Sinergi Pusat dan Daerah Dibutuhkan untuk Pulihkan Pandemi Corona

Rabu, 17 Maret 2021 - 08:24 WIB
loading...
Sinergi Pusat dan Daerah...
BPPN berpandangan bahwa, kondisi Indonesia selama terdampak virus Corona (Covid-19) pertumbuhan ekonomi sudah mengalami kontraksi sepanjang tahun 2020. Foto/SINDOnews/Ilustrasi
A A A
JAKARTA - Direktur Perencanaan Makro dan Analisis Statistik, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/ Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BPPN), Eka Chandra Buana berpandangan kondisi Indonesia selama terdampak virus Corona (Covid-19) pertumbuhan ekonomi mengalami kontraksi sepanjang tahun 2020.

Baca juga: Pandemi Covid-19 Gerus Penjualan Sepeda Motor di Jawa Timur

Kondisi yang sama dialami mayoritas negara di seluruh dunia. Meskipun Pemerintah Pusat telah menyiapkan beberapa skenario pemulihan kondisi perekonomian Indonesia, namun penurunan pertumbuhan ekonomi sebesar 2.07 persen tidak dapat dihindarkan.

Pandangan itu mengemuka dalam webinar "Perencanaan Pemerintah Pusat dan Daerah di Masa Pandemi Covid-19" yang digelar oleh Magister Ekonomi Terapan, Universitas Padjajaran. Narasumber lain Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Garut, Agus Ismail. Adapun jalannya diskusi dipandu oleh Ketua Program Studi Magister Ekonomi Terapan, Universitas Padjadjaran, Bayu Kharisma.

Baca juga: Tularkan Semangat Hadapi Masa Pandemi, Michelle Liu Rilis Single 'Imanku Bertahan'

Eka Chandra mengatakan konsumsi masyarakat secara keseluruhan juga mengalami penurunan, kecuali konsumsi pada komponen pengeluaran kesehatan, pendidikan, makanan dan minuman selain restoran, dan perlengkapan rumah tangga yang masih tumbuh positif antara 0.51-3.09 persen sepanjang tahun 2020.

"Sementara dari sisi produksi, hanya sektor jasa kesehatan, industri farmasi, dan informasi komunikasi yang mengalami peningkatan pertumbuhan antara 9.39-11.6 persen," kata Eka Chandra sebagaimana keterangan pers di Jakarta, Rabu (17/03/2021).

Baca juga: Peran UKS Didorong Tingkatkan Kesehatan Siswa di Tengah Pandemi

Eka Chandra menambahkan dari sisi regional, pertumbuhan ekonomi hanya dialami oleh kawasan Indonesia timur (Sulawesi, Maluku, dan Papua). Dunia usaha juga mengalami dampak buruk dari pandemi yang menyebabkan lebih dari 80 persen usaha mengalami penurunan pendapatan, dengan dampak terbesar penurunan dialami oleh kategori usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

"Pada akhirnya, kondisi ekonomi tersebut juga berdampak pada meningkatnya jumlah pengangguran di Indonesia sebanyak 2.6 juta orang, dengan jumlah penganggur terbanyak ada pada kawasan Jawa dan Bali," imbuhnya.

Menurut Eka Chandra, prioritas kebijakan Pemerintah Pusat tetap berfokus pada penanganan kesehatan yang secara langsung juga diharapkan dapat memulihkan ekonomi dengan cepat dan terukur.

Untuk jangka pendek, Pemerintah Pusat akan berfokus pada pengendalian pandemi, melalui pengetatan penerapan protokol kesehatan masyarakat, peningkatan sarana dan kapasitas kesehatan, dan menggerakkan stimulus fiskal melalui program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) dengan akselerasi dan perluasan bantuan sosial, dan akselerasi belanja pemerintah, termasuk belanja modal.

Di sisi lain, Pemerintah Pusat juga terus mendorong perluasan investasi. Sementara pada jangka menengah dan panjang, Pemerintah saat ini sedang menyusun rancangan kembali transformasi ekonomi agar mengembalikan jalur perkembangan ekonomi pada tempatnya.

"Untuk itulah, rencana kerja tersebut membutuhkan koordinasi dari mulai perencanaan hingga implementasi dan sinergi antar pelaku sektor wilayah dan antar tingkat pemerintahan baik di Pusat maupun Daerah," kata ia.

Sementara itu, Agus Ismail menyatakan bahwa kondisi nasional sama juga yang dialami di Kabupaten Garut. Beberapa indikator pembangunan di Kabupaten Garut sepanjang tahun 2019-2020 mengalami pertumbuhan negatif.

Indeks Pembangunan Manusia di Kabupaten Garut di tahun 2020 mengalami penurunan 0.1 poin dari tahun sebelumnya. Angka pengangguran juga meningkat di tahun 2019 sebanyak 8.53 persen dari tahun sebelumnya. Jumlah penduduk miskin bertambah sekitar 1 persen di tahun 2020 dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

"Di tahun 2019, laju pertumbuhan ekonomi dan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) masih menunjukkan pertumbuhan yang positif. Namun demikian, angka pertumbuhan ini diprediksi mengalami penurunan untuk tahun 2020 dikarenakan menurunnya pendapatan sektor pariwisata yang merupakan salah satu sektor penopang ekonomi di Kabupaten Garut," terang Agus.

Strategi kebijakan pemulihan dampak Covid-19 di Kabupaten Garut akan berfokus pada peningkatan kapasitas dan sarana prasarana kesehatan dan beberapa kebijakan pemulihan ekonomi seperti pemberian stimulus bagi UMKM, fasilitasi keringanan pajak daerah, dan bantuan sosial.

"Kami berharap dengan sejalannya kebijakan daerah dengan kebijakan Pemerintah Pusat, penanganan Covid-19 di Indonesia akan segera teratasi dengan baik dan kondisi perekonomian Indonesia akan pulih secepatnya," tukasnya.
(maf)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Wamendagri: Kepemimpinan...
Wamendagri: Kepemimpinan Adaptif dan Inovatif di Daerah Sangat Penting
Prabowo Minta Kampus...
Prabowo Minta Kampus Bentuk Tim Bantu Pemda Selesaikan Masalah di Daerah
Buntut Kasus Daycare...
Buntut Kasus Daycare di Yogyakarta, DPR Desak Pemda Evaluasi Izin Seluruh Tempat Titip Anak
Mendagri dan Kepala...
Mendagri dan Kepala BPOM Dorong Pemda Perkuat Pengawasan Obat dan Makanan
Kemendagri Apresiasi...
Kemendagri Apresiasi Inovasi Pemda Turunkan Angka Pengangguran
Legislator PDIP Soroti...
Legislator PDIP Soroti Ancaman PHK PPPK Akibat Pembatasan Belanja Pemda
Kemendagri Sebut Transformasi...
Kemendagri Sebut Transformasi BUMD sebagai Lokomotif Ekonomi Daerah
Mengukur Kunci Sukses...
Mengukur Kunci Sukses Daerah, RGSS Resmi Hadir
Kolaborasi Bulog Cirebon...
Kolaborasi Bulog Cirebon dan Pemda Jaga Inflasi di Tengah Ketidakpastian Global
Rekomendasi
Netanyahu Keras Kepala,...
Netanyahu Keras Kepala, Israel Tak akan Mundur dari Lebanon Selatan
Langkah Mengejutkan,...
Langkah Mengejutkan, Partai Komunis Kuba Bersedia Buka Ekonomi Menuju Pasar Bebas
Rupiah Hari Ini Masih...
Rupiah Hari Ini Masih Terseok-seok ke Posisi Rp17.804 per Dolar AS
Berita Terkini
Di Hadapan Mahasiswa,...
Di Hadapan Mahasiswa, Dasco Telepon Nanik dan Bahlil
Asosiasi Dosen Ilmu...
Asosiasi Dosen Ilmu Hukum dan Kriminologi Indonesia: Jokowi Apresiasi UU Polri Baru
Dukung Penangkapan Roy...
Dukung Penangkapan Roy Suryo dan Dokter Tifa, Peradi Bersatu Minta Polisi Tak Tunduk Tekanan Opini Publik
Biogas, Energi Terbarukan...
Biogas, Energi Terbarukan sebagai Upaya Mencapai Target Net Zero Emission
Refly Harun Ungkap Dokter...
Refly Harun Ungkap Dokter Tifa Pakai Baju Tahanan atas Kesadaran Sendiri: Biar Dunia Tahu Kalau Kezaliman Terjadi
Jokowi dan PSI Dinilai...
Jokowi dan PSI Dinilai Satu Paket Politik, Ini Temuan Survei LPI
Infografis
India Gunakan S-400...
India Gunakan S-400 Rusia dan Drone Israel untuk Lawan Pakistan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved