Bukan PSBB, Kota Semarang Pilih Maksimalkan Jogo Tonggo
Jum'at, 24 April 2020 - 17:18 WIB
loading...
Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi (pegang mix) saat mengikuti mengikuti rapat bersama Gubernur Ganjar Pranowo, Jumat (24/4/2020). FOTO: Dok Humas Pemprov Jateng.
A
A
A
SEMARANG - Kota Semarang belum memutuskan untuk memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi lebih memilih Jogo Tonggo untuk menahan laju penularan Covid-19 di wilayahnya. Nantinya gerakan yang berbasis tiap RW itu bakal mendapat support dari 48 tim patroli gabungan di pos pantau Jogo Tonggo.
Saat ini jumlah kasus Covid-19 di Kota Semarang merupakan yang terbesar di Jawa Tengah. Wali Kota yang akrab disapa Hendi itu menyebutkan, saat ini total pasien terkonfirmasi Covid-19 sebanyak 148. Dengan total sembuh 50, sementara 29 pasien meninggal yang terdiri dari 21 orang merupakan warga Semarang serta 8 orang warga luar kota.
Menyikapi perkembangan yang signifikan tersebut Hendi mengungkapkan secara intensif berkonsultasi dengan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, kaitannya apakah akan diberlakukan PSBB atau tidak. Salah satu hasil konsultasi itu adalah pilihan memberlakukan Jogo Tonggo, yakni pembatasan sosial nonPSBB.
"Sudah kami rapatkan Perwalkot pembatasan wilayah nonPSBB yaitu dengan model Jogo Tonggo. Hari Senin gerakan itu kita berlakukan. Dasarnya semangat kondisi tanggap bencana, yang nanti akan mengatur tempat kerja, usaha, pendidikan dan kegiatan masyarakat," kata Hendi usai mengikuti rapat bersama Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo beserta Bupati dan Wali Kota di Semarang Raya, Jumat (24/4/2020).
Dengan pemberlakuan Jogo Tonggo, Hendi menjelaskan di tingkat kelurahan dipersilakan melakukan karantina wilayah dengan portal, kalau tidak ada dari bambu atau apa saja. "Saat ini kami juga sudah melaksanakan sistem lumbung pangan kelurahan, meskipun basis kegiatannya ada di tingkat RW. Tapi ini sudah ready," katanya.
Saat ini jumlah kasus Covid-19 di Kota Semarang merupakan yang terbesar di Jawa Tengah. Wali Kota yang akrab disapa Hendi itu menyebutkan, saat ini total pasien terkonfirmasi Covid-19 sebanyak 148. Dengan total sembuh 50, sementara 29 pasien meninggal yang terdiri dari 21 orang merupakan warga Semarang serta 8 orang warga luar kota.
Menyikapi perkembangan yang signifikan tersebut Hendi mengungkapkan secara intensif berkonsultasi dengan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, kaitannya apakah akan diberlakukan PSBB atau tidak. Salah satu hasil konsultasi itu adalah pilihan memberlakukan Jogo Tonggo, yakni pembatasan sosial nonPSBB.
"Sudah kami rapatkan Perwalkot pembatasan wilayah nonPSBB yaitu dengan model Jogo Tonggo. Hari Senin gerakan itu kita berlakukan. Dasarnya semangat kondisi tanggap bencana, yang nanti akan mengatur tempat kerja, usaha, pendidikan dan kegiatan masyarakat," kata Hendi usai mengikuti rapat bersama Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo beserta Bupati dan Wali Kota di Semarang Raya, Jumat (24/4/2020).
Dengan pemberlakuan Jogo Tonggo, Hendi menjelaskan di tingkat kelurahan dipersilakan melakukan karantina wilayah dengan portal, kalau tidak ada dari bambu atau apa saja. "Saat ini kami juga sudah melaksanakan sistem lumbung pangan kelurahan, meskipun basis kegiatannya ada di tingkat RW. Tapi ini sudah ready," katanya.