SBY Harus Hati-hati Respons Ancaman Kongres Tandingan
Selasa, 12 Mei 2015 - 11:39 WIB
SBY Harus Hati-hati Respons Ancaman Kongres Tandingan
A
A
A
JAKARTA - Aroma perpecahan membayangi pelaksanaan Kongres III Partai Demokrat yang digelar di Kota Surabaya. Sejumlah Ketua Dewan Pengurus Cabang (DPC) Demokrat yang tergabung dalam Kaukus Penyelamat Demokrat mengancam gelar Kongres Demokrat tandingan.
Hal ini merupakan buntut dari diabaikannya protes sejumlah DPC yang pemimpinnya diberhentikan secara sepihak oleh Dewan Pimpinan Pusat (DPP).
Pengamat politik Universitas Diponegoro, Semarang, Jawa Tengah, Budi Setiono mengatakan, Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) harus hati-hati dengan potensi perpecahan tersebut.
"Saya kira ke depan SBY harus lebih berhati-hati dan tidak bertindak gegabah," kata Budi saat dihubungi Sindonews, Selasa (12/5/2015).
Menurut Budi, sejumlah DPC yang tergabung dalam Kaukus Penyelamat Demokrat tersebut sebaiknya diundang dan dilibatkan ke dalam kongres partai yang sedang digelar di Kota Pahlawan.
Hal ini lanjut Budi, untuk menghindari adanya pihak atau oknum yang sengaja memanfaatkan keadaan untuk memecah belah Partai Demokrat, sebagaimana juga terjadi pada Partai Golkar dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP).
"Sebaiknya mereka diundang saja untuk memberikan masukan dan menyampaikan apa yang sebenarnya menjadi persoalan. Jangan sampai persoalan ini dimanfaatkan oleh kekuatan kekuasaan seperti persoalan yang menimpa Golkar dan PPP," ucap Budi.
Budi melanjutkan, sebagai wadah untuk berjuang, sikap DPP Partai Demokrat yang secara sepihak memecat sejumlah Ketua DPC adalah tidak tepat. Diyakini Budi, persoalan ini akan beres jika seluruh unsur di dalam partai mau berkomunikasi secara fair dan diselesaikan di depan floor.
Dalam kasus Kaukus Penyepamat Demokrat ini, Budi melihat adanya tata kelola partai yang terlalu dikuasai oleh elite dibandingkan dengan anggota di daerah. Hingga kemudian muncul pemecatan-pemecatan.
"Kalau misalnya pusat merasa kepentingannya terganggu lantaran berbeda pendapat dengan daerah, saya kira itu tidak sesuai dengan konstitusi Partai Demokrat sendiri. Jika demikian, tidak layak partai ini disebut Demokrat," tandas Budi.
Hal ini merupakan buntut dari diabaikannya protes sejumlah DPC yang pemimpinnya diberhentikan secara sepihak oleh Dewan Pimpinan Pusat (DPP).
Pengamat politik Universitas Diponegoro, Semarang, Jawa Tengah, Budi Setiono mengatakan, Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) harus hati-hati dengan potensi perpecahan tersebut.
"Saya kira ke depan SBY harus lebih berhati-hati dan tidak bertindak gegabah," kata Budi saat dihubungi Sindonews, Selasa (12/5/2015).
Menurut Budi, sejumlah DPC yang tergabung dalam Kaukus Penyelamat Demokrat tersebut sebaiknya diundang dan dilibatkan ke dalam kongres partai yang sedang digelar di Kota Pahlawan.
Hal ini lanjut Budi, untuk menghindari adanya pihak atau oknum yang sengaja memanfaatkan keadaan untuk memecah belah Partai Demokrat, sebagaimana juga terjadi pada Partai Golkar dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP).
"Sebaiknya mereka diundang saja untuk memberikan masukan dan menyampaikan apa yang sebenarnya menjadi persoalan. Jangan sampai persoalan ini dimanfaatkan oleh kekuatan kekuasaan seperti persoalan yang menimpa Golkar dan PPP," ucap Budi.
Budi melanjutkan, sebagai wadah untuk berjuang, sikap DPP Partai Demokrat yang secara sepihak memecat sejumlah Ketua DPC adalah tidak tepat. Diyakini Budi, persoalan ini akan beres jika seluruh unsur di dalam partai mau berkomunikasi secara fair dan diselesaikan di depan floor.
Dalam kasus Kaukus Penyepamat Demokrat ini, Budi melihat adanya tata kelola partai yang terlalu dikuasai oleh elite dibandingkan dengan anggota di daerah. Hingga kemudian muncul pemecatan-pemecatan.
"Kalau misalnya pusat merasa kepentingannya terganggu lantaran berbeda pendapat dengan daerah, saya kira itu tidak sesuai dengan konstitusi Partai Demokrat sendiri. Jika demikian, tidak layak partai ini disebut Demokrat," tandas Budi.
(maf)