Pengawal Kewibawaan Ilmu Pengetahuan

Minggu, 21 Juni 2015 - 10:36 WIB
Pengawal Kewibawaan...
Pengawal Kewibawaan Ilmu Pengetahuan
A A A
Dengan daya intelektualnya yang tinggi, sosok-sosok ini mengharumkan nama bangsa. Mereka menghasilkan sejumlah temuan baru di bidang sains untuk menjawab berbagai soal dalam kehidupan umat manusia. Temuan mereka merupakan sumbangan yang luar biasa besar bagi kebaikan hidup khalayak. Mereka mengawal kewibawaan ilmu pengetahuan.

Indonesia memiliki banyak ilmuwan hebat, bahkan penelitian mereka sudah diakui dunia internasional dan diaplikasikan. Salah satunya adalah Rahmiana Zein. Guru besar yang juga Kepala Laboratorium Kimia Lingkungan Fakultas MIPA Universitas Andalas, Padang, ini merupakan penemu teknik kromatografi tercepat di dunia. Teknik ini adalah teknik pemisahan senyawa kimia yang memanfaatkan pelarut sampel yang akan dipisahkan, fase diam (stationary phase), dan fase bergerak (mobile phase).

Teknik kromatografi saat ini tidak hanya dipakai untuk ilmu kimia. Dalam perkembangannya, teknik ini telah dipakai untuk berbagai bidang keilmuan lain seperti kedokteran, pertanian, peternakan, biologi serta lingkungan. Umumnya para peneliti memerlukan waktu 100-1.000 menit untuk mendiagnosis dan memisahkan senyawa kimia. Namun Rahmiana hanya membutuhkan waktu 10 menit.

Teknik ini ditemukan olehnya pada 1998 saat sedang melakukan penelitian untuk disertasi doktor bidang kimia di Universitas Gipu, Jepang. Saat itu perempuan kelahiran Maninjau, 25 Desember 1956, ini dibimbing Prof Toyohide Takeuchi. Dari temuannya tersebut, Rahmi juga menemukan teori mengenai penciptaan manusia dari tanah hingga menjadi makhluk hidup.

“Tanah mengandung zat kimia, salah satunya protein, kemudian sesuai dengan cara kerja kromatografi, protein akan berproses menjadi fisik manusia. Bahkan, makanan yang masuk ke dalam tubuh manusia pun mengalami proses kromatografis,” urainya. Proses ini menghasilkan ion yang berguna untuk tubuh manusia dan sisanya terbuang melalui feses dan urine. Air, misalnya. Zat yang terdapat dalam air yang diminum manusia secara otomatis akan diserap tubuh apabila dibutuhkan.

Air yang tidak dibutuhkan akan dikeluarkan melalui urine. Di dunia medis, penderita ginjal yang melakukan cuci darah atau hemodialisis menggunakan teknik kromatografi, termasuk dalam kehidupannya seharihari. Teknik kromatografi bukanlah teknik pertama yang ditemukan Rahmi. Istri Edison Munaf ini telah memublikasikan puluhan karya ilmiah baik di lingkup internasional maupun nasional seperti analytic chimica acta, chromatographia, dan environmental technology.

Brain Spa

Sementara itu, Kepala RSPAD Gatot Subroto Brigjen TNI dr Terawan Agus Putranto berhasil mengembangkan teknik melancarkan pembuluh darah di otak dengan teknologi modifikasi digital substraction angiography (DSA). Terawan dikenal memimpin teknik cuci otak (brain wash ) atau dalam bahasa medis adalah teknik DSA.

Dengan teknik yang dikembangkannya sejak 2004 itu, dokter spesialis radiologi intervensi ini telah menyembuhkan ribuan penderita stroke, ringan ataupun berat. Menurut pria kelahiran Citi Sewu (utara Stasiun Tugu), Yogyakarta, 5 Agustus 1964, ini, sebenarnya teknologi DSA sudah ada sejak 1990-an. Dia memodifikasinya agar pasien lebih aman dari ancaman radiasi, termasuk pasien penderita ginjal.

“Modifikasi dilakukan dengan menurunkan proses radiasi dari 300 miligray jadi hanya 25 miligray . Saya juga menurunkan kontras dari 100 cc menjadi kurang dari 10 cc dengan hasil gambaran yang sama,” sebut pria kelahiran Yogyakarta, 5 Agustus 1964, ini. Teknik modifikasi DSA saat ini sudah diterapkan hampir di seluruh rumah sakit di Indonesia. Sudah puluhan ribu pasien tertangani. Mereka datang dari berbagai belahan dunia.

Teknik ini juga sudah digunakan di Rumah Sakit Augusta di Kota Dusseldorf, Jerman, dengan nama DSA Modification Terawan. Meski begitu, di kalangan masyarakat umum, teknik ini dikenal dengan istilah bermacam-macam seperti brain spa atau brain wash . Sejak 2006 hingga kini, Terawan telah mentransfer ilmu modifikasi DSA ini kepada sekitar 85 dokter radiologi intervensi. Berkat keberhasilannya, Terawan telah banyak mendapatkan penghargaan, salah satunya dari Hendropriyono Strategic Consulting (HSC).

Robi ardianto/ dina Angelina
(bbg)
Berita Terkait
Jabatan Apa pun yang...
Jabatan Apa pun yang Diemban, Milenial Harus Punya Integritas
Puasa di Tengah Pandemi...
Puasa di Tengah Pandemi Covid-19, Jaga Gizi Seimbang dan Berpikir Positif
iPhone Bakal Dibekali...
iPhone Bakal Dibekali Kamera Periskop di 2020
Menghadapi Ujian pada...
Menghadapi Ujian pada Hari Kemenangan
New Normal, Kebutuhan...
New Normal, Kebutuhan Alat Olah Raga Baru Meningkat
Bertahan di Tengah Pandemi,...
Bertahan di Tengah Pandemi, Pengusaha Dituntut Kreatif untuk Survive
Berita Terkini
Roy Suryo Sentil Rismon...
Roy Suryo Sentil Rismon Sianipar yang Ungkit Lagi Kasus Panci: Perkara Sudah Inkrah
6 Pejabat TNI AL Berganti,...
6 Pejabat TNI AL Berganti, Kadiskomlekal hingga Kadislitbangal
Presiden Prabowo Fokus...
Presiden Prabowo Fokus pada Kebutuhan Dasar Rakyat dan Kesejahteraan Masyarakat
Kubu Roy Suryo Tepis...
Kubu Roy Suryo Tepis Berkas Kasus Pencemaran Nama Baik Terkait Ijazah Jokowi Sudah P21
Roy Suryo Bandingkan...
Roy Suryo Bandingkan Lamanya Penanganan Kasus Ijazah Jokowi dengan Jessica dan Ferdy Sambo
DKPP Pecat Ketua Bawaslu...
DKPP Pecat Ketua Bawaslu Kabupaten Tambrauw karena Terbukti Masih Berstatus ASN
Infografis
Begini Penjelasan, Mengapa...
Begini Penjelasan, Mengapa Adab Lebih Penting daripada Ilmu
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved