Masih Saktikah SBY untuk Demokrat?
Selasa, 12 Mei 2015 - 05:57 WIB
Masih Saktikah SBY untuk Demokrat?
A
A
A
JAKARTA - Kongres Partai Demokrat akan dibuka pada hari ini. Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) disebut-sebut sebagai satu-satunya sosok yang berpeluang besar terpilih menjadi ketua umum untuk periode lima tahun ke depan.
Pengamat politik dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Pangi Syarwi Chaniago menyarankan Partai Demokrat untuk tidak terus menerus mengandalkan figur SBY. Menurut dia, sosok SBY dinilai sudah sulit untuk untuk mendongkrak suara Demokrat pada lima tahun ke depan.
"Figur SBY sulit untuk mendongkrak elektabilitas Demokrat. Untuk itu berhentilah mengandalkan dan ketergantungan (depedensi) terhadap figur SBY," tutur Pangi kepada Sindonews, Senin 11 Mei 2015.
Dia yakin elektabilitas SBY akan menurun pada 2019 atau tidak sekuat saat Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2004 silam. "Publik akan jenuh dengan figur lama seperti SBY," katanya.
Kendati demikian, Pangi mengakui popularitas SBY tidak dapat ditandingi oleh kader Demokrat lainnya dalam konteks pemilihan ketua umum Demokrat. "Kecuali kalau Anas Urbaningrum tidak masuk penjara. Figur Anas bisa menyalip SBY," ujar peneliti politik IndoStrategi ini.
Menurut dia, hal tersebut menunjukkan proses kaderisasi dan regenerasi di internal partai berlambang mercy lesu. Dia menilai hal tersebut sebagai kegagalan SBY dalam menahkodai Demokrat.
Dia tidak menampik kemungkinan masih adanya pendukung atau loyalis Anas di tingkat DPC dan DPD Demokrat. Menurut dia, hal wajar apabila ada pendukung SBY yang mengkhawatirkan hal tersebut.
Namun, Pangi tidak yakin loyalis Anas akan mengambil peran besar dalam kongres Demokrat. "Saya belum lihat cuaca politik ke arah itu," katanya.
Pengamat politik dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Pangi Syarwi Chaniago menyarankan Partai Demokrat untuk tidak terus menerus mengandalkan figur SBY. Menurut dia, sosok SBY dinilai sudah sulit untuk untuk mendongkrak suara Demokrat pada lima tahun ke depan.
"Figur SBY sulit untuk mendongkrak elektabilitas Demokrat. Untuk itu berhentilah mengandalkan dan ketergantungan (depedensi) terhadap figur SBY," tutur Pangi kepada Sindonews, Senin 11 Mei 2015.
Dia yakin elektabilitas SBY akan menurun pada 2019 atau tidak sekuat saat Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2004 silam. "Publik akan jenuh dengan figur lama seperti SBY," katanya.
Kendati demikian, Pangi mengakui popularitas SBY tidak dapat ditandingi oleh kader Demokrat lainnya dalam konteks pemilihan ketua umum Demokrat. "Kecuali kalau Anas Urbaningrum tidak masuk penjara. Figur Anas bisa menyalip SBY," ujar peneliti politik IndoStrategi ini.
Menurut dia, hal tersebut menunjukkan proses kaderisasi dan regenerasi di internal partai berlambang mercy lesu. Dia menilai hal tersebut sebagai kegagalan SBY dalam menahkodai Demokrat.
Dia tidak menampik kemungkinan masih adanya pendukung atau loyalis Anas di tingkat DPC dan DPD Demokrat. Menurut dia, hal wajar apabila ada pendukung SBY yang mengkhawatirkan hal tersebut.
Namun, Pangi tidak yakin loyalis Anas akan mengambil peran besar dalam kongres Demokrat. "Saya belum lihat cuaca politik ke arah itu," katanya.
(dam)