IPW: Kapolri Jangan Ragu Copot Perwira Tak Becus
Minggu, 07 Juni 2015 - 22:42 WIB
IPW: Kapolri Jangan Ragu Copot Perwira Tak Becus
A
A
A
JAKARTA - Indonesia Police Watch (IPW) mendukung langkah Kapolri Jenderal Polisi Badrodin Haiti memutasi 178 perwira tinggi dan perwira menengah.
Ketua Presidium IPW Neta S Pane berharap mutasi akan mendorong munculnya sosok pimpinan kepolisian yang peduli, tanggap dan profesional.
Melalui mutasi ini, lanjut dia, diharapkan tidak ada lagi penyerangan kantor polisi oleh polisi seperti yang terjadi di Nusa Tenggara Barat, tidak ada lagi masyarakat yang membakar kantor polisi seperti di Jambi, dan tidak ada lagi konflik TNI-Polri di berbagai daerah.
"Jika masih terjadi aksi-aksi seperti itu, Kapolri jangan segan-segan untuk mencopot kapolres atau kapoldanya," tutur Neta melalui pesan elektronik kepada Sindonews, Minggu (7/6/2015).
Menurut catatan IPW, terdapat empat hal menarik terkait kebijakan mutasi perwira Polri pada 5 Juni 2015 lalu. Pertama, delapan kapolda yang diganti dengan kader lebih muda. Kedua, kapolda bermasalah atau di daerahnya muncul masalah juga diganti. (Baca: Mabes Polri Rotasi Sejumlah Kapolda)
Ketiga, perwira terbaik saat lulus Akademi Kepolsian (Akpol) atau biasa disebut Adimakayasa dipercaya memegang jabatan strategis. Keempat, mutasi menjadi menarik karena tampilnya sejumlah perwira muda lulusan Akpol 86 dan 87 yang memegang posisi strategis.
"Kapolda Metro Jaya misalnya dipegang Irjen Tito Karnavian, Adimakayasa Akpol 1987 kelahiran tahun 1964. Lalu ada Brigjen Agung Budi Maryoto, Akpol 87 kelahiran 1965 yang menjadi Kapolda Kalsel. Menurut catatan IPW, saat ini Kapolda termuda adalah Kapolda Banten Brigjen Pol Boy Rafli lulusan Akpol 88 A kelahiran tahun 1965," tutur Neta.
Neta mengatakan mutasi ini kali pertama pada era kepemimpinan Kapolri Jenderal Polisi Badrodin Haiti dan Wakapolri Komisaris Jenderal Polisi Budi Gunawan.
"IPW berharap dalam tiga bulan pertama, Kapolri-Wakapolri harus mengevaluasi kinerja para perwira yang dimutasinya. Jika mereka dinilai tidak becus, pimpinan Polri jangan segan-segan mencopotnya dan mengganti dengan perwira yang lebih baik," kata Neta
Ketua Presidium IPW Neta S Pane berharap mutasi akan mendorong munculnya sosok pimpinan kepolisian yang peduli, tanggap dan profesional.
Melalui mutasi ini, lanjut dia, diharapkan tidak ada lagi penyerangan kantor polisi oleh polisi seperti yang terjadi di Nusa Tenggara Barat, tidak ada lagi masyarakat yang membakar kantor polisi seperti di Jambi, dan tidak ada lagi konflik TNI-Polri di berbagai daerah.
"Jika masih terjadi aksi-aksi seperti itu, Kapolri jangan segan-segan untuk mencopot kapolres atau kapoldanya," tutur Neta melalui pesan elektronik kepada Sindonews, Minggu (7/6/2015).
Menurut catatan IPW, terdapat empat hal menarik terkait kebijakan mutasi perwira Polri pada 5 Juni 2015 lalu. Pertama, delapan kapolda yang diganti dengan kader lebih muda. Kedua, kapolda bermasalah atau di daerahnya muncul masalah juga diganti. (Baca: Mabes Polri Rotasi Sejumlah Kapolda)
Ketiga, perwira terbaik saat lulus Akademi Kepolsian (Akpol) atau biasa disebut Adimakayasa dipercaya memegang jabatan strategis. Keempat, mutasi menjadi menarik karena tampilnya sejumlah perwira muda lulusan Akpol 86 dan 87 yang memegang posisi strategis.
"Kapolda Metro Jaya misalnya dipegang Irjen Tito Karnavian, Adimakayasa Akpol 1987 kelahiran tahun 1964. Lalu ada Brigjen Agung Budi Maryoto, Akpol 87 kelahiran 1965 yang menjadi Kapolda Kalsel. Menurut catatan IPW, saat ini Kapolda termuda adalah Kapolda Banten Brigjen Pol Boy Rafli lulusan Akpol 88 A kelahiran tahun 1965," tutur Neta.
Neta mengatakan mutasi ini kali pertama pada era kepemimpinan Kapolri Jenderal Polisi Badrodin Haiti dan Wakapolri Komisaris Jenderal Polisi Budi Gunawan.
"IPW berharap dalam tiga bulan pertama, Kapolri-Wakapolri harus mengevaluasi kinerja para perwira yang dimutasinya. Jika mereka dinilai tidak becus, pimpinan Polri jangan segan-segan mencopotnya dan mengganti dengan perwira yang lebih baik," kata Neta
(dam)