Modus Petahana Jelang Pilkada Serentak 2015

Selasa, 07 Juli 2015 - 04:28 WIB
Modus Petahana Jelang...
Modus Petahana Jelang Pilkada Serentak 2015
A A A
JAKARTA - Menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak 2015, ada dugaan petahana (incumbent) menahan realisasi anggaran untuk menaikkan elektabilitas. Hal ini berdampak pada rendahnya penyerapan anggaran sampai 30 Juni 2015.

"Serentaknya di akhir. Dia (petahana) akan tunda semua, karena ini bisa digunakan sebagai alat politik," ujar pakar ekonomi Hendri Saparini di Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Jakarta, Senin 6 Juli 2015.

Hendri mengatakan, dalam kontestasi baik pemilu dan pilkada dikenal adanya election budget. Hal ini sebagai salah satu faktor untuk dapat memenangkan kontestasi.

"Jangan kita bicara hanya APBD, APBN juga begitu. Misalnya saja raskin (beras miskin) itu baru dikeluarkan jelang pemilu," tuturnya.

Menurutnya, anggaran daerah merupakan salah satu kekuatan. Bahkan hal ini tidak saja terjadi di Indonesia.

"Election budget adalah kekuatan dari incumbent," paparnya.

Ini dapat dilihat dengan melakukan survei. Di mana dapat terdata apa saja yang belum direalisasikan di setiap daerah peserta Pilkada Serentak 2015.

"Pasti kalau belum terealisasi itu untuk tingkatkan elektabilitas itu," ucap Hendri.

Diakuinya, Kemendagri bisa membuat sebuah matriks untuk melakukan pengawasan. Apalagi jika daerah sudah menggunakan e-government, maka akan memudahkan realisasi anggaran di daerah.

"Ini akan jadi monitor oleh seluruh masyarakat. Kalau dimonitor realisasinya bisa maksimal dan bisa dipertanyakan jika realisasinya tidak sesuai jadwal," jelasnya.

Kemungkinan ini diamini Direktur Jenderal (Dirjen) Bina Keuangan Daerah (Keuda) Kemendagri, Reydonnyzar Moenek. Menurutnya, banyak kepala daerah dari 269 wilayah yang rencana ikut Pilkada Serentak 2015, akan mengefektifkan anggaran jelang pilkada.

"Maka penyerapan anggaran di daerah pun akan akan bergerak jelang akhir tahun nanti," kata pria yang akrab disapa Donny.

Dia mengakui bahwa anggaran dapat digunakan alat politik untuk meraih dukungan. Pihaknya pun mengimbau daerah untuk segera optimalisasi penyerapan anggaran.

"Kita masih bisa mengimbau, tolong bagi kepala yang ikut pilkada, tidak boleh anggaran daerah bersifat elitis," paparnya.

Pilihan:

Ini Daftar Salah Teken Presiden Jokowi
(maf)
Berita Terkait
Jadwal dan Tahapan Pilkada...
Jadwal dan Tahapan Pilkada Serentak Tahun 2024
Mahfud MD, Setelah Pilkada...
Mahfud MD, Setelah Pilkada Timbul Sejumlah Permasalahan
Kaesang Pangarep Tidak...
Kaesang Pangarep Tidak Bisa Maju Pilkada 2024
Aji Mumpung Anak Mahkota...
Aji Mumpung Anak Mahkota di Pemilihan Kepala Daerah
Kampanye Daring Tak...
Kampanye Daring Tak Diminati Paslon Pilkada Serentak 2020
27 November Akan Ditetapkan...
27 November Akan Ditetapkan sebagai Hari Libur Nasional  
Berita Terkini
UU PFII Bukti Pemerintah...
UU PFII Bukti Pemerintah Serius Bangun Fondasi Ekonomi Jangka Panjang
BGN Perkenalkan Deputi-Sestama...
BGN Perkenalkan Deputi-Sestama Baru, Ada Mantan Kapuspenkum Kejagung
Dugaan Penyamaran Aset...
Dugaan Penyamaran Aset Mantan Jampidsus Febrie Adriansyah Disorot
Jadi Investor Fiktif,...
Jadi Investor Fiktif, 10 WNA Ditangkap Imigrasi
Penguatan Kualitas Lulusan...
Penguatan Kualitas Lulusan Terus Digencarkan SGU
Cerita Megawati Pergoki...
Cerita Megawati Pergoki Intelijen: Hidup Saya Ini Diinteli Terus
Infografis
Jelang Pembebasan Sandera,...
Jelang Pembebasan Sandera, Brigade Al-Qassam Hamas Unjuk Kekuatan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved