Jejak Teuku Muhammad Hasan, Gubernur Pertama Sumatera yang Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional
Jum'at, 12 November 2021 - 12:30 WIB
loading...
A
A
A
Teuku Muhammad Hasan mendapatkan gelar Meester in de Rechten (Master of Laws) tahun 1933. Dia kemudian kembali ke Indonesia. Begitu tiba di Pelabuhan Ulee Lheue, Kutaraja, buku-bukunya disita untuk diperiksa karena dicurigai terdapat buku paham pergerakan yang akan membahayakan pemerintah kolonial Belanda, khususnya di Aceh.
Selama di Kutaraja, dia menjadi pegiat di bidang agama dan pendidikan. Di bidang agama, ia bergabung dengan Muhammadiyah. Dia juga aktif dalam dunia pendidikan, antara lain turut memelopori berdirinya organisasi Atjehsche Studiefonds (Dana Pelajar Aceh) yang bertujuan membantu anak-anak Aceh yang cerdas namun tidak memiliki biaya sekolah.
Baca juga: 5 Film Karya Usmar Ismail, Sutradara yang Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional
Aktivitas kependidikan Hasan yang lain ialah mendirikan Perguruan Taman Siswa di Kutaraja pada 11 Juli 1937. Dalam kepengurusan lembaga yang diprakarsai Ki Hajar Dewantara ini, Hasan menjadi ketua, sementara Teuku Nyak Arief menjadi sekretaris.
Dalam waktu relatif singkat, Hasan dan pengurus Taman Siswa di Kutaraja berhasil membuka empat sekolah Taman Siswa di Kutaraja. Berkat pengalaman di bidang pendidikan tersebut, Hasan memutuskan pergi ke Batavia dan bekerja sebagai pengawai di Afdeling B, Departemen Van Van Onderwijsen Eiredeienst (Departemen Pendidikan). Pada tahun 1938, Hasan kembali lagi ke Medan untuk bekerja pada Kantor Gubernur Sumatera sampai tahun 1942. Pada era penjajahan Jepang ini, antara tahun 1942 sampai 1945, Hasan tetap berada di Medan dan bekerja di sejumlah tempat.
Ketika Jepang hendak angkat kaki dari Aceh tahun 1945, Hasan merupakan salah satu tokoh Aceh yang bersedia bergabung dengan para nasionalis di Jakarta. Pada 7 Agustus 1945, Teuku Muhammad Hasan dipilih menjadi anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).
Selama di Kutaraja, dia menjadi pegiat di bidang agama dan pendidikan. Di bidang agama, ia bergabung dengan Muhammadiyah. Dia juga aktif dalam dunia pendidikan, antara lain turut memelopori berdirinya organisasi Atjehsche Studiefonds (Dana Pelajar Aceh) yang bertujuan membantu anak-anak Aceh yang cerdas namun tidak memiliki biaya sekolah.
Baca juga: 5 Film Karya Usmar Ismail, Sutradara yang Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional
Aktivitas kependidikan Hasan yang lain ialah mendirikan Perguruan Taman Siswa di Kutaraja pada 11 Juli 1937. Dalam kepengurusan lembaga yang diprakarsai Ki Hajar Dewantara ini, Hasan menjadi ketua, sementara Teuku Nyak Arief menjadi sekretaris.
Dalam waktu relatif singkat, Hasan dan pengurus Taman Siswa di Kutaraja berhasil membuka empat sekolah Taman Siswa di Kutaraja. Berkat pengalaman di bidang pendidikan tersebut, Hasan memutuskan pergi ke Batavia dan bekerja sebagai pengawai di Afdeling B, Departemen Van Van Onderwijsen Eiredeienst (Departemen Pendidikan). Pada tahun 1938, Hasan kembali lagi ke Medan untuk bekerja pada Kantor Gubernur Sumatera sampai tahun 1942. Pada era penjajahan Jepang ini, antara tahun 1942 sampai 1945, Hasan tetap berada di Medan dan bekerja di sejumlah tempat.
Ketika Jepang hendak angkat kaki dari Aceh tahun 1945, Hasan merupakan salah satu tokoh Aceh yang bersedia bergabung dengan para nasionalis di Jakarta. Pada 7 Agustus 1945, Teuku Muhammad Hasan dipilih menjadi anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).
Lihat Juga :