritik Pemadaman Listrik,...
Kritik Pemadaman Listrik, Komisi VI DPR: Tidak Boleh Lagi Terjadi
Disentil Jadi Partai...
Disentil Jadi Partai Penyeimbang, PDIP: Golkar Urus Pemadaman Listrik Saja
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved