Radikalisme Sudah Menjalar ke Profesional dan Artis

Kamis, 04 Juni 2015 - 09:38 WIB
Radikalisme Sudah Menjalar...
Radikalisme Sudah Menjalar ke Profesional dan Artis
A A A
JAKARTA - Ancaman penyebaran paham radikalisme di Indonesia kian mengkhawatirkan. Selaingenerasimuda, kinipaham yang mendasari gerakan terorisme itu sudah melebar kekalangan profesional dan selebritas.

”Ini membahayakan dan bisa dibilang mengerikan. Dari datadata yangada, mereka sudah menyasar beberapa pihak yang punya banyak simpatisanatau penggemar seperti artis. Artinya, radikalisme itu mengancamseluruh lapisan masyarakat, sehingga kita tidak boleh sekadarbertahan, tetapi harus bisa melawan dan memberantasnya,” papar WakilSekjen PB Nahdlatul Ulama (NU) H Adnan Anwar di Jakarta kemarin.

Menurut Adnan, PB NU sendiri tidak pernah berhenti untuk membendungdan melawan gerakan radikalisme, tapi harus didukung pemerintah danberbagai organisasi kemasyarakatan lain. Masalah ini sangat krusialkarena dipicu kondisi bangsa Indonesia yang belum stabil.

”Mereka sekarang membidik kalangan menengah seperti pegawai negeri,aparat TNI, Polri, bahkan petugas lembaga pemasyarakat pun ada yang terbawa paham radikalisme. Ini fakta yang tidak bisa dibantah sehingga harus ada gerakan nyata untuk melawan mereka. Saya khawatir bila dibiarkan seperti ini, artinya pemerintah tidak menyiapkan instrumen hukum yang pasti, kehidupan berbangsa dan bernegara di RepublikIndonesia ini bakal terancam,” ungkap Adnan.

Adnan mengakui, mobilisasi propaganda di kalangan menengah ini sangat kuat sehingga belakangan memang agak sulit untuk membendung pergerakan mereka, termasuk melalui media sosial. ”Ada profesor, doktor, insinyur, bahkan jurnalis. Merekalah yang justru paling berbahaya. Kalau martirmartirnya mudah diatasi,” tukas Adnan.

Di sisi lain, mantan aktivis Jamaah Islamiyah (JI) Ustad AbdurrahmanAyub meminta pemerintah menerapkan caracara pemberantasan paham radikalisme dan terorisme seperti cara-cara yang digunakan pada zaman Orde Baru.

”Di zaman Orde Baru, pelaku terorisme, seperti saya waktu itu, tidakbisa hidup dan tidur nyenyak di Indonesia. Alhasil kami harus hijrahke negara lain, seperti Malaysia, Pakistan, dan Afganistan. Bagaimanakami tidak pergi, saat itu RT atau RW bisa menjadi intel sehinggatidak ada ruang bagi terorisme untuk menjalankan kegiatannya,” imbuh dia.

Akmal/ Sindonews
(bhr)
Berita Terkait
Maria Lumowa Berhasil...
Maria Lumowa Berhasil Diekstradisi ke Indonesia, Simak Kronologis Lengkapnya
Gagal Lolos PPDB, Siswi...
Gagal Lolos PPDB, Siswi Berprestasi Peraih 700 Penghargaan Putus Sekolah
Paskah Nasional 2022...
Paskah Nasional 2022 Wujud Pemulihan Ekonomi Nasional
Hari Pelanggan Nasional...
Hari Pelanggan Nasional 2020
Libur Panjang Kenaikan...
Libur Panjang Kenaikan Isa Almasih, Ribuan Penumpang Padati Stasiun Lempuyangan Yogyakarta
BSSN Gelar Simposium...
BSSN Gelar Simposium Nasional Wujudkan Keamanan Siber Nasional
Berita Terkini
Sebut 108 UU Perlu Diubah,...
Sebut 108 UU Perlu Diubah, Cak Imin: Omnibus Law Ciptaker hingga Agraria
KPK: Sebelum Serahkan...
KPK: Sebelum Serahkan Amplop ke Menhut, Bupati Kuansing Kumpulkan SGD 46.500
PPATK Ungkap Perputaran...
PPATK Ungkap Perputaran Dana Judi Online Turun hingga Rp286,84 Triliun di Era Prabowo
Yane Bima Arya Harap...
Yane Bima Arya Harap Setiap Anak Peroleh Kasih Sayang dan Rasa Aman
90 AKBP Dapat Promosi...
90 AKBP Dapat Promosi Jabatan Jadi Kombes Pol pada Mutasi Juni 2026, Ini Namanya
Samin Tan Cs Segera...
Samin Tan Cs Segera Disidang Kasus Korupsi Tambang
Infografis
5 Alasan Perdamaian...
5 Alasan Perdamaian Amerika Serikat dan Iran Sulit Terwujud
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved