Miliarder Bukan untuk Dimusuhi, tetapi Diteladani

Sabtu, 06 Juni 2015 - 10:59 WIB
Miliarder Bukan untuk...
Miliarder Bukan untuk Dimusuhi, tetapi Diteladani
A A A
Politisi dan miliarder umumnya saling dukung dan berkoalisi. Keduanya saling membutuhkan. Miliarder menginginkan kelancaran bisnisnya, sedangkan politisi membutuhkan donasi benar untuk kampanye.

Tapi hubungan miliarder dan politisi tak selamanya mesra. Leon Cooperman, miliarder Amerika Serikat (AS), mengkritik politisi yang kerap menyalahkan orang kaya. Banyak politikus yang memandang miliarder hanya menjadi penyebab jurang kesenjangan dan ketimpangan ekonomi. Menurut Cooperman, politisi seharusnya meminta rakyat AS untuk mencontoh para miliarder, bukan menyalahkan orang superkaya.

”Saya pikir hidup saya harusnya dijadikan teladan bagi anak muda. Apa yang saya dapatkan saat ini adalah pencapaian hidup,” kata Cooperman seperti dikutip USA Today. Menurut dia, anak muda dapat meneladani kerja keras yang dilakukan miliarder. Pendiri lembaga investasi Omega Advisors itu kerap mengkritik politisi yang terlalu diskriminatif terhadap miliarder.

Orang kaya di AS hanya dijadikan objek pajak semata, bukan sebagai mitra pemerintah. Pajak yang tinggi menjadi belenggu bagi para miliarder. Padahal mereka justru menyumbangkan dana besar bagi pembangunan AS. Pada pekan lalu, Cooperman yang memiliki kekayaan USD9,2 miliar (Rp122,66 triliun) itu mengecam kandidat presiden dari Partai Demokrat Hillary Clinton.

Saat itu Hillary mengkritik pajak manajer investasi lebih rendah daripada pajak sopir truk dan perawat. Sebagai miliarder yang memiliki firma investasi, Cooperman pun sangat tersinggung. ”Saya tidak ingin orang mengotori apa yang telah saya lalukan selama hidup ini,” sindir Cooperman kepada Hillary.

”Saya mendapatkan uang sendiri. Saya akan memberikan semuanya kepada masyarakat,” tuturnya seperti dikutip CNN. Cooperman bercerita bahwa ayah dan ibunya merupakan imigran. ”Saya hidup dalam Mimpi Amerika,” tuturnya. Dia merupakan generasi pertama yang bisa menempuh pendidikan tinggi. Kesenjangan miliarder dan rakyat miskin di AS memang menjadi isu seksi dalam pemilu presiden AS.

Baik kandidat presiden dari Partai Republik maupun Partai Demokrat mengangkat isu tersebut untuk menarik suara rakyat AS. Menurut penulis buku The Buy Side, Turney Duff, miliarder harus menyiapkan ronde pertarungan berikutnya. ”Mereka harus memakai helm dan alat pelindung mulut. Mereka sudah memperkirakan itu semua,” kata Duff.

Duff tetap berpandangan bahwa krisis dan permasalahan mendasar di AS juga disebabkan para eksekutif di Wall Street dan para miliarder. ”Tidak ada seorang pun yang akan menghapus air mata seseorang yang hanya berpendapatan 600.000 dolar (Rp8 miliar) setahun,” sindir Duff. Itu menunjukkan para miliarder tidak akan mendapatkan simpati dari rakyat AS karena kekayaan mereka.

Arvin
(bbg)
Berita Terkait
Rakyat Myanmar Siap...
Rakyat Myanmar Siap Laksanakan Pemilihan Umum Minggu Ini
Polisi Italia Sita 6,6...
Polisi Italia Sita 6,6 Ton Ganja dalam Kapal Pesiar Bendera Amerika
Film Horor hingga Superhero,...
Film Horor hingga Superhero, 5 Film Indonesia Go International
Netanyahu Sebut Akan...
Netanyahu Sebut Akan Caplok 30% Wilayah Tepi Barat ke Israel
Masjid Al-Aqsa Kembali...
Masjid Al-Aqsa Kembali Dibuka Setelah Hampir 3 Bulan Ditutup
Pesawat Pakistan Jatuh,...
Pesawat Pakistan Jatuh, Kemlu Sebut Sementara Tidak Ada Korban WNI
Berita Terkini
4 Oknum Prajurit TNI...
4 Oknum Prajurit TNI Terdakwa Penyiraman Air Keras ke Andrie Yunus Hari Ini Divonis
3 Guru Besar Kedokteran...
3 Guru Besar Kedokteran Bakal Jadi Saksi Ahli Dokter Tifa
Kasus Mega Korupsi BGN...
Kasus Mega Korupsi BGN dan Kitas-Kitap
Luhut: Bansos ke Depan...
Luhut: Bansos ke Depan Tak Lagi Barang, Diberi Cash Transfer Rp5,4 Juta per Orang
Konstruksi Perkara Suap...
Konstruksi Perkara Suap Bupati Muara Enim, KPK: Ada Uang Rp500 Juta untuk Jaga Hubungan Baik
RDP di Komisi II, Dirjen...
RDP di Komisi II, Dirjen Bina Adwil Kemendagri Ungkap 5 Kunci Penataan Lahan Pasuruan
Infografis
3 Taktik Cerdas Iran...
3 Taktik Cerdas Iran untuk Kalahkan AS-Israel, Salah Satunya Perang Ala Vietnam
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved