Kunjungan Prabowo ke Amerika Bagian dari Diplomasi Pertahanan, Bukan Cari Dukungan Pemilu
Senin, 26 Oktober 2020 - 09:34 WIB
loading...
Pengamat militer Susaningtyas Kertopati. Foto/Istimewa
A
A
A
JAKARTA - Pengamat militer Susaningtyas Kertopati menilai, kunjungan kerja Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto ke Amerika Serikat beberapa waktu lalu sebagai bagian dari diplomasi pertahanan untuk mempertahankan hubungan bilateral kedua negara, seperti layaknya telah dilakukan oleh para Menhan sebelumnya.
Menurutnya, kunjungan kerja tersebut sama sekali tidak dimaksudkan untuk mencari dukungan negara lain dalam proses pemilu karena Indonesia merupakan negara demokratis yang berdaulat. Nuning mengatakan, sejak awal kemerdekaan Indonesia tahun 1945, pemerintah Amerika Serikat sangat menghormati kedaulatan Indonesia.
"Sikap politik resmi pemerintah Amerika Serikat menerima kunjungan kerja Menhan Prabowo merupakan sinyal politik yang kuat dari pemerintah Amerika Serikat menilai proses demokratisasi di Indonesia tanpa intervensi dari pihak-pihak tertentu yang memiliki niat kurang baik dengan mengusung isu-isu pelanggaran HAM," ujar Nuning, Senin (26/10/2020).
Mantan anggota Komisi I DPR RI ini menambahkan, Indonesia menganut politik luar negeri bebas-aktif. Indonesia bebas menjalin hubungan dengan Amerika Serikat dan China sekaligus secara berimbang tanpa ada tekanan apa pun.
(Baca juga: Diterima Amerika Serikat, Prabowo Diyakini Bisa Jadi Presiden 2024 ).
Menurutnya, kunjungan kerja tersebut sama sekali tidak dimaksudkan untuk mencari dukungan negara lain dalam proses pemilu karena Indonesia merupakan negara demokratis yang berdaulat. Nuning mengatakan, sejak awal kemerdekaan Indonesia tahun 1945, pemerintah Amerika Serikat sangat menghormati kedaulatan Indonesia.
"Sikap politik resmi pemerintah Amerika Serikat menerima kunjungan kerja Menhan Prabowo merupakan sinyal politik yang kuat dari pemerintah Amerika Serikat menilai proses demokratisasi di Indonesia tanpa intervensi dari pihak-pihak tertentu yang memiliki niat kurang baik dengan mengusung isu-isu pelanggaran HAM," ujar Nuning, Senin (26/10/2020).
Mantan anggota Komisi I DPR RI ini menambahkan, Indonesia menganut politik luar negeri bebas-aktif. Indonesia bebas menjalin hubungan dengan Amerika Serikat dan China sekaligus secara berimbang tanpa ada tekanan apa pun.
(Baca juga: Diterima Amerika Serikat, Prabowo Diyakini Bisa Jadi Presiden 2024 ).
Lihat Juga :