Kecurangan Tes CPNS Viral, Anggota DPR Minta Diusut Tuntas

Selasa, 16 November 2021 - 21:27 WIB
loading...
Kecurangan Tes CPNS...
Anggota Komisi II DPR RI Anwar Hafid mendesak pemerintah mengusut tuntas kasus kecurangan seleksi CPNS 2021. FOTO/IST
A A A
JAKARTA - Praktik dugaan kecurangan dalam seleksi calon aparatur sipil negara ( CASN ) atau CPNS 2021 dengan modus remote access di beberapa titik lokasi mandiri instansi Pemerintah Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah, menjadi berita viral dalam beberapa hari belakangan.

Anggota Komisi II DPR RI Anwar Hafid mendesak pemerintah mengusut tuntas kasus ini. Jika nantinya ditemukan kecurangan ini secara massif, sistematis, dan terstruktur, maka Panitia Seleksi Nasional (Panselnas), dalam hal ini kepala Badan Kepegawaian Nasional (BKN), harus ikut bertanggung jawab atas terjadinya kecurangan ini.

"Kita harus tegas menerapkan sanksi, baik sanksi administrasi, hukum, baik hukum administrasi negara maupun hukum pidana. Ketiga adalah sanksi moral. Kalau di luar negeri kalau ada kejadian seperti ini ya pimpinannya harus mundur," kata Anwar Hafid, Selasa (16/11/2021).

Baca juga: 538 Pelamar CPNS Lingkup Pemkot Makassar Lanjut SKB

Politikus Partai Demokrat ini mengatakan, selama ini masyarakat sudah kadung percaya terhadap apa yang menjadi komitmen pemerintah bahwa sudah tidak ada lagi kecurangan atau percaloan dalam sistem rekrutmen CPNS.

"Kalau ini terjadi, ini mencoreng reputasi pemerintah yang selama ini kita bangga-banggakan. Untuk itu harus tegas sanksi administrasi, moral, dan bagi orang-orang yang bertanggungjawab dalam hal ini harus bertanggungjawab sepenuhnya, jangan melempar bola. Jangan menyalahkan siapapun, tapi sebagai seabuah sistem maka semua harus bertanggung jawab," kata mantan Bupati Morowali, Sulteng, dua periode ini.

Pihaknya mencurigai terjadinya dugaan kecurangan ini tidak berdiri sendiri, tapi itu dilakukan secara sistematis, terstruktur, dan massif. "Tidak mungkin, misalnya dijelaskan Kepala BKN, dicurigai ada orang yang menjawab 7 detik, jawabannya sudah ada. Secara logika tidak mungkin orang yang menggunakan joki pun tetap itu harus berfikir panjang. Ini ada indikasi soal bocor. Itu pertama, saya sangat curiga bahwa soal bocor," katanya.

Karena itu, pihaknya mendesak agar dibentuk panja atau pansus untuk mengusut tuntas kasus ini sehingga tidak muncul imej yang jelek di mata masyarakat terhadap pemerintah.

Baca juga: Anak Nia Daniaty Ditetapkan Tersangka Dugaan Penipuan CPNS

"Saya juga memberikan koreksi dalam sistem untuk menghindari hal-hal seperti ini, harus dipastikan sistem IT (teknologi informasi) yang dimiliki benar-benar aman. Kita perlu melibatkan BSSN dari awal, kemudian KPK, Kepolisian, Kejaksaaan untuk bisa bersama-sama mengawal ini," katanya.

Kedua, Anwar mengusulkan sistem rekrutmen CPNS kedepan diperbaiki. Pertama, ada regulasi yang sifatnya afirmatif luar biasa dan biasa saja. Afirmatif luar biasa yang dimaksud adalah bagaimana memberikan kesempatan kepada para tenaga honorer yang sudah bekerja begitu lama, agar bisa ikut dalam proses ini dengan standar yang tidak boleh sama dengan rekrutmen regular.

"Saya juga mengusulkan dalam sistem penerimaan ini kita mencontoh penerimaan yang perguruan tinggi. Hampir kita tidak mendengar adanya percaloan. Sekalipun juga itu mungkin dilakukan, banyak yang tidak lulus,” katanya.

Anwar juga mencurigai kenapa praktik kecurangan ini hanya terjadi di wilayah Sulawesi saja sementara di wilayah lain tidak. "Apakah di tempat-tempat lain dijamin tidak ada praktik seperti ini? Ini butuh sebuah pansus atau panja untuk mengusut tuntas sehingga kita bisa memberikan penjelasan kepada masyarakat bahwa penerimnaan CPNS kedepan dapat dipercaya sehingga masyarakat masih ingin dan mau masuk dalam sistem penerimaan CPNS ini," katanya.
(abd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
RDP di Komisi II, Dirjen...
RDP di Komisi II, Dirjen Bina Adwil Kemendagri Ungkap 5 Kunci Penataan Lahan Pasuruan
Sebut Banyak Tenaga...
Sebut Banyak Tenaga Honorer Tak Kompeten, Mendagri Singgung Titipan Pejabat Lama
Minta Masukan RUU Pemilu,...
Minta Masukan RUU Pemilu, DPR Bakal Kunjungi Parpol Parlemen dan Nonparlemen
Putusan MK soal Jakarta...
Putusan MK soal Jakarta Tetap Ibu Kota, Komisi II DPR Sebut Tak Perlu Dorong Prabowo Terbitkan Keppres IKN
Komisi II DPR Minta...
Komisi II DPR Minta Maaf Pilih Hery Susanto Jadi Ketua Ombudsman
DPR Belum Bahas Pengganti...
DPR Belum Bahas Pengganti Hery Susanto di Ombudsman
Pendaftaran Poltek SSN...
Pendaftaran Poltek SSN 2026 Segera Dibuka? Lulusan Bisa Jadi CPNS
Ingin Kerja di KAI atau...
Ingin Kerja di KAI atau Jadi CPNS? Ini 5 Kampus dengan Jurusan Perkeretaapian
Bea Cukai Bakal Buka...
Bea Cukai Bakal Buka Rekrutmen 300 CPNS Lulusan SMA Bulan Depan, Berminat?
Rekomendasi
Apa yang Ada dan Tidak...
Apa yang Ada dan Tidak Ada dalam Draf Kesepakatan Damai AS-Iran?
Tegang Sejak Pagi! 32...
Tegang Sejak Pagi! 32 Tim Terbaik Liga Bintang Juara Bersaing Menuju Jakarta
AS Juara Piala Dunia...
AS Juara Piala Dunia 2026, Jeep Siap Bagi-bagi Mobil Wrangler
Berita Terkini
Pengamat Kebijakan Publik...
Pengamat Kebijakan Publik Apresiasi Arah Baru BGN, Transparansi dan Refocusing MBG
Waka BGN Sony Sonjaya...
Waka BGN Sony Sonjaya Ajukan Justice Collaborator, Kejagung Bakal Periksa Pekan Depan
Penampakan Andri Mulyono...
Penampakan Andri Mulyono Pakai Rompi Tahanan usai Jadi Tersangka Baru Pengadaan Motor Listrik BGN
Kejagung: Tersangka...
Kejagung: Tersangka Andri Mulyono Mark up Pengadaan Motor Listrik BGN
Tepis Isu Menguntungkan...
Tepis Isu Menguntungkan Kapolri, Pakar: UU Polri Baru Berpihak pada Kepentingan Publik
Refly Harun Pertanyakan...
Refly Harun Pertanyakan Nasib Kasus Roy Suryo Cs: Sudah 30 Kali Wajib Lapor, Kasus Belum Jelas
Infografis
Profil Rahayu Saraswati,...
Profil Rahayu Saraswati, Keponakan Prabowo yang Mundur dari DPR
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved