Sandiaga Berpeluang Dampingi Airlangga, Ini Alasan dan Syaratnya
Sabtu, 16 Oktober 2021 - 13:11 WIB
loading...
A
A
A
"Tergantung Sandi (mau keluar dari Gerindra atau tidak). Gerindra juga belum ada keputusan resmi Capres 2024. Hanya kader yang ingin Prabowo tetap maju, tapi prabowo belum merespons siap maju atau tidak," jelasnya.
Terkait status Sandiaga yang berasal dari etnis luar Jawa, tepatnya keturunan Bugis, Gorontalo, Sulawesi Selatan, Prayitno mengakui, komposisi geografi Jawa non Jawa masih populer dalam langgam politik Indonesia. Hal itu menjadi bagian politik representasi politik tanah air yang tak pernah hilang.
Meski dalam praktiknya, Jawa dan non Jawa dalam beberapa Pilpres tidak relevan. Misalnya periode kedua SBY dan Jokowi, di mana wakilnya juga berasal dari suku Jawa.
"Jawa non Jawa itu juga bagian strategi politik untuk meraih dukungan dari zona berbeda. Tapi kalau calonnya kuat, komposisi Jawa non Jawa enggak penting lagi macam SBY dan Jokowi periode kedua," tuturnya.
Sebelumnya, pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Wasisto Raharjo Jati mengatakan, faktor kesukuan formasi ideal untuk menjadi pemimpin di Indonesia.
"Karena hal itu juga menunjukkan keseimbangan dan stabillitas relasi antara Jawa sebagai mayoritas dan non Jawa sebagai minoritas," ujar Wasisto.
Terkait status Sandiaga yang berasal dari etnis luar Jawa, tepatnya keturunan Bugis, Gorontalo, Sulawesi Selatan, Prayitno mengakui, komposisi geografi Jawa non Jawa masih populer dalam langgam politik Indonesia. Hal itu menjadi bagian politik representasi politik tanah air yang tak pernah hilang.
Meski dalam praktiknya, Jawa dan non Jawa dalam beberapa Pilpres tidak relevan. Misalnya periode kedua SBY dan Jokowi, di mana wakilnya juga berasal dari suku Jawa.
"Jawa non Jawa itu juga bagian strategi politik untuk meraih dukungan dari zona berbeda. Tapi kalau calonnya kuat, komposisi Jawa non Jawa enggak penting lagi macam SBY dan Jokowi periode kedua," tuturnya.
Sebelumnya, pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Wasisto Raharjo Jati mengatakan, faktor kesukuan formasi ideal untuk menjadi pemimpin di Indonesia.
"Karena hal itu juga menunjukkan keseimbangan dan stabillitas relasi antara Jawa sebagai mayoritas dan non Jawa sebagai minoritas," ujar Wasisto.
Lihat Juga :