Absen Kongres Demokrat, Masalah Mega-SBY Belum Selesai
Selasa, 12 Mei 2015 - 12:49 WIB
Absen Kongres Demokrat, Masalah Mega-SBY Belum Selesai
A
A
A
JAKARTA - Ketidakhadiran Ketua Umum (Ketum) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri dalam pembukaan Kongres IV Partai Demokrat di Surabaya, Jawa Timur, dinilai sebagai tanda perseteruan antara Megawati dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), belum selesai.
Hal tersebut seperti diungkapkan pengamat politik Universitas Diponegoro, Semarang, Jawa Tengah, Budi Setiono, saat berbincang dengan Sindonews, Selasa (12/5/2015).
Budi mengatakan, konteks undangan SBY terhadap Megawati adalah bersifat institusional. Menurut Budi, persoalan pribadi antara SBY dengan Megawati tidak tepat jika hendak diselesaikan dengan jalur institusi.
"Saya melihat ada masalah personal yang belum selesai antara SBY dan Megawati. Kalau masalah bersifat pribadi kemudian diselesaikan dengan pendekatan institusional saya kira memang kurang tepat," kata Budi.
Budi lantas memaparkan ihwal konflik pribadi yang melanda dua mantan Presiden RI tersebut. Dia mengatakan, pada medio 2004, santer beredar SBY berkhianat terhadap Megawati.
Dalam isu itu, kata Budi, dikatakan Megawati bertanya kepada SBY apakah mantan menterinya itu akan mencalonkan diri menjadi Presiden pada Pilpres 2004.
"Kala itu SBY menjawab tidak. Padahal kita tahu sendiri kenyataannya (SBY mencalonkan diri dan terpilih). Hal ini menjadi sesuatu yang bersifat traumatik bagi Megawati dan hingga kini belum bisa diselesaikan," ucap Budi.
Untuk itu lanjut Budi, jika SBY ingin menyelesaikan masalah pribadi dengan Megawati, tidak cukup jika menggunakan pendekatan institusional.
"Dia harus menggunakan pendekatan personal dan menanyakan keberatan-keberatan yang menjadi kendala bagi Megawati sehingga sulit untuk menerima dan memaafkan SBY," pungkasnya.
Hal tersebut seperti diungkapkan pengamat politik Universitas Diponegoro, Semarang, Jawa Tengah, Budi Setiono, saat berbincang dengan Sindonews, Selasa (12/5/2015).
Budi mengatakan, konteks undangan SBY terhadap Megawati adalah bersifat institusional. Menurut Budi, persoalan pribadi antara SBY dengan Megawati tidak tepat jika hendak diselesaikan dengan jalur institusi.
"Saya melihat ada masalah personal yang belum selesai antara SBY dan Megawati. Kalau masalah bersifat pribadi kemudian diselesaikan dengan pendekatan institusional saya kira memang kurang tepat," kata Budi.
Budi lantas memaparkan ihwal konflik pribadi yang melanda dua mantan Presiden RI tersebut. Dia mengatakan, pada medio 2004, santer beredar SBY berkhianat terhadap Megawati.
Dalam isu itu, kata Budi, dikatakan Megawati bertanya kepada SBY apakah mantan menterinya itu akan mencalonkan diri menjadi Presiden pada Pilpres 2004.
"Kala itu SBY menjawab tidak. Padahal kita tahu sendiri kenyataannya (SBY mencalonkan diri dan terpilih). Hal ini menjadi sesuatu yang bersifat traumatik bagi Megawati dan hingga kini belum bisa diselesaikan," ucap Budi.
Untuk itu lanjut Budi, jika SBY ingin menyelesaikan masalah pribadi dengan Megawati, tidak cukup jika menggunakan pendekatan institusional.
"Dia harus menggunakan pendekatan personal dan menanyakan keberatan-keberatan yang menjadi kendala bagi Megawati sehingga sulit untuk menerima dan memaafkan SBY," pungkasnya.
(maf)