Indonesia Menjadi Raksasa Pangan Dunia, Dekan FP Unhas: Ini Syaratnya

Sabtu, 09 April 2022 - 17:53 WIB
loading...
Indonesia Menjadi Raksasa...
Indonesia sangat berpeluang untuk menjadi raksasa pangan dunia terutama padi. Pasalnya, Indonesia sebagai salah satu negara agraris terbesar di dunia memiliki sumber daya alam yang luar biasa.
A A A
JAKARTA - Indonesia sangat berpeluang untuk menjadi raksasa pangan dunia terutama padi. Pasalnya, Indonesia sebagai salah satu negara agraris terbesar di dunia memiliki sumber daya alam yang luar biasa.

Padi bagi Indonesia menjadi komoditas prioritas strategis karena menghasilkan beras, bahan pangan yang paling banyak dikonsumsi. Bahkan, beras juga menjadi sumber karbohidrat utama bagi kebanyakan negara-negara di Asia.

Kinerja produksi padi nasional selama ini menurut Dekan Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin Prof. Salengke tidak ada masalah.

"Dari aspek produksi tidak ada masalah, sistem distribusi pupuk subsidi yang termonitor secara online berkontribusi pada peningkatan produksi karena cukup tepat sasaran. Dan saya lihat, optimalisasi pemanfaatan program perluasan sawah di masa Pak Syahrul juga berkontribusi pada kinerja pertanian yang luar biasa terutama untuk sektor padi," kata Prof Salengke saat dihubungi melalui telepon, Sabtu (9/4/2022).

Ada tiga aspek dalam kaca mata Prof Salengke yang harus menjadi perhatian dalam rangka meningkatkan produksi padi sehingga Indonesia bisa menjadi raksasa pangan dunia. Pertama, penggunaan benih.

"Saya sering katakan, untuk meningkatkan produksi, salah satunya yang harus kita cari adalah benih-benih yang umurnya lebih genjah lagi. Sekarang sudah ada yang 70 hari sudah panen. Dengan begitu, siklus panen bisa 5, malah ada yang mengatakan bisa 6 kali per 2 tahun. ini artinya, bisa meningkatkan jumlah panen sampai 30 persen untuk setiap dua tahun," ujarnya.

Aspek kedua, lanjutnya adalah pada ranah budidaya. Menurutnya, masih banyak petani yang mengambil jalan mudah, tidak mau repot sehingga melakukan tabur benih langsung. Ha ini mengakbiatkan inefisiensi penggunaan benih dan anakan menjadi sulit dikontrol.

"Padahal sistem Legowo atau sistim lainnya lebih produktif. Di sinilah peran intervensi ketersedian transplanter oleh pemerintah sehingga jarak tanam dan berapa jumlah yang ditanam dalam setiap lobang bisa dikontrol," katanya.

Aspek selanjutnya adalah penerapan mekanisasi. Prof Salengke mencontohkan bahwa dengan penggunaan Combine Harvester, bukan hanya mempersingkat tapi juga mampu menekan kehilangan (losses) panen.

Namun, ia mengingatkan bahwa sektor pertanian hari ini dan masa datang menghadapi hal krusial, yaitu alih fungsi lahan pertanian produktif menjadi lahan komersil lainnya dan ketersediaan air. Jika dua hal itu tidak ditangani secara komprehensif, ke depan menurutnya akan menjadi masalah.

"Penggunaan teknologi molekuler seperti teknologi gen editing dapat menjadi solusinya. Ada Inventor dari Inggris menggunakan teknologi tersebut untuk mengembangkan padi yang tahan salinitas tinggi sehingga dapat ditanam pada lahan rawa dekat pantai. Benih yang dihasilkan mulai diuji coba di Vietnam. Indonesi-kan negara kepulauan, di sepanjang pantai itu salinitasnya tinggi, dan kalau kita berhasil mengarah ke sana, saya kira kita akan aman ke depannya," pungkasnya.

Sebelumnya, dalam beberapa pemberitaan yang mengutip data FAO menyebutkan bahwa Indonesia berdasarkan data badan pangan dunia FAO pada tahun 2018 menduduki peringkat produktivitas kedua dari 9 negara negara FAO di Benua Asia yang menghasilkan produksi beras melimpah.

Adapun urutan tingkat produktivitas tertinggi adalah Vietnam 5,89 ton per hektar, nomor dua Indonesia 5,19 ton per hektar, selanjutnya Bangladesh 4,74 ton per hektare, Philipina 3,97 ton per hektare, India 3,88 ton per hektare, Pakistan 3,84 ton per hektare, Myanmar 3,79 ton per hektare, Kamboja 3,57 ton per hektare dan Thailand 3.l,09 ton per hektare. Untuk tingkat Asia posisi produktivitas Indonesia berada di peringkat kedua setelah Vietnam. CM
(ars)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Produksi Beras Naik...
Produksi Beras Naik Sebentar
Tepis Feri Amsari, HKTI...
Tepis Feri Amsari, HKTI Sebut Kondisi Riil Stok Beras Melimpah
LBH Tani Nusantara Laporkan...
LBH Tani Nusantara Laporkan Feri Amsari ke Polda Metro Jaya
Dukung Swasembada Pangan,...
Dukung Swasembada Pangan, BRIN Jadi Dapur Riset Sinergi dengan Kementan dan Kemdiktisaintek
Prabowo: Satu Tahun...
Prabowo: Satu Tahun Jadi Presiden Berapa Kali Mau Disogok, Geleng-Geleng Kepala Saya
Kementan Bentuk 33 Balai...
Kementan Bentuk 33 Balai Besar Modernisasi Pertanian di 33 Provinsi
Ditjen Hortikultura...
Ditjen Hortikultura dan Ewindo Perluas Peran Masyarakat Kota dalam Ketahanan Pangan
Krisis Bahan Baku Plastik,...
Krisis Bahan Baku Plastik, Pemerintah Jajaki Impor Kemasan dari Malaysia hingga Rusia
Mentan Pamer Stok Beras...
Mentan Pamer Stok Beras RI 4,6 Juta Ton di Depan DPR: Ini Tertinggi Sepanjang Sejarah
Rekomendasi
Antisipasi Lonjakan...
Antisipasi Lonjakan 5,46 Juta Penumpang Libur Sekolah, InJourney Airports Hadirkan Fasilitas Ramah Keluarga
Malih Tong Tong Doakan...
Malih Tong Tong Doakan Haji Bolot Cepat Sembuh, Akui Rindu Kerja Bareng Lagi
Harga BBM Naik 37%,...
Harga BBM Naik 37%, Saatnya Percepat Adopsi Kendaraan Listrik
Berita Terkini
PKB Minta PDIP Tegas...
PKB Minta PDIP Tegas soal Posisi terhadap Pemerintah: Jangan Abu-abu
Menang Lagi di PN Jakpus,...
Menang Lagi di PN Jakpus, Putusan Hakim Tegaskan Keabsahan Tanda Tangan Ketum PPP dan Wasekjen pada SK Plt Maluku
Di Seskoau, Sjafrie:...
Di Seskoau, Sjafrie: Kepemimpinan Adaptif Penting Hadapi Tantangan Pertahanan Masa Depan
Indonesia Emas 2045...
Indonesia Emas 2045 Taruhannya: Ketika Pundak Gen Z Rapuh Tanpa Jangkar Moral
Threshold DPRD Dinilai...
Threshold DPRD Dinilai Reduksi Demokrasi Lokal, Gardian Muhammad Minta Reformasi Politik Substantif
Pengamat: Dugaan Manipulasi...
Pengamat: Dugaan Manipulasi Ekspor Minyak Sawit Harus Diusut demi Kepastian Hukum
Infografis
10 Negara dengan Cadangan...
10 Negara dengan Cadangan Emas Terbesar Dunia, AS Masih Teratas
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved