ABN Produsen Skala Global

Rabu, 20 Mei 2015 - 10:59 WIB
ABN Produsen Skala Global
ABN Produsen Skala Global
A A A
Bermodalkan pengalaman kerja sebagai manajer perusahaan Ahrend, perusahaan Belanda yang menjual peralatan laboratorium dan survei medis, Ade Tarya Hidayat pada 1980 memutuskan untuk membuat usaha sendiri sesuai keahlian dan kemampuannya. Itu menjadi pilihan ketika perusahaan tersebut gulung tikar dan Ade harus membiayai kelanjutan hidup keluarga.

Dengan biaya investasi sebesar Rp24 juta (kurs saat itu Rp650 per USD), Ade dan istrinya, Ajeng Sugiharti, berani memulai usaha sebagai distributor peralatan laboratorium dan survei medis. Modal itu pun berasal dari kantong Ade sendiri ditambah pinjaman dari saudara. Pengalaman selama kerja di bidang peralatan medis selama enam tahun membuat Ade memiliki beberapa pelanggan.

Keuntungan lain adalah Ade sudah sangat tahu apa seluk beluk yang diinginkan konsumen serta kendala menjalankan bisnis ini. “Saya punya pengalaman bagaimana mengimpor barang dan apa saja yang berhubungan dengan principal di luar negeri,” katanya. Usaha yang berada di bawah naungan CV Abadi Scientific itu terus menunjukkan perkembangan positif.

CV Abadi Scientific memiliki pelanggan-pelanggan tetap ketika itu, seperti RSCM, RS St Carolus, RS Husada, dan beberapa industri farmasi, yakni Bayer, Nestle, dan Pfizer. Pada 1990 status CV pun berubah menjadi perusahaan terbatas (PT) Abadinusa Usahasemesta (ABN).

Bahkan, produk yang didistribusikan juga berkembang mencapai ratusan alat dari berbagai merek terkenal, seperti Arkray, Buchi (Swiss), Helena Laboratories, Kinetics, Buchiglasuster, Socorex, Jouan, Radiometer, Hanson Research. Perusahaan yang terus maju membuat Ade berpikir tidak hanya menjadi importir, tapi juga menjadi produsen.

Pria kelahiran Bandung, 6 Agustus 1952, ini sempat belajar ke Lembaga Penelitian Teknologi Karet (LPTK) Bogor untuk mendalami ilmu tentang karet. Keberanian Ade dimulai dari memproduksi tensimeter sendiri. “Kini ABN masuk ke berbagai pasar, baik di Eropa dan Amerika, dengan menghasilkan produk untuk brand lain sambil tetap mencari ceruk pasar untuk masuk dengan brand sendiri,” ungkapnya.

Seiring kegiatannya dalam mengembangkan ABN, pada 1990 Ade kemudian bertemu Richter, sebuah perusahaan tensimeter terbesar di Jerman pada sebuah acara pameran alat kesehatan di sana. Perusahaan itu membutuhkan ratusan ribu unit tiap tahun. Ade kemudian bisa melihat proses quality control di pabrik tensimeter di Jepang. Sepulang dari Jepang Ade menjelaskan apa yang dia lihat kepada ahli lateks dari Lembaga Penelitian Karet Bogor.

Hasilnya, pada April 1991 dia mendirikan pabrik di Padalarang, Jawa Barat. Pabrik pertama seluas 840 m2 yang berdiri di atas tanah seluas 1.600 m2 dan menghabiskan dana Rp800 juta. Mesinmesin produksi yang terdapat di pabrik itu adalah hasil rancangan sendiri dibantu Lembaga Instrumentasi Nasional di Bandung. Awalnya Ade menjual hasil produksinya ke Jerman dan Amerika Serikat.

Lebih kurang ada 20.000 komponen tensimeter, yaitu bulb dan bladder per bulan yang dikirim ke dua perusahaan itu. Saat ini sekitar 95% tensimeter buatannya diekspor, hanya 5% yang dijual di dalam negeri. “Biasanya di sini yang laku adalah tensimeter jenis Regency. Di luar negeri, tensimeter ini kurang laku karena menggunakan merkuri,” tuturnya.

Produk yang diekspor Ade menggunakan merek sendiri, yaitu ABN. Untuk pasar dalam negeri, Ade menggunakan empat merek lain selain ABN, yaitu Fujito, Sphygmed, Onemed, dan Logos. Dalam memasarkan produknya, sejak 2002 Ade sengaja menggunakan trademark ABN .

Ade menyatakan, ABN adalah strategi brand image perusahaannya untuk mengurangi ketidakpercayaan konsumen terhadap produk lokal. Kemajuan ABN juga terus terlihat dari berhasilnya menembus pasar global. Amerika dan Jerman adalah customer terbanyak dari ABN.

Selain itu, negara yang menjadi tujuan ekspor ABN lainnya adalah Timur Tengah, Iran, Yaman, Pakistan, UEA, Bangladesh, Sri Lanka, Afrika Selatan, Nigeria, Tunisia, Maroko, Brasil, Argentina, Kolombia, Peru, dan masih banyak lagi. Kini volume ekspor ABN telah mencapai 150.000 set per bulan di 30 negara.

Dina angelina
(ftr)
Berita Terkait
Amnesty Internasional...
Amnesty Internasional Sebut TKW Mirip Lipsus Orde Baru, Bakal Merembet ke Lembaga Lain
Berita Terkini
Pigai Sebut Masyarakat...
Pigai Sebut Masyarakat Indonesia Belum Siap Terima LGBT
Ini Makna Logo HUT ke-81...
Ini Makna Logo HUT ke-81 RI yang Telah Resmi Diluncurkan
Pigai Desak Kematian...
Pigai Desak Kematian 5 Peserta SPPI Diusut Tuntas: Ini Peristiwa yang Serius
Logo HUT ke-81 RI Resmi...
Logo HUT ke-81 RI Resmi Diluncurkan, Karya Fajar Novario Asal Padang Terpilih
Roy Suryo Siapkan Rekaman...
Roy Suryo Siapkan Rekaman Video Penangkapannya sebagai Bukti Praperadilan
Korupsi MBG Kejahatan...
Korupsi MBG Kejahatan Luar Biasa, Pemerintah Diminta Berikan Hukuman Berat
Infografis
4 Perempuan yang Mengguncang...
4 Perempuan yang Mengguncang Politik Global Sepanjang 2025
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved