Memberi Nilai Tambah Pendidikan Anak

Senin, 18 Mei 2015 - 09:31 WIB
Memberi Nilai Tambah...
Memberi Nilai Tambah Pendidikan Anak
A A A
Memilih sekolah sama dengan memilihkan masa depan untuk anak, mengingat anak akan menghadapi zaman yang berbeda dengan zaman orang tua.

Tidak berlebihan jika kemudian banyak orang tua menerapkan banyak pertimbangan ketika harus memilih sekolah untuk anak mereka. Biasanya orangtua akan memilih sekolah yang mampu memberikan keamanan serta kenyamanan bagi anak saat belajar. Manajer Pengembangan Kampus Cikal Bukik Setiawan mengatakan, ada beberapa alasan utama mengapa orang tua tertarik menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah yang mengenakan biaya cukup mahal.

Di antaranya adalah perkembangan sosial ekonomi Indonesia dari tahun ke tahun yang terus meningkat. Menjawab kebutuhan masyarakat itu, beberapa lembaga pendidikan menawarkan beragam alternatif, termasuk sekolah terpadu. ”Semakin sejahtera, maka aspirasi masyarakat pun semakin tinggi. Mereka mudah tidak puas dengan pilihan sekolah biasa dan mencari sekolah yang menurut mereka bisa memberi nilai tambah dalam pendidikan anak,” jelas Bukik saat dihubungi.

Ada beberapa keunggulan yang dimiliki sekolah dengan konsep terpadu bila dibandingkan sekolah konvensional. Di antaranya adalah siswa bisa belajar lebih banyak materi pelajaran (studying), lebih banyak pilihan kegiatan ekstrakurikuler, serta pengembangan kebiasaan positif akan diperoleh lebih lama waktunya. Tapi, sebenarnya orang tua juga harus mewaspadai dampak negatif yang mungkin terjadi jika menyekolahkan anak di sekolah terpadu.

Di antaranya adalah sekolah dengan konsep ini bakal menghabiskan banyak energi anak dan berkurangnya porsi belajar alami dalam kehidupan nyata. Padahal, jam belajar yang lebih lama tidak berarti anak akan belajar lebih banyak. Apalagi, kajian Programme Internationale for Student Assesment (PISA) 2012 menunjukkan, tidak ada korelasi antara lamanya jam pelajaran dengan capaian akademis anak.

Artinya, belajar dalam durasi lebih singkat bisa sama efektifnya dengan belajar dalam durasi lebih lama. Itulah sebabnya, menurut Bukik, ada baiknya orangtua tidak menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak kepada sekolah. Orangtua harus mulai memainkan peranan dalam pendidikan anak. Salah satunya, menyediakan waktu minimal 20 menit untuk melakukan percakapan dengan anak dimalam hari.

” Tanyakan pada anak, pengalaman seru hari ini dan apa yang mau dilakukan besok. Fungsi dari percakapan ini adalah membantu anak belajar dari pengalaman sehari-hari yang sering kali lebih kaya makna dibandingkan belajar di kelas,” ucap dia. Pendidikan terpadu merupakan proses pendidikan yang memadukan pengetahuan umum dan pengetahuan agama, serta proses pembelajaran yang diwarnai nilai-nilai agama serta akhlak.

Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Raden Fatah Palembang, Afriantoni, mengatakan, meningkatnya minat masyarakat menyekolahkan anak di sekolah terpadu juga dilatarbelakangi oleh ”ketidakpuasan” terhadap pendidikan umum yang menafikkan nilai-nilai agama di sekolah. Kemudian, ketidakpuasan terhadap pesantren dan madrasah yang tidak berorientasi pada pengembangan keilmuan umum.

Untuk menjawab itu, munculkan istilah sekolah terpadu. Konsep pendidikan dengan menerapkan full day system. Menawarkan kualitas proses serta memberikan harapan lebih kepada orang tua sehinggamenjatuhkanpilihankepada sekolahtersebut. Selainitu, adafaktorkeamanan sekolah yang menjadi pilihan orang tua agar anak dipercaya ketika ditinggalkan oleh orang tua mereka di sekolah.

Berbagai kerja sama yang dilakukan manajemen sekolah terpadu dengan pihak luar negeri atau dengan lembagalembaga lain yang profesional, dapat meningkatkan mutu pendidikan di sekolah ini. Selain itu, sekolah terpadu senantiasa memberikan nilai-nilai akhlak kepada anak, dari datang sekolah sampai pulang sekolah. Budaya yang dibentuk di sekolah unggulan ini berorientasi pada belajar.

Sedangkan, sekolah umum biasa tidak menawarkan hal-hal terkait akhlak. Tetapi sebenarnya, jelas Afriantoni, di mana pun pendidikan yang diambil, bukanlah masalah. Apalagi, sebenarnya kepribadian anak harus dibentuk oleh orang tua. Peluk, cium, dan ucapan kasih sayang terhadap anak harus dilakukan oleh mereka yang bersekolah di sekolah ”biasa” ataupun sekolah terpadu.

Kemudian, anak diajak untuk memahami nilainilai yang tecermin dalam ajaran Islam di kehidupan sehari-hari. Anak-anak harus dididik untuk belajar mandiri dan berusaha menanamkan etika dan cara belajar serta mengembangkan potensi yang ada dalam diri mereka.

Hermansah
(ars)
Berita Terkait
Jabatan Apa pun yang...
Jabatan Apa pun yang Diemban, Milenial Harus Punya Integritas
Puasa di Tengah Pandemi...
Puasa di Tengah Pandemi Covid-19, Jaga Gizi Seimbang dan Berpikir Positif
iPhone Bakal Dibekali...
iPhone Bakal Dibekali Kamera Periskop di 2020
Menghadapi Ujian pada...
Menghadapi Ujian pada Hari Kemenangan
New Normal, Kebutuhan...
New Normal, Kebutuhan Alat Olah Raga Baru Meningkat
Bertahan di Tengah Pandemi,...
Bertahan di Tengah Pandemi, Pengusaha Dituntut Kreatif untuk Survive
Berita Terkini
Wamenkum: 20 DIM RUU...
Wamenkum: 20 DIM RUU Polri Bakal Dibahas Bareng DPR
2 Pengusaha Divonis...
2 Pengusaha Divonis 1,5 Tahun Penjara, Kuasa Hukum: PT KEM Korban Sistem di Kemnaker
Silmy Karim Jadi Tersangka...
Silmy Karim Jadi Tersangka KPK, Mensesneg: Kita Perang Melawan Korupsi
Pertama Dalam Sejarah,...
Pertama Dalam Sejarah, Kemenag Lantik 15 Perempuan Jadi Kepala KUA
Tak Kaget Dadan dan...
Tak Kaget Dadan dan Silmy Terjerat Kasus Korupsi, Noel: Juni-Juli Banyak Pejabat Ditangkap KPK
ASPEK Indonesia Temui...
ASPEK Indonesia Temui Pimpinan UNI Global Union di Jenewa
Infografis
5 Madrasah Tertua di...
5 Madrasah Tertua di Indonesia, Pelopor Pendidikan Islam Modern
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved